
DUKUNG KPK: Bambang Widjojanto semasa menjadi wakil ketua KPK.
Pengajuan hak angket merupakan salah satu bentuk pelemahan terhadap KPK. Itu sekaligus menjadi tantangan tersendiri dalam penegakan hukum kasus korupsi di tanah air. Berikut sebagian kisah Bambang Widjojanto semasa menjadi pimpinan KPK dalam menghadapi berbagai bentuk pelemahan tersebut.
Thoriq S. Karim, Surabaya
LEBIH dari 100 mahasiswa berbagai fakultas dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapat pencerahan betapa peliknya penegakan hukum, khususnya kasus korupsi, dari Bambang Widjojanto. Mantan wakil ketua KPK itu membagi pengalamannya dalam sebuah buku bertema Berani Melawan Korupsi yang dibedah di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa Rabu(3/5).
Bambang menyatakan, pimpinan KPK yang menjadi elemen penting dalam pemberantasan korupsi saat itu tidak bisa hidup tenang di Indonesia. Maklum, mereka harus menghadapi berbagai upaya pelemahan terhadap lembaga tersebut. Hampir setiap saat selalu saja ada tindakan dari berbagai pihak untuk membuat KPK tidak bisa berbuat banyak. ”Tapi, saya bersyukur, dukungan masyarakat terhadap KPK luar biasa,” katanya.
Semua pengalaman yang dilewatinya semasa menjabat wakil ketua KPK dituangkan dalam buku tersebut. Baik pada masa penyidikan tanpa hambatan maupun pada saat KPK mendapat ancaman. Bambang menceritakan kisah itu sebagai gambaran kepada masyarakat bahwa tantangan menjadi penegak hukum dalam bidang korupsi sangat berat. ”Tapi, saya bisa melewati dan tidak pantang menyerah,” ungkap dia.
Dia lantas mencontohkan saat kantor KPK diserbu orang tak dikenal pada suatu malam. Kala itu, Bambang baru saja tiba dari luar kota. Dia ingin kembali ke rumah setelah beberapa hari tidak bertemu keluarga. Dalam perjalanan menuju rumah, pria kelahiran Jakarta itu mendapat telepon dari kantor dan diminta segera merapat. Arah perjalanan berubah. ”Saat saya sampai kantor, sudah ada ratusan orang yang ingin membubarkan KPK,” ujarnya. Dia mengaku heran dengan kehadiran orang-orang tersebut. Sebab, aspirasi yang disampaikannya bertolak belakang dengan dukungan mayoritas masyarakat.
Pengalaman seperti itu sering terjadi. Sebagian jarang dipublikasikan. Oleh sebab itu, Bambang meyakini bahwa buku tersebut bisa memberi pemahaman sekaligus tantangan bagi mereka yang hendak berkiprah menjadi penegak hukum. Dia berharap generasi muda bangkit setelah membaca buku itu. ”Negara ini butuh pemuda yang memiliki komitmen dalam menegakkan hukum,” tegas dia.
Bedah buku tersebut juga menghadirkan dua panelis dari Unesa. Yakni, dosen sosiologi hukum Unesa Agus Mahmud Fauzi dan dosen sosiologi korupsi F.X. Sri Sadewo. Keduanya memberi catatan terhadap buku yang ditulis Bambang. Misalnya, Agus yang menilai tarik-menarik kepentingan politis selalu mewarnai kebijakan dalam menetapkan penegak korupsi. ”Pertanyaan itu belum dijawab dalam buku ini,” katanya.
Menurut dia, Bambang perlu mengulas masalah politik yang selalu ikut campur di semua lini. Misalnya, memilih pimpinan KPK harus melalui persetujuan legislatif. Gambaran itu menunjukkan bahwa lembaga pemberantas korupsi masih di bawah legislatif. ”Kekuatannya tidak mendominasi,” ucapnya.
Meski begitu, Agus mengapresiasi curahan hati Bambang selama menjabat wakil ketua KPK. Buku tersebut dianggapnya sebagai buku harian Bambang yang ditulis pada masa pensiunnya. ”Catatan yang saya sampaikan hanya penilaian untuk menambah kesempurnaan buku tersebut,” ungkapnya.
Bambang sangat berterima kasih atas catatan yang disampaikan panelis dalam forum tersebut. Dia mengakui banyak kisah yang belum dituangkan dalam tulisan itu. (riq/c6/agm)

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
