Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 April 2017 | 04.31 WIB

Suhan Efendi, 10 Tahun Menjadi Operator ”Ambulans” Laut Khusus Jenazah

AMBULANS JENAZAH: Perahu milik Suhan meluncur dari Gresik ke Bawean dengan membawa jenazah. - Image

AMBULANS JENAZAH: Perahu milik Suhan meluncur dari Gresik ke Bawean dengan membawa jenazah.


Sepuluh tahun menjadi pengangkut jenazah dengan perahu, hati Suhan merasakan suka-duka. Bukan soal berapa imbalan jasanya. Amalan jenazah semasa di dunia juga terasa selama perjalanan.





CHUSNUL CAHYADI





SEBUAH perahu kayu meluncur dari Pelabuhan Gresik. Layar belum terkembang. Suhan Efendi tampak minum air dalam botol plastik. Lelaki 58 tahun itu berjalan ke lambung perahunya yang berukuran 13 meter dan lebar 2,4 meter. Dia mulai bertugas sebagai juru mudi perahu ambulans khusus jenazah.



Sebelum berangkat, dia melongok lubang seukuran peti jenazah di lambung perahu. ”Ini tempat khusus untuk peti agar tidak bergerak. Kapan ada gelombang, kita kan tidak tahu,” terang bapak lima anak warga Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, itu Selasa (25/4).



Suhan biasanya bekerja dengan dua asisten. Pekerjaan tersebut dialokoni sejak 2007 atau sepuluh tahun lalu. Selepas pulang kampung dari merantau di Johor Bahru, Malaysia, sejak 1982. Suami Suhaibatul Aslamiyah itu adalah keturunan ”blasteran” Madura dan Bawean.



Keluarganya hidup serba kecukupan sebelum sebuah kecelakaan terjadi. Waktu itu Suhan bepergian dengan motor dari Malaysia ke Singapura. Motornya celaka di kawasan Bukit Timah Sepuluh, Singapura, pada 12 Desember 1984. Akibatnya, kaki kiri mulai lutut ke bawah diamputasi.



”Waktu itu biayanya Rp 159 jutaan,” ungkap lelaki bertubuh kekar itu. Suhan memutuskan balik kampung. Dia menetap di Bawean sebagai nelayan. Dia tidak menggunakan kaki palsu karena pekerjaannya tidak menuntut itu. Istri dan anaknya pun ikhlas menerima.



Bagaimana bisa membuka jasa perahu jenazah? Awalnya dari permintaan tolong seorang kerabat. Pada 2007 seorang ABK kapal Timur Tengah meninggal saat bekerja. Keluarganya ingin jenazah dipulangkan ke Bawean. Waktu itu, lanjut Suhan, kapal penyeberangan tidak diperbolehkan membawa jenazah dalam perjalanan sepanjang 80 mil laut itu.



Mulanya, Suhan menolaknya dengan halus. Dia mengaku tidak berani. ”Carilah orang yang lebih berani di laut,” katanya. Kerabat itu tidak bisa memaksa. Mereka mencari orang lain. Ujung-ujungnya, keluarga mayit balik minta tolong lagi. ”Saya nggak kuat bayar. Mereka minta ongkos mahal sekali,” ungkap Suhan menirukan kerabatnya itu.



Hati Suhan berkecamuk: menerima atau menolak. Bila menerima, dia bisa menolong orang. Sebaliknya, jika menolak, Suhan merasa tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Suhan pun akhirnya memutuskan mau membawa mayat ABK tersebut.



Perahu Suhan tentu saja kalah cepat jauh bila dibandingkan dengan kapal penyeberangan. Kapal Express Bahari 8C hanya butuh 3–4 jam dari Gresik ke Bawean. Suhan dengan perahunya harus menempuh jarak 80 mil dalam 10 hingga 13 jam. Pergi-pulang secara matematis 26 jam. ”Butuh solar 100 sampai 105 liter,” katanya. Batin Suhan puas begitu tugas selesai. Keluarga duka senang dan tenang. Suhan diberi imbalan Rp 9 jutaan.



Pekerjaan itu, boleh dikata, bukanlah andalan utama Suhan. Sebab, jasa membawa jenazah bisa ada sebulan sekali, sebulan dua kali, bisa pula sepekan dua kali. ”Sudah sepuluh tahun, lupa berapa kali ya ngangkut jenazah,” ungkap lelaki lulusan SD itu.



Yang diingat Suhan justru cerita dan hikmah di balik pekerjaan tersebut. Suatu saat dia mengalami kesukaran di tengah laut. Baling-baling tersangkut kain hingga patah. Menabrak jaring sering. Perahu pun terombang-ambing di tengah samudra.



Suhan dan dua orang rekan memperbaikinya agar bisa melanjutkan perjalanan. Tidak peduli cuaca baik atau buruk. Ombak tenang atau sampai 5 meter pernah dialaminya. ”Pokoknya, positif disuruh (menjemput jenazah, Red), yaberangkat,” katanya.



Biasanya dia punya firasat khusus selama perjalanan. Apa itu? Kadang-kadang perjalanan laut itu begitu lancar. Tidak ada kendala apa-apa. Bahkan, waktunya pun lebih cepat. Cukup 11 jam. ”Setelah sampai, saya tahu dari keluarganya kalau jenazah itu orang sangat baik,” ungkapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore