Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 April 2017 | 03.35 WIB

Tergila-gila Rubik ala Ayah-Anak, Kusnamto S. dan Elliot Yahya S.

UTAK-ATIK: Dengan mata tertutup, Kusnamto Sugondo bermain rubik bersama Elliot Yahya Sugondo, anaknya. - Image

UTAK-ATIK: Dengan mata tertutup, Kusnamto Sugondo bermain rubik bersama Elliot Yahya Sugondo, anaknya.


Mata Kusnamto Sugondo sudah bermasalah saat dia masih sangat muda. Namun, keterbatasan pandangan itu dilawannya dengan memori dan niat yang kuat. Kini, dia pun menjadi jagoan rubik, teka-teki kubus, itu. Ilmu yang juga dimiliki Elliot Yahya Sugondo, anaknya.





ASA WISESA BETARI





SEJAK ditemukan Ernő Rubik pada 1974, rubik mengisi masa kecil anak-anak. Bahkan, tak sedikit yang kecanduan dengan tantangan permainan yang mengasah otak dan motorik itu. Hingga dewasa.



Kus, sapaan akrab Kusnamto Sugondo, masih ingat betul saat dirinya tergila-gila pada rubik. Dia mengenal teka-teki kubus tersebut saat umurnya masih 6 tahun.



Kala itu, rubik memang menjadi permainan yang populer di kalangan rekan-rekannya. Rubik selalu berada di tasnya. Bahkan, dia membawanya saat bersekolah. Ketika waktu senggang, tangannya sudah gatal untuk mengeluarkan dan mengutak-atik rubik.



Saat itu hanya ada satu jenis rubik. Yakni, 3 x 3 x 3 atau yang akrab disebut Magic Box3 x 3 x 3. ”Saya paling unggul di antara teman-teman,” ucapnya.



Kus lahir dan tumbuh di Pekalongan. Masa kecilnya diisi dengan kegiatan selayaknya anak-anak seusianya. Bermain dan belajar. Walaupun punya hobi, sekolah tetap menjadi prioritas. Itulah yang selalu ditanamkan orang tuanya. Karena itu, tak heran, Kus menjadi salah seorang anak yang berprestasi di sekolah. Setidaknya, dia kerap masuk peringkat 10 besar.



Menginjak usia 9 tahun, Kus merasakan ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Tiba-tiba pandangannya menjadi agak buram, lalu kembali normal.



”Namanya anak kecil, ya buram-buram dikit dibiarin. Tapi, lama-lama mengganggu,” tuturnya. Akhirnya, Kus mengeluh kepada orang tuanya.



Respons cepat dilakukan orang tuanya dengan membawa Kus ke dokter mata. ”Dokter sempat bingung. Ketika saya diperiksa menggunakan alat tes mata minus, kok nggak bisa. Bahkan, diganti lensa minus berapa pun masih buram,” terangnya.



Kemudian, dokter merujuk Kus ke Rumah Sakit Mata AINI Jakarta. Menurut Kus, dokter spesialis mata yang memeriksa saat itu mengatakan bahwa kasus yang dialaminya jarang sekali terjadi. Obatnya tidak ada. ”Juga, tidak ada tindakan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kelainan ini,” jelas pria kelahiran 14 Juli 1974 tersebut.



Dia divonis menderita degenerasi makular, yakni kondisi medis kronis karena kerusakan makula atau bagian tengah retina. Hal tersebut membuat penderita kehilangan penglihatan sentral. Semakin lama, penglihatannya semakin buruk. ”Gelap. Cuma terlihat bentuk atau wujud saja dan tidak bisa detail,” jelasnya.



Karena kondisi tersebut, Kus sulit menjalani aktivitas keseharian. Kelainan itu juga memutuskan hubungan mesranya dengan rubik.



Yang terdampak paling besar adalah sekolah. Kus hanya mengandalkan pendengaran ketika guru mengajar. Dia tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Dia pun harus berusaha keras mengikuti pelajaran dengan belajar sendiri dengan menggunakan buku paket.



Caranya, Kus membaca buku dengan jarak yang sangat dekat dengan mata, sekitar 10 sentimeter. ”Untung, teman saya baik. Dia mau membacakan semua yang tertulis di papan tulis,” tambahnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore