Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 April 2017 | 03.45 WIB

Fussion Jazz Community Getol Kampanyekan Gerakan Antinarkoba

KOMPAK: Ucok (lima dari kiri) saat tampil bersama FJC di depan Museum Surabaya Sabtu (8/4). - Image

KOMPAK: Ucok (lima dari kiri) saat tampil bersama FJC di depan Museum Surabaya Sabtu (8/4).

Kampanye antinarkoba terus digalakkan berbagai kalangan. Namun, Fussion Jazz Community punya cara beda. Mereka rajin manggung sambil mengajak menjauhi narkoba.

FAJRIN MARHENDRA BAKTI

ALUNAN musik jazz terdengar dari Jalan Raya Tunjungan. Grup-grup musik yang tergabung dalam Fussion Jazz Community (FJC) bergantian manggung di depan pintu masuk Museum Surabaya. Mereka melantunkan lagu-lagu karya musisi lokal dan internasional.
Suaranya cukup keras. Cukup untuk membuat pengguna jalan sekadar menoleh. Tak sedikit pula yang menyempatkan berhenti sejenak. Maklum, mereka memang cari-cari perhatian penghuni jalan. ”Pokoknya, mereka harus noleh dan berhenti agar mereka baca,” ujar R. Boedi Setia, community holder FJC.
Aktivitas mereka tidak terpaku di panggung. Ada satu momen parade di sepanjang jalur pedestrian kawasan Siola. Boedi yang akrab disapa Ucok terlihat membawa saksofon. Dia memimpin rombongan. Mereka membagikan stiker dan pamflet terkait pencegahan narkoba.
Cari-cari perhatian ala FJC itu memang khusus. Di sela-sela melantunkan lagu, mereka menyuarakan gerakan antinarkoba. Gerakan antibarang haram tersebut memang menjadi visi pendirian FJC. Musik jazz harus bisa dibenturkan dengan berbagai bentuk kegiatan. ”Biasanya, digabung dengan seni tradisional atau kampanye-kampanye,” urainya.
Ucok membeberkan alasannya melakukan gerakan tersebut. Menurut dia, aksi itu adalah nilai tambah dari kegemarannya bermusik. ”Dalam bermusik, kami harus punya misi. Salah satunya dengan gerakan ini,” ujar pria 43 tahun itu. Nah, selama ini FJC punya dua gerakan andalan. Masing-masing punya misi yang kuat. Pertama, gerakan Save Tunjungan. Ucok berkisah, gerakannya dimulai sekitar 2012. Pria yang juga berprofesi fotografer tersebut masih ingat betul kondisi kawasan Tunjungan saat itu. ”Waktu itu, Tunjungan mati suri,” kenangnya.
Sebagai orang asli Surabaya, Ucok merasa resah. Mereka pun mulai ”mengamen” di Tunjungan. Tiap akhir pekan mereka meluangkan waktu untuk buka panggung. Sponsornya kala itu Badan Narkotika Nasional Provinsi Jatim. ”Misinya menghidupkan kembali Tunjungan,” tuturnya.
Namun, perjuangan tersebut tidak mudah. Diperlukan waktu hingga tiga tahun untuk memastikan Tunjungan bisa hidup seperti dahulu. Sembari main di Tunjungan, mereka juga masuk ke kampus-kampus. ”Target kami saat itu adalah para mahasiswa,” terangnya.
Mulai 2011, mereka berkampanye antinarkoba di kampus. Targetnya adalah para mahasiswa dan dosen. Mereka membagi acara kampanye dalam tiga segmen. ”Sesi pertama, kami memberikan kuliah umum karena memang kampanye ini ada SKS-nya,” terang bapak tiga anak tersebut. Kuliah yang diberikan terkait musik jazz. Misalnya, teknik bermusik, penguasaan panggung, hingga pemasaran musik. Setelah selesai, kegiatan selanjutnya adalah pengetahuan seputar narkoba. ”Baik buruknya narkoba kami sampaikan,” ulasnya.
Sesi ketiga adalah sesi paling menyenangkan. Para peserta kuliah umum dites tentang apa saja yang didapatkan pada dua sesi sebelumnya. Tes itu sekaligus menjadi jembatan agar bisa ikut show bersama bintang tamu. ”Kami pastikan lagi bagaimana mereka merespons dan mengaplikasikan dua materi yang kami berikan sebelumnya,” ungkapnya.
Waktu berlalu. Konsistensi gerakan mereka akhirnya didengar oleh Wali Kota Tri Rismaharini. Mereka diberi tempat khusus untuk manggung. Sejak saat itu pula, seluruh kegiatan harus berafiliasi dengan gerakan antinarkoba. Gerakan tersebut diberi judul Jazzaynotodrugs. Pelesetan dari ”just say no to drugs.”
Ucok menegaskan, penekanan saat kampanye adalah menyampaikan product knowledge. Tidak hanya bermain musik, tapi juga memberikan ilmu. Bentuknya berupa pesan moral maupun cara menghindari narkoba. ”Program ini 70 persen tentang bagaimana menghindari narkoba,” beber pria yang gemar makan sup merah buatan istrinya itu.
Khusus untuk pencegahan, JFC punya program sendiri. Mereka melakukan penyuluhan dan kegiatan-kegiatan positif lain. Sasarannya adalah siswa sekolah dasar sampai mahasiswa. ”Eksekutif-eksekutif muda juga kami sasar,” tutur penyuka lagu You Make Me Smile ciptaan Dave Koz tersebut.
Kalau kegiatan kurang padat, mereka akan diajak tur, workshop musik. Memang, JFC sering turut serta dalam berbagai festival jazz, baik lokal, nasional, maupun internasional. Event-event itu, misalnya, JakJazz, Java Jazz, Jazz Gunung, NgayogJazz, dan Jazz Traffic. Selain itu, ada event nasional yang bekerja sama dengan Pemkot Surabaya. ”Pokoknya, kegiatannya mengalihkan pikiran dari narkoba,” ucapnya. Kegiatan lain adalah cara mengantisipasi jika mengetahui ada orang terdekat yang menyalahgunakan narkoba. Mereka mengajak untuk mengadvokasi, bukan malah menjauhi. Bahkan, mereka memberi jalan bagaimana cara merehabilitasi.
Namun, yang paling utama, Ucok mengajak para seniman untuk jujur memerangi narkoba. Perbuatan dan yang diomongkan harus sinkron. Menurut dia, ketidakjujuran malah akan mematikan kreativitas. Sudah banyak anggota yang dahulunya pecandu kini sembuh. Namun, Ucok menolak menunjukkan siapa saja yang sembuh. Menurut dia, tidak perlu mengungkit-ungkit kembali masa lalu. ”Nanti malah keingat dan mbalik lagi, kan repot,” selorohnya.
Mulai tahun ini, mereka memperluas cakupan kampanye. Mereka masuk ke mal-mal. Mengapa mal? Ucok menganggap di tempat itu masyarakatnya lebih majemuk. Pada 1 April lalu, mereka sudah berkampanye di salah satu mal di Surabaya Selatan. Para pengunjung mal pun terlihat antusias. ”Jadi, setelah memberikan pemahaman kepada orang yang punya latar belakang akademis, sekarang menyasar orang biasa yang lebih luas,” terangnya.
Bahkan, rencananya mereka masuk ke pasar tradisional. Tujuannya, semakin beragam orang yang diajak memerangi narkoba. Apalagi, selama ini banyak anak pedagang pasar tradisional yang menjadi korban narkoba. ”Semuanya kita ajak. Bulan depan kita mulai ke Pasar Wonokromo,” janjinya.
Salah seorang anggota komunitas, Hilary Yetisia Larisa, menganggap kegiatan itu sangat positif. Dia antusias ikut kampanye tersebut sejak tiga tahun lalu. Dia menegaskan, narkoba sudah merajalela dan menyerang remaja. ”Kami ini kan juga sangat mudah terpengaruh. Perlu kegiatan untuk pengalihan,” ujar dara 22 tahun itu.
Mahasiswi Jurusan Komunikasi UPN Veteran itu sangat senang dengan respons masyarakat. Bukan hanya anak muda, orang tua juga bisa menularkan kepada anaknya. ”Jadi, ini nanti kampanyenya kan menjalar,” terang perempuan yang menggebuk drum sejak usia 9 tahun itu.
Begitu juga Annisa Danya Pitaloka P. Siswi kelas XI SMAN 19 Surabaya itu merasa tergugah saat petugas BNN datang ke sekolahnya. ”Tahun lalu kami dites urine oleh petugas BNN,” terang perempuan yang akrab disapa Danya tersebut.
Dari tes tersebut, dia mendapat informasi dari gurunya bahwa separo siswa di kelasnya positif mengonsumsi narkoba. Bukan hanya pemakai, melainkan juga pengedar. ”Saya langsung kaget, kok bisa ada yang jadi pengedar,” ungkapnya.
Hal itulah yang menginspirasinya untuk ikut bergerak. Hal yang paling membahagiakannya adalah bisa share kepada teman-teman. ”Kita buktikan bahwa pemain musik tidak dekat dengan narkoba,” ajak perempuan 16 tahun itu. (*/c6/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore