
KIDUNG SUCI: Dari kiri, Kol Laut Dr I Made Jiwa Astika, Kol Laut (Purn) IGW Asma ra ba wa, dan Wayan Sardita saat latihan geguntangan di Pura Jala Sidhi Amertha pada Jumat malam (10/2).
Umat Hindu memiliki laku budaya bernama geguntangan. Dengan iringan musik, mereka menampilkan kidung suci berbahasa Jawa kuno. Orang awam bisa mengerti maknanya karena langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI
KIDUNG suci dengan dibalut iringan gambelan, alat musik khas Bali, yang indah terdengar syahdu di Pura Jala Sidhi Amertha (JSA), Juanda, Jumat malam (10/2). Saat itu, sekitar pukul 20.00, para umat Hindu yang tergabung dalam Skaha Geguntangan Dharma Stiti Pura JSA berlatih geguntangan secara rutin di Bale Tajok Panjang Mandala Utama, bagian paling suci dalam pura.
Lantaran tempat latihan tersebut berada di bagian paling suci, setiap orang yang masuk ke Mandala Utama harus melepas sandal dan menggunakan selendang yang diikat di pusar. Tidak terkecuali Jawa Pos. Sebab, menurut kepercayaan umat Hindu, mulai pusar hingga ke bawah merupakan bagian tubuh yang paling kotor. Selendang tersebut digunakan untuk menyucikan bagian pusar ke bawah.
Perempuan yang tengah menstruasi pun tidak boleh masuk ke Mandala Utama. ’’Kalau berhalangan, kami mohon maaf tidak boleh masuk ke dalam Mandala Utama karena termasuk tempat paling suci,’’ kata I Gede Putu Suardana, pengempon Pura JSA, mengingatkan.
Di atas Bale Tajok Panjang Mandala Utama, para pemain geguntangan masih terus berlatih. Mereka menggunakan pakaian serbaputih dengan bawahan jarit dan sarung. Lengkap dengan udengBali bagi pemain putra. Untuk perempuan, rambutnya diikat dengan hiasan bunga kemboja. Saat itu mereka membawakan pupuh Ginanti (orang tua).
Para pemain gambelan begitu khusyuk mengiringi kidung-kidung suci tersebut. Dewa Ayu Putri yang bertindak sebagai sane ngewacen (pengidung) terus melantunkan lagu-lagu keagamaan dalam bahasa Jawa kuno dengan penuh penghayatan. Kemudian, Wayan Sardita sebagai sane ngartos (peneges) langsung menyahut mengartikan sajak-sajak Jawa kuno tersebut dengan dua bahasa. Yakni, bahasa Bali dan Indonesia. Mereka terus bersahutan dengan diiringi musik gambelan sederhana.
Yasa Kertin Aji Ibu (Mari lanjut bicarakan perihal jasa ayah dan ibu). Kabaos Pinih Utami (Dikatakan di dunia paling utama sekali jasa ayah dan ibu). Asih Asuh Maring Putra (Sekarang mari bicarakan perihal sayangnya ayah dan ibu pada putranya). Nenten Wenten Manyamenin (Perihal sayang ayah dan ibu pada putranya tidak ada menyamai). Luwuran Maring Ambara (Sayangnya ayah dan ibu pada putranya dikatakan lebih tinggi dari langit). Baatan Maring Pertiwi (Perihal sayang ayah dan ibu anaknya dikatakan lebih berat dari bumi).
Bait pupuh atau puisi Jawa tradisional Ginanti itu menjadi inti dari alur cerita yang disampaikan dalam geguntangan tersebut. Sejatinya, terdapat cerita yang mengalir melalui pupuh di dalam sebuah pertunjukan geguntangan. Ada banyak pupuh yang diambil dari Itihasa dan Purana seperti cerita Mahabarata dan Ramayana yang dipenggal atau tidak utuh. Kidung-kidung suci yang dinyanyikan itu berisi petuah-petuah atau nasihat kepada umat Hindu. Pun termasuk Navavida Bhakti (Sembilan Bhakti) yang disebut Kirtanam.
Budaya geguntangan kini dikembangkan umat Hindu di Pura JSA, Juanda. Namanya Skaha Geguntangan Dharma Stiti JSA. Grup geguntangan tersebut berjalan selama setahun. Anggotanya adalah orang dewasa dari berbagai latar belakang pekerjaan. Di antaranya, Kolonel Laut (pur) I Gedhe Wayan Asmarabawa dan Kolonel Laut Dr I Made Jiwa Astika yang kini menjabat ketua Rumah Tangga Pura JSA sekaligus direktur Diploma STTAL. Ada pula yang bekerja sebagai wiraswasta dan guru.
Meski memiliki banyak kesibukan, mereka masih menyisihkan waktunya untuk berlatih geguntangan bersama di Pura JSA setiap Jumat pukul 19.00–21.00. Ketika berkumpul dalam latihan geguntangan, mereka membaur menjadi satu. Status pekerjaan ’’lepas’’ dalam sebuah hobi yang mendatangkan ketenangan dan kedamaian jiwa serta raga.
Pimpinan Skaha Geguntangan Dharma Stiti Pura JSA Juanda Kolonel Laut (pur) IGW Asmarabawa menuturkan ada 20 orang yang tergabung dalam Skaha Geguntangan Dharma Stiti Pura JSA. Rata-rata para anggota yang ikut dalam geguntangan tersebut memiliki kemampuan seni dalam budaya tersebut. Baik menjadi pengidung, peneges, maupun pemain alat musiknya. ’’Kalau saya pribadi memang senang. Bisa dibilang hobi,’’ katanya, lantas tertawa lepas.
Dengan kesibukannya yang masih begitu padat, Asmarabawa mengatakan menemukan ketenangan dan kedamaian saat bermain geguntangan. Apalagi ketika musik gambelan mengiringi kidung-kidung suci. Banyak pitutur ajaran agama yang bermakna bagi kehidupan umat manusia.
’’Yang tadinya sibuk memikirkan duniawi, di sini kami melakukan budaya geguntangan untuk mendekatkan diri pada Tuhan,’’ jelasnya.
Asmarabawa menuturkan, geguntangan adalah budaya yang diwariskan leluhur. Lagu-lagu yang dibawakan dalam geguntangan merupakan pitutur-pitutur ajaran agama yang diambil dari Itihasa dan Purana. Nyanyian-nyanyian suci itu diharapkan bisa mengarahkan perasaan dan intuisi umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
