Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Februari 2017 | 10.40 WIB

Ucil Ahmadi dan Supiah, Pasangan Disabilitas Jadi Wirausahawan, Orang ’’Normal’’ Kini Minta Dicarikan Pekerjaan

PASANGAN KOMPAK: Ucil Ahmadi dan Supiah menunjukkan produk tas dan dompet yang menjadi andalan mereka. - Image

PASANGAN KOMPAK: Ucil Ahmadi dan Supiah menunjukkan produk tas dan dompet yang menjadi andalan mereka.


Ucil Ahmadi terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh. Sedangkan istrinya, Supiah, harus memakai kaki palsu setelah mengalami kecelakaan saat masih berusia 17 tahun. Keduanya dipertemukan saat bekerja di Tiara Handicraft. Cinta itu juga menyatukan hidup serta karya mereka.





SALMAN MUHIDDIN





MINGGU (5/2), 35 tahun silam, dia lahir. Orang tuanya tentu tidak menyangka anaknya terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh. Anak kedua di antara empat bersaudara tersebut lantas diberi nama Ahmadi. Tapi, teman-temannya menjuluki dia Ucil karena tubuhnya yang mungil. Ya, jadilah dia beken dengan nama Ucil Ahmadi.



Sedari kecil Ucil tinggal di Dusun Langon, Desa Ambulu. Orang tuanya selalu memanjakannya. Untuk makan, minum, dan mandi, dia selalu dibantu. Ke mana-mana selalu ditemani. Hidup Ucil bergantung pada orang lain. Ucil pun mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Dia minder dengan keadaannya. Tak jarang dia menjadi sasaran bully teman sebayanya. Hingga usia 23 tahun, Ucil masih saja bergantung pada orang lain dan jarang keluar rumah.



Semangat hidupnya nyaris sirna. Namun, semuanya berubah ketika dia mendapat tawaran pelatihan menjahit dari Dinas Sosial Jember. Namun, pelatihan dilaksanakan di luar kota. Di Bangil, Pasuruan. Orang tuanya sempat khawatir melepas anaknya. Padahal, Ucil sudah dewasa. ’’Namanya orang desa. Pasti khawatir melepas anaknya yang cacat,’’ ucap Ucil.



Selama setahun Ucil ditempa. Pelatihan yang ditekuni ialah menjahit. Dia tidak menyangka, ternyata menjahit itu bisa dilakukan tanpa jari jemari.



Wawasannya terbuka. Bahwa selama ini tidak banyak kesempatan belajar yang diberikan untuk orang-orang dengan keterbatasan. Sebab, orang-orang ’’normal’’ menganggap penyandang disabilitas tidak pernah bisa bekerja dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.



Dan memang, setelah belajar, menjahit itu mudah. Semangat pun mulai tumbuh. Pada 2010 Ucil memutuskan magang kerja di Tiara Handicraft di Sidosermo, Kecamatan Wonocolo. Di situ, seluruh pegawainya adalah penyandang disabilitas.



Titik Winarti, pemilik Yayasan Bina Karya Tiara, menjadikan Ucil sebagai asisten pribadinya. Otak Ucil dianggap encer. Karena itu, dia mendapat tugas di bidang marketing sekaligus mandor. Mendapat kepercayaan tersebut, semangat Ucil semakin tinggi. Kini dia tidak lagi bergantung pada orang lain. Dia bisa menghidupi diri sendiri. Bahkan, bila ada uang lebih, dia mengirimnya ke orang tuanya di Jember.



Saat itu Ucil masih tidak kepikiran untuk menikah. Bahkan, terlintas di pikiran, dia akan menjadi jomblo abadi. Siapa yang mau menjadi pendamping hidupnya dengan kondisi fisik yang tak sempurna? Bisa bekerja dan mandiri saja sudah cukup memuaskan hatinya. Punya keinginan menikah dianggap terlalu muluk-muluk.



Setahun setelah Ucil bekerja di Tiara Handicraft, muncul sosok Supiah. Perempuan asal Dupak yang pendiam, tapi murah senyum. #eaaa...



Awalnya mereka berdua tidak punya rasa cinta satu sama lain. Bahkan, Ucil sempat memiliki kekasih sebelum menjalin hubungan dengan Supiah. Begitu pula Supiah. Dia punya pacar yang sama-sama pekerja Tiara Handicraft. ’’Memang di sana banyak yang cinlok. Ada paling sepuluh lebih,’’ ungkap Ucil malu-malu.



Ucil yang bekerja sebagai mandor punya tugas menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk para pekerja lain. Supiah bertugas memotong pola untuk tas, dompet, dan baju. Mau tidak mau, keduanya sering bertemu. Sebab, tugas memotong menjadi tugas pertama setelah bahan-bahan diserahkan mandor.



Witing tresna jalaran saka kulina. Cinta tumbuh karena terbiasa. Faith plants the seed, love makes it grow... Takdir. Ndilalah, keduanya sama-sama putus dari masing-masing. Keduanya makin dekat. Setiap malam jomblowan-jomblowati tersebut sering jalan-jalan. Mencari tukang bakso untuk makan malam alias dinner. Di mana pun tempatnya, apa pun makanannya, bila dilakukan saat jatuh cinta pasti terasa enak.



Lalu, siapa yang menembak duluan? Tentu, mereka salah tingkah. Supiah enggan menjawab. Dia menjulurkan jari telunjuknya ke arah Ucil. ’’Iya. Saya yang nembak,’’ ucap Ucil. Seketika itu wajahnya memerah.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore