Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 04.09 WIB

Tiga Mahasiswa ITS Ciptakan LifePlus, Alat Bantu bagi Lansia

INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia. - Image

INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia.


Penelitian dan perakitan alat berlangsung pada Januari hingga Mei 2016. Mereka juga dibimbing Arief Abdurakhman, dosen jurusan teknik fisika. Awalnya mereka menggunakan sensor detak jantung dan sensor jatuh untuk menunjang alat. Rupanya, sensor detak jantung tidak terlalu berguna. Akhirnya pada prototipe kedua, mereka hanya berfokus pada sensor jatuh.


Pengolahan datanya menggunakan pengendali mikro single-board Arduino. Mereka memasukkan data-data kecepatan jatuh rata-rata lansia parsial. Yakni, para orang tua yang ditetapkan dokter memiliki kemungkinan jatuh antara 20–70 persen karena berbagai faktor. Kode-kode dimasukkan hingga alat bisa mendeteksi sesuai dengan yang mereka inginkan.


Cara kerjanya cukup mudah. Tiga mahasiswa tersebut membuat aplikasi berbasis Android untuk mengatur penggunaan alat. Di dalam aplikasi itu, dimasukkan nomor telepon genggam perawat atau penjaga sang lansia. Ketika lansia terjatuh, alat otomatis mengirimkan sinyal ke aplikasi Android. Selanjutnya, aplikasi tersebut mengirimkan pesan berbentuk SMS (short message service) ke nomor yang telah ditentukan tadi. ’’Alat kami sudah bisa mengirimkan lokasi tepatnya lansia jatuh, jadi bisa segera tertolong,’’ imbuh Detya.


Tidak hanya dicoba sendiri, alat itu juga diujicobakan kepada para penghuni UPTD Griya Wreda Rungkut. Kerja keras tersebut menghasilkan juara pertama dalam Public Health Competition 2016 di Universitas Negeri Jember. Juga, juara III dalam event nasional serupa di Universitas Airlangga.


Saat ini aplikasi dan alat LifePlus masih menggunakan bluetooth sebagai penghubung sehingga jaraknya hanya 10 meter. Ke depan, para mahasiswa itu mengembangkannya dengan wifi atau penghubung nirkabel lainnya agar jarak tempuhnya bisa mencapai kilometer.


Pengembangan lain yang sedang dilakukan adalah memasukkan artificial intelligence (kecerdasan buatan) pada alatnya. Dengan begitu, bukan hanya kecepatan jatuh lansia yang bisa terdeteksi, tetapi juga pasien rehab medik lain yang tidak selalu dari kalangan manula. ’’Karena kecepatan jatuh antara lansia, anak muda, dan dewasa berbeda-beda,’’ tutur Detya.



Tiga mahasiswa itu berharap alat mereka bisa diterapkan lebih lanjut. Setelah alat disempurnakan, mereka berencana menawarkannya kepada pemerintah atau instansi kesehatan untuk menjalin kerja sama. Apalagi, alat yang mereka buat cukup terjangkau. ’’Syukur-syukur bisa dilirik perusahaan IT dan kami diajak bekerja sama, hehehe,’’ harapnya. (*/c7/dos/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore