
INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia.
Penelitian dan perakitan alat berlangsung pada Januari hingga Mei 2016. Mereka juga dibimbing Arief Abdurakhman, dosen jurusan teknik fisika. Awalnya mereka menggunakan sensor detak jantung dan sensor jatuh untuk menunjang alat. Rupanya, sensor detak jantung tidak terlalu berguna. Akhirnya pada prototipe kedua, mereka hanya berfokus pada sensor jatuh.
Pengolahan datanya menggunakan pengendali mikro single-board Arduino. Mereka memasukkan data-data kecepatan jatuh rata-rata lansia parsial. Yakni, para orang tua yang ditetapkan dokter memiliki kemungkinan jatuh antara 20–70 persen karena berbagai faktor. Kode-kode dimasukkan hingga alat bisa mendeteksi sesuai dengan yang mereka inginkan.
Cara kerjanya cukup mudah. Tiga mahasiswa tersebut membuat aplikasi berbasis Android untuk mengatur penggunaan alat. Di dalam aplikasi itu, dimasukkan nomor telepon genggam perawat atau penjaga sang lansia. Ketika lansia terjatuh, alat otomatis mengirimkan sinyal ke aplikasi Android. Selanjutnya, aplikasi tersebut mengirimkan pesan berbentuk SMS (short message service) ke nomor yang telah ditentukan tadi. ’’Alat kami sudah bisa mengirimkan lokasi tepatnya lansia jatuh, jadi bisa segera tertolong,’’ imbuh Detya.
Tidak hanya dicoba sendiri, alat itu juga diujicobakan kepada para penghuni UPTD Griya Wreda Rungkut. Kerja keras tersebut menghasilkan juara pertama dalam Public Health Competition 2016 di Universitas Negeri Jember. Juga, juara III dalam event nasional serupa di Universitas Airlangga.
Saat ini aplikasi dan alat LifePlus masih menggunakan bluetooth sebagai penghubung sehingga jaraknya hanya 10 meter. Ke depan, para mahasiswa itu mengembangkannya dengan wifi atau penghubung nirkabel lainnya agar jarak tempuhnya bisa mencapai kilometer.
Pengembangan lain yang sedang dilakukan adalah memasukkan artificial intelligence (kecerdasan buatan) pada alatnya. Dengan begitu, bukan hanya kecepatan jatuh lansia yang bisa terdeteksi, tetapi juga pasien rehab medik lain yang tidak selalu dari kalangan manula. ’’Karena kecepatan jatuh antara lansia, anak muda, dan dewasa berbeda-beda,’’ tutur Detya.
Tiga mahasiswa itu berharap alat mereka bisa diterapkan lebih lanjut. Setelah alat disempurnakan, mereka berencana menawarkannya kepada pemerintah atau instansi kesehatan untuk menjalin kerja sama. Apalagi, alat yang mereka buat cukup terjangkau. ’’Syukur-syukur bisa dilirik perusahaan IT dan kami diajak bekerja sama, hehehe,’’ harapnya. (*/c7/dos/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
