JawaPos Radar

Agustusan di Tengah Tempat Pengungsian Korban Gempa Lombok

Merah Putih Diambil dari Reruntuhan Bangunan

17/08/2018, 13:54 WIB | Editor: Ilham Safutra
Agustusan di Tengah Tempat Pengungsian Korban Gempa Lombok
Sejumlah pemuda dan pemudi berlatih mengibarkan bendera merah putih di pengungsian Desa Kekait, Lombok Barat, kemarin (16/8). Persiapan ini dilakukan untuk upacara bendera 17 Agustus. (IVAN MARDIANSYAH/ LOMBOK POST/Jawa Pos Group)
Share this

Rumah hancur dan kehilangan pekerjaan. Tapi, para korban gempa Lombok tak lupa memasang bendera di tiap tenda pengungsian. Melihat Merah Putih berkibar, bagi mereka, adalah pengingat: dulu para pahlawan juga menghadapi cobaan yang sama beratnya dengan mereka kini.

SIRTUPILLAILI, Lombok Barat

---

Agustusan di Tengah Tempat Pengungsian Korban Gempa Lombok
Pengungsi di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat memasang bendera merah putih di tenda pengungsian untuk memperingati hari kemerdekaan RI, hari ini. (SIRTU/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)

RUMAH, atau lebih tepatnya bekas rumahnya, tinggal reruntuhan. Tapi, Murdan tak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang dia cari. Di lemari yang teronggok di antara puing.

Karena kotor, dibawanya apa yang dia temukan itu ke pancuran air. Tak jauh dari tempatnya mengungsi di Lapangan Pura Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.

Setelah bersih, baru dipasangnya di depan tenda terpal. Tempat dia berjejalan bersama istri dan anak serta keponakan. ''Bendera ini kami pasang sekali dalam setahun (saat Agustusan), setelah itu dicuci dan disimpan lagi,'' tutur pria 40 tahun tersebut kepada Lombok Post (Jawa Pos Group). Bendera itu masih tampak sedikit lusuh. Ada bolongnya. Tapi, hanya itulah yang bisa dilakukan Murdan dan ratusan warga sekampung pada hari Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-73.

Mengibarkan bendera, di tiap tenda, sejak beberapa hari lalu itu semacam penanda: Di tengah kedukaan hebat, mereka tak lupa pada hari keramat ini. Meski tak ada lagi kemeriahan lomba khas Agustusan seperti biasa.

Sejak gempa 7 skala Richter mengguncang Lombok pada 29 Juli lalu, Murdan dan warga Lingsar lain harus hidup di tenda-tenda pengungsian. Berjejalan dengan pakaian yang ditumpuk sembarangan, selimut, televisi, serta kipas angin.

Sebab, rumah mayoritas warga rusak parah. Kalaupun masih ada yang berdiri, si pemilik takut menghuninya. Sebab, siapa yang bakal menjamin gempa tak akan datang lagi.

Hingga kemarin, sudah tercatat 698 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi. Sepekan setelah gempa 7 SR, misalnya, lindu dengan kekuatan 6,2 SR datang lagi.

Murdan tak tahu sampai kapan akan tinggal di tenda itu. Penghasilannya pas-pasan sebagai buruh. Tidak akan cukup memperbaiki rumah dalam waktu singkat.

Tidak hanya soal rumah, Murdan juga cukup dipusingkan dengan ekonomi keluarga yang mandek pascagempa. "Saya belum tahu. Mudah-mudahan ada bantuan," ujar bapak dua anak itu dengan nada pasrah.

Semalam sebelumnya (15/8), hujan mengguyur Lingsar. Air hujan merembes masuk ke dalam tenda. Karpet dan tikar pun basah.

Kalau malam, dingin pun terasa menusuk tulang. Apalagi, Lingsar dikelilingi perkebunan dan sawah nan hijau.

Bagi Murdan, juga Tuardi, tetangganya yang berada di tempat pengungsian yang sama, Merah Putih menghadirkan spirit kepahlawanan. "Pahlawan menghadapi cobaan hidup mahaberat saat berjuang melawan penjajah. Bendera ini sebagai bentuk penghormatan kami," ujar Tuardi.

Mahdi, warga Lingsar lainnya, menyebut Agustusan tahun ini sebagai hari kemerdekaan yang paling bikin waswas. Cemas bila ada gempa susulan besar terjadi. "Kadang-kadang tinjot (kaget) sendiri, padahal tidak ada gempa," tutur Mahdi.

Kecemasan lebih besar dirasakan Syaifullah. Sudah rumah hancur, istri hamil tujuh bulan, dia juga masih menanggung utang Rp 2,5 juta ke tetangga. Utang itu dulu digunakan untuk membiayainya pulang dari tempatnya bekerja di Kalimantan.

"Saya baru seminggu kerja, baru mengumpulkan uang Rp 200 ribu, ketika gempa terjadi," kata Syaifullah di tempat pengungsian di Dusun Bunian, Desa Bengkaung, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat.

Dia bersyukur sang istri, Murtini, dan anak pertamanya, Iqbal Madani, selamat. Tapi, dia juga gelisah karena punya begitu banyak tanggungan yang harus diselesaikan.

Jadilah pada hari kemerdekaan Indonesia, Syaifullah berpikir untuk kembali ke Malaysia. Tempatnya dulu bekerja yang berbuah rumah yang kini diluluhlantakkan gempa.

"Di sana uang lebih mudah didapatkan."

Di Lombok yang hancur karena gempa tiada henti itu, kemerdekaan Indonesia tak sedikit pun dilupakan. Di bawah tenda-tenda pengungsian yang apek dan kesulitan yang menggunung, para korban lindu tentu juga sangat berharap: Indonesia tak melupakan mereka. 

(*/JPG/c5/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up