
BELAJAR PRODUKTIF: Andik Prasetyo (dua dari kanan) memantau pembuatan kerupuk puli di bengkel kerja Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Produksi kerupuk dikerjakan para penghuni lapas setiap hari.
Pembinaan bagi narapidana di Lapas Kelas II-A Sidoarjo semakin beragam. Sebulan terakhir mereka disibukkan dengan pembuatan kerupuk puli. Meski mereka tergolong baru belajar, kerupuk buatan para napi itu sudah laris.
MAYA APRILIANI
TANGAN Supiyan menekan kuat mesin pemotong kerupuk. Dia juga cekatan meletakkan adonan yang sudah matang melalui proses perebusan ke dalam mesin tersebut.
Sebelum dimasukkan ke mesin, bahan kerupuk setengah jadi yang kenyal itu dilumuri minyak terlebih dulu. Dengan begitu, bagian yang telah terpotong tipis-tipis tersebut mudah dipisahkan, tidak lengkel di tangan.
Itu sekaligus mempercepat proses penataan pada papan bambu yang berakhir di penjemuran.
Pada Jumat siang (2/12) Supiyan tampak tidak sendirian memproduksi kerupuk di bengkel kerja lapas. Ada enam penghuni lain yang ikut bekerja. Mereka memiliki tugas masing-masing.
Ada yang menata bahan kerupuk irisan. Ada yang membuka plastik adonan kerupuk setelah direbus. Sebagian lagi mengangkat tumpukan bahan bambu berisi irisan kerupuk untuk dijemur.
’’Sejak pukul 07.00 kami sudah membuat kerupuk,’’ ucap Supiyan, napi narkoba yang dihukum penjara selama lima tahun satu bulan tersebut.
Supiyan yang bertanggung jawab membuat adonan kerupuknya. Kerupuk puli asli buatan warga penghuni bui itu berbahan dasar tepung terigu dan tapioka.
Pria 37 tahun tersebut sudah hafal di luar kepala perbandingan bahan dan bumbu-bumbu pembuatan kerupuk itu. Misalnya, bawang putih dan garam.
Bapak satu anak tersebut juga sudah fasih menilai kekalisan adonan. Termasuk rasanya. Tidak mengherankan jika rasa kerupuk buatan warga penghuni lapas itu sangat gurih. Teksturnya juga renyah.
Dalam waktu sehari, ’’pabrik’’ kerupuk lapas tersebut mampu membuat 60 kilogram adonan. Tetapi, bahan itu tidak bisa dibuat sekaligus, harus melalui dua tahap pembuatan.
Tahap pertama, 30 kilogram. Tahap selanjutnya, 30 kilogram lagi. Itu terjadi lantaran peralatannya terbatas.
Mesin mikser hanya mampu menampung setengah dari total adonan harian. Panci untuk merebus pun tidak bisa menampung atau memproses keseluruhan bahan.
’’Bambu untuk menjemur juga terbatas,’’ ujar Kasubsi Bimbingan Kerja (Bimker) Lapas Kelas II-A Sidoarjo Andik Prasetyo. Menurut dia, papan bambu untuk menjemur irisan kerupuk hanya berjumlah sekitar 50 buah.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
