
DEMI SESAMA: Benjamin Kristianto menjalankan misi sosial dengan berpraktik gratis sebagai dokter.
Benjamin Kristianto punya kesibukan tinggi sebagai anggota Komisi E DPRD Jatim. Tapi, dia tetap punya waktu memberikan pengobatan gratis di Desa Semambung, Gedangan, Sidoarjo. Pasien yang datang tidak dipungut biaya jasa dokter.
SALMAN MUHIDDIN
SEORANG lelaki membopong istrinya keluar dari ruang praktik dokter Benjamin Kristianto. Tangan kiri menahan tubuh istrinya. Tangan kanan memegang kantong plastik berisi obat.
Dia adalah pasien ke-31 yang dilayani pada pukul 23.00. Pasien terakhir malam itu, Sabtu (19/11). Sejurus kemudian, Benjamin berteriak mempersilakan Jawa Pos masuk.
”Mari masuk. Pasien sudah habis,” kata anggota Komisi E DPRD Jatim itu di ruang praktiknya di Desa Semambung, Gedangan, Sidoarjo. Suaranya terdengar dari ruang tunggu.
Menembus jendela kaca yang ditutup gorden merah jambu. Dahulu ruangan 3 x 4 meter itu digunakan sebagai ruang tamu di rumah keluarga Benjamin. Ruang praktik lama pun berubah jadi tempat parkir.
Benjamin memang tidak lagi tinggal di tempat tersebut setelah pindah ke Taman Pondok Indah (TPI) Wiyung pada 2004. Meski demikian, dia tetap setia memberikan pengobatan gratis. Itu dilakukan sejak 1998.
Dia tidak membebankan biaya dokter kepada pasiennya. Pasien hanya membayar biaya obat. Di meja praktiknya ada berbagai macam obat. Mulai obat panas, diare, pegal linu, hingga multivitamin.
Pil dan kapsul tersebut memang paling banyak diberikan kepada pasien. Setelah menghela napas, Benjamin menceritakan mengapa dirinya rela menyempatkan diri membuka praktik di tengah kesibukan sebagai anggota DPRD Jatim.
”Saya pernah jadi orang berada, pernah miskin juga. Hanya makan nasi garam,” ucap suami Meiti Muljanti, juga seorang dokter, tersebut. Benjamin kecil dilahirkan di keluarga ekonomi kelas atas.
Ayahnya menjadi salah seorang direktur utama salah satu perusahaan swasta. Dia mengatakan, saat masih SMP pada ’80-an, mainan yang dia miliki belum banyak beredar di Indonesia.
Dia punya mobil remote control dan foosball atau sepak bola meja. Tapi, roda berputar. Pada 1985, kakaknya yang nomor enam, Samuel Kristianto, mengalami kecelakaan.
”Orang tua sampai jual rumah, jual tanah. Semua dijual,” ujar bungsu di antara delapan bersaudara tersebut. Petaka itu datang saat Benjamin masih duduk di kelas 3 SMP.
Setiap hari selama tiga bulan, dia menjaga kakaknya yang koma. Bahkan, dia harus mandi dan belajar di rumah sakit. Dari situ dia sadar bahwa menjaga orang sakit tidak mudah. Banyak biaya dan waktu yang dikorbankan.
”Biasanya, kalau sehari sampai lima hari, masih ramai yang menjaga. Kalau bisa lebih dari itu, saya acungi jempol,” ujar ayah tiga anak tersebut. Petaka kembali datang. Giliran ayahnya yang mengalami kecelakaan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
