
JEJAK SEJARAH: Moekari bersama Tari Moekari membahas buku 500 Km. Buku itu mengisahkan perjalanan Moekari dalam berbagai pertempuran pada era revolusi kemerdekaan.
Moekari adalah satu-satunya anggota pasukan elite kepolisian bentukan Jepang, Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa), yang hidup hingga saat ini. Kisah perjuangannya, mulai pertempuran Surabaya hingga bertahan di pedalaman Jawa Timur, ditulis sang putri, Tari Moekari.
TAUFIQURRAHMAN
UNTUK ukuran seorang yang dulu berdiri paling depan dalam menghadang sekutu, tempat tinggal Moekari jauh dari kata layak. Sebuah petak rumah di kompleks asrama Brimob di Jalan Gresik Gadukan. Luasnya tidak lebih dari 6 x 12 meter.
Atapnya terbuat dari gedek. Bawahnya adalah ubin dengan dinding yang dicat kapur. Statusnya masih rumah dinas. Moekari hanya tinggal berdua dengan sang putri, Tari Moekari.
Ruang utama dibagi menjadi dua meski tanpa sekat. Ruang tamu dan ruang tengah. Di ruang tengah itu, pada Senin (21/11), Moekari duduk menonton televisi. Saat Jawa Pos beruluk salam, Tari keluar dari ruang belakang.
Moekari perlahan segera bangkit dan meraih kruk. Dia berjalan perlahan menuju kursi ruang tamu. Kaki kiri Moekari hilang karena tertembak dalam sebuah pertempuran di Madiun bertahun-tahun lalu.
Biasanya, setiap hari Moekari juga pergi untuk ’’ngantor’’ di gedung Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI), Jalan Rajawali. Namun, minggu-minggu ini Tari melarang ayahnya pergi ke kantor.
Maklum, sejak buku 500 Km diperkenalkan secara luas mulai 28 Oktober hingga 10 November, Tari dan Moekari harus menghadiri berbagai acara untuk membahas buku tersebut.
Tari mengkhawatirkan kesehatan sang ayah. Meski, Moekari kadang membandel. ’’Saya larang untuk ngantor. Biar tidak kecapekan,’’ katanya.
Buku 500 Km berisi tentang kisah-kisah perjuangan korps Polisi Istimewa dalam menghadapi serbuan pasukan Inggris pada Pertempuran 10 November, 71 tahun lalu. Para pejuang dipukul mundur setelah 21 hari dengan gigih mempertahankan kota.
Polisi Istimewa, kata Moekari, adalah pasukan terakhir yang mundur perlahan dari kota. Perjuangan kemudian dilanjutkan dari Sidoarjo, Malang, Madiun, hingga Ponorogo. ’’Makanya, buku ini diberi judul 500 Km,’’ ujar Tari.
Meski sudah berusia 91 tahun, Moekari masih bersemangat menceritakan pertempuran demi pertempuran yang dialaminya. Hal itu dilakukan berkali-kali. Anak-anak SMA juga kerap membanjiri ruang tamu mereka hanya untuk mendengar cerita Moekari.
Tari, putri Moekari yang keempat, tentu merupakan orang pertama yang mendengarkan kisah pertempuran 10 November langsung dari pelakunya. Isi buku 500 Km bisa dikatakan adalah rangkuman dongeng heroik seorang ayah kepada anaknya.
Baik sebelum tidur maupun saat bercengkerama. ’’Aku dapat kisahnya dari omong-omongan model begini,’’ ucap Tari. Awalnya, tidak ada niat untuk menulis sebuah buku. Sudah banyak media asing, wartawan, maupun penulis yang membuat ulasan. Baik tentang Moekari maupun Polisi Istimewa.
Tetapi, suatu waktu Tari dan Moekari mendatangi sebuah acara di Balai Kota Surabaya. Dalam acara tersebut, seorang veteran tampak berkoar-koar memberikan kesaksian tentang pertempuran 10 November.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
