
INDAH DAN BERSEJARAH: Dari kiri, Nasucha, Sri Hastuti, dan Sudirman menunjukkan busana pakem pengantin khas Sidoarjo yang lama (kiri) dan yang terbaru berdasar hasil riset (kanan).
Mereka bukan ahli rias biasa. Sejatinya, mereka juga para ahli budaya dan sejarah. Dibutuhkan perjuangan keras untuk menemukan karakter baju adat Jenggolo asli Sidoarjo.
JOS RIZAL
SENIN malam (31/10) Sudirman sibuk sekali. Dia membantu Robi Julianto, siswa SMP PGRI I Buduran, memasang kain batik cokelat bermotif bebungaan di rumahnya di kawasan Magersari, RT 3, RW 1.
Dia melilitkan kain itu di pinggang remaja tersebut dengan telaten. Batik cokelat itu pun menyerupai sarung, menutup bagian bawah tubuh Robi hingga atas mata kaki.
’’Begini cara memasangnya, diingat ya,’’ ujarnya kepada Robi. Kepada Jawa Pos, Sudirman menuturkan bahwa Robi hendak menampilkan kesenian sendratari dan meminta bantuannya mengenai cara memakai baju adat.
Sudah puluhan tahun guru kesenian di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo itu menjadi jujukan orang-orang yang hendak tampil dengan menggunakan pakaian adat. Tepatnya sejak era 90-an.
Dia memang pencinta seni, budaya, dan sejarah. Bersama sang istri Sri Hastuti, dia juga membuka jasa rias pengantin di rumahnya. Keduanya kerap berkutat dengan seni berpakaian dan sejarahnya.
Sudirman maupun Sri Hastuti adalah petinggi Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Sidoarjo. Sudirman menjabat ketua divisi penelitian dan pengembangan, sedangkan Sri Hastuti menjabat sekretaris.
Secara struktur, Harpi ada di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. ’’Selain menjaga kekompakan, fungsi Harpi adalah menjaga tradisi tata cara penggunaan busana dalam upacara pernikahan. Lengkap dengan rentetan upacaranya,’’ jelas Sudirman.
Dia lantas mengajak Jawa Pos untuk masuk ke ruang tamunya. Di ruang itu tergantung rupa-rupa baju adat yang acap digunakan ketika karnaval hingga pesta perkawinan. Ada yang tergantung, ada pula yang dilipat rapi.
Di salah satu sudut terpampang foto sepasang perempuan dan lelaki yang menggunakan baju adat. ’’Oh, itu foto baju adat pasangan Jenggolo,’’ kata Sri menimpali. Dia menuturkan, kini baju tersebut kurang diminati para kliennya.
Orang-orang lebih suka menggunakan pakaian modifikasi untuk pernikahan ketimbang baju adat Jenggolo. Padahal, baju adat tersebut sarat makna serta merupakan peninggalan kebudayaan masa Kerajaan Jenggolo.
Tidak lama kemudian, Ketua Harpi Sidoarjo Nasucha datang. Dia ikut berbagi cerita. ’’Baju adat adalah peninggalan leluhur,’’ ujarnya membuka pembicaran.
Nasucha kemudian membeberkan cerita di balik baju adat itu. ’’Sebagai profesi, kami penata rias mulanya hanya merias,’’ jelasnya. Nasucha menjadi penata rias pengantin sejak 1975.
Dia banyak bergelut dengan kostum dan model riasan. Hingga suatu hari, sekitar 1985, tergelitik rasa ingin tahu asal busana-busana yang digunakan masyarakat saat mengadakan upacara pernikahan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022