Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 September 2018 | 19.10 WIB

Rangkul LC dan PSK, Gus Miftah Gunakan Metode Stand Up Comedy

Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah - Image

Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah

Meski terus mendapatkan cibiran, namun tidak membuat Gus Miftah berhenti berdakwah di tengah-tengah kaum yang terpinggirkan. Klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bagaimana ceritanya.


Ridho Hidayat, Jogjakarta


JawaPos.com - Bertahun-tahun berdakwah di klub malam, dan bercengkrama dengan banyak orang membuat Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) semakin meyakini tujuan hidupnya.


Dengan merogoh kocek pribadi, pria berusia 37 tahun tersebut rela blusukan untuk mengajak para pemandu karaoke (Lady Companion) hingga Pekerja Seks Komersial (PSK) kembali ke jalan yang benar.


Jalan dakwahnya telah digariskan. Kini, dakwahnya di klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus mulai menampakkan hasilnya. Respons para pekerja malam pun mulai terlihat. Bahkan, menurut pria yang akrab disapa Gus Miftah itu mengaku banyak yang mencarinya ketika dirinya jarang menyapa jamaahnya.


"Ternyata anak-anak (klub malam) banyak yang berharap juga. Kalau di Bali saya lama enggak kelihatan, saya di-japri (kirim pesan). Menanyakan, kapan ke sini lagi," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (12/9).


Agar materi yang disampaikannya lebih cepat ditangkap oleh jamaah, ia pun menggunakan metode seperti stand up comedy. Memakai bahan yang dihiasi dengan candaan-candaan. Namun pada akhir-akhir materi, selalu disisipkan dengan hal-hal yang lebih mendalam. Sehingga tak jarang membuat mereka menangis.


Jamaahnya setelah mengikuti pengajian pun merasakan kebutuhannya untuk mendapatkan siraman rohani. Terlebih, Pekerja Seks Komersial (PSK) jarang mendapatkan ajaran seperti itu. Ketika kaum-kaum seperti itu berniat ingin ikut pengajian di tempat umum pun merasa risih. Karena pastinya anggapan dari jamaah lain yang cenderung negatif.


Masalah mereka bertobat atau apakah mendapatkan hidayah atau tidak, itu sudah bukan jangkauannya. Meski diakuinya banyak jamaah yang memberitahukan kalau tak lagi bekerja di klub malam sebagai PSK. "Hidayah itu harus dijemput. Kalau hidayah itu datang, itu bukan karena saya. Tapi karena Allah sudah menghendaki mendapat hidayah," katanya.


Pengasuh dari pondok pesantren Ora Aji di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) itu pun akan terus melakukannya. Berdakwah di tempat-tempat kaum marjinal.  Terlebih beberapa ulama, salah seorang Abah Habib Luthfi dari Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) mengizinkannya. "Lanjutkan, jarang yang bisa seperti kamu," kata Gus Miftah, menirukan perkataan ulama Habib Luthfi.


Kini, jalan panjang Gus Miftah masih menanti. Ia pun berharap dengan metodenya tersebut membuat orang kembali ke jalan yang benar. Dan meninggalkan perbuatan sesat yang selama ini dilakoninya. Tidak mudah memang, tetapi namanya berdakwah bisa dimana saja. “Sekali lagi, urusan hidayah itu hanya milik Allah,” pungkasnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore