alexametrics

Telah 10 Tahun Susilo Ratnawati Jadi ”Polisi” Jamban di Kulonprogo

Tentukan Peta Rawan BABS, Pakai Open Camera
13 Maret 2020, 12:48:42 WIB

Apas yang dilakoni Susilo Ratnawati memang bukan pekerjaan favorit, tapi berarti besar pada perubahan masyarakat Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta. Perempuan kelahiran Jogjakarta itu pun mendapat piala ASN Awards kategori The Future Leader.

TAUFIQURRAHMAN, Kulonprogo

Sepuluh tahun lalu, masyarakat di Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, DIJ, masih menghadapi problem buang air besar sembarangan (BABS). Mayoritas penduduk daerah yang hanya berjarak kurang dari 4 kilometer di sebelah timur Bandara Yogyakarta International Airport itu belum memiliki jamban.

Susilo Ratnawati, tenaga sanitasi penyelia lulusan Poltekkes Yogyakarta, bersama dr Renny Lo, dokter fungsional untuk Puskesmas Panjatan II, berkeliling untuk melihat kondisi warga yang memprihatinkan. ”Kami kampanye ke masyarakat sejak tahun-tahun itu. Kemudian program Jalin Asmara dibentuk pada 2015. Tahun 2017 Kecamatan Panjatan deklarasi bebas dari BABS,” tutur Nana, panggilan Susilo Ratnawati.

Saat itu, masyarakat memilih sungai, parit, dan kolam-kolam tegalan sebagai tempat menunaikan hajat. Renny Lo yang saat ini menjadi kepala Puskesmas Panjatan II mengenang bahwa sungai dan kolam saat itu kotor sekali. ”Apalagi kalau musim hujan, air menggenang di mana-mana,” katanya.

 

Selain budaya tak sedap dipandang tersebut, angka penyakit diare di Panjatan sebelah selatan mencapai hampir 150 kasus rata-rata per tahun. Nana dan Renny mulai bekerja untuk melakukan pendataan dan pemetaan wilayah. Tersebutlah Pedukuhan 5, Desa Bojong, dengan Kepala Dukuh Ismanto. Daerah itu ada dalam daftar hitam catatan Nana sebagai daerah terparah endemis BABS.

Ismanto ingat saat itu, dari 128 kepala keluarga (KK) di wilayahnya, hanya 17 KK yang memiliki jamban sendiri. Warga Pedukuhan 5 biasanya membuat kolam kecil di halaman rumah. Dikelilingi rimbunan daun dan pepohonan kebun seperti batang bambu, kelapa, dan akasia.

Di kolam-kolam itulah, mereka biasanya memasang sebatang kayu melintang. Mereka duduk berjongkok di atasnya dan membuang hajat di kolam. Di bawahnya, ratusan ikan lele sudah menunggu santapan besar. ”Katanya, kalau BAB sambil melihat alam dan ikan-ikan lele, rasanya lebih mantap,” tutur Ismanto, lalu tertawa.

Beberapa tempat BAB outdoor tersebut memiliki tirai penutup. Biasanya dari kain atau sisa banner bergambar foto caleg partai tertentu. Namun, ada beberapa yang ekstrem, pasrah saja pada lindungan rerimbunan daun.

Kondisi seperti itu bukannya tidak pernah membawa korban. Tumiyem, 73, beberapa kali tercebur ke kolam saat memenuhi panggilan biologis tubuhnya itu. Berendam bersama lele dan digigiti gurami tidak asing lagi baginya. Kalau kebetulan hujan, Tumiyem terpaksa buang hajat sambil memegang payung atau memakai caping. ”Sekarang enak. Tidak perlu keluar rumah lagi,” ceritanya.

Mengubah perilaku masyarakat untuk meninggalkan BABS tidak mudah. Nana menuturkan, baru pada 2014 ke atas saat banyak bantuan pembangunan septic tank dari pemerintah, warga mulai mau berubah ke sanitasi yang lebih sehat.

Nana sadar dalam menjalankan pekerjaan tersebut, dirinya tidak bisa sendiri. Kebetulan, saat itu Koramil Panjatan dan Polsek Panjatan meneropong problem yang sama. Keduanya menurunkan Babinsa Serka Ahmad Sumarna dan Bripka Danang Joko Asmoro untuk membantu mencari solusi. ”Tapi, kan saya ndak banyak tahu bahasa dan teknis sanitasi,” tutur Ahmad.

Syukurlah, keduanya akhirnya bertemu dengan Nana. Prajurit TNI dan polisi punya tenaga, Nana punya konsep. Dibantu dengan perangkat desa, tokoh-tokoh masyarakat, akhirnya terbentuklah Jalin Asmara (Kerja Lintas Sektor dalam Akses Sanitasi Masyarakat), sebuah upaya bersama dari petugas kesehatan dan masyarakat dengan tekad memberantas BABS.

Sosialisasi digencarkan. Mulai kolektif sampai dari pintu ke pintu. Lantas, para agen Jalin Asmara, termasuk Nana, memetakan titik akut pusat aktivitas BABS. Dibantu dengan Serka Ahmad. ”Kami pakai open camera untuk menentukan titik-titik tersebut,” jelas Ahmad.

Dalam beberapa tahun, peta lokasi rawan BABS di seluruh Kecamatan Panjatan berada dalam genggaman Nana. Tinggal satu per satu pengawasan difokuskan pada titik-titik tersebut. ”Pendekatannya harus macam-macam. Ada yang tidak punya jamban karena memang tidak mampu membuat. Ada yang baru menurut ketika tetangganya sudah membuat jamban,” tutur Nana.

Sementara itu, Ahmad dan Djoko mendapatkan tugas dari kesatuan untuk mengunjungi rumah-rumah warga setiap hari. Dari situlah Nana menitipkan pesan untuk menyampaikan soal sanitasi sehat dan pentingnya BAB di Jamban.

Sejak beberapa tahun terakhir, Ismanto sudah memiliki sebuah fasilitas cetak septic tank bantuan dari pemkab. Dia pun mulai mencetak berbagai jamban sesuai permintaan masyarakat dengan harga di bawah rata-rata. ”Sekarang yang belum punya jamban di Pedukuhan 5 bisa dihitung dengan jari,” tutur Ismanto.

Sampai saat ini, Nana masih menjalankan tugasnya sebagai sanitarian di puskesmas. Keberhasilannya membuat warga memiliki jamban di dalam rumah tak menurunkan kewaspadaan. Dia tetap mengawasi sanitasi area yang menjadi lingkungan kerjanya, termasuk urusan sanitasi buang hajat itu. Atas dedikasinya tersebut, Nana mendapat anugerah ASN Awards 2019 dari Kementerian PAN-RB pada Desember lalu. Dia menjadi satu di antara tiga orang yang mendapatkan Piala Adigana kategori The Future Leader.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/ayi



Close Ads