alexametrics

36 Tahun Radio Suara Surabaya Mengudara

Sapa Nama Penelepon Resep Jaga Loyalitas
12 Juni 2019, 17:08:26 WIB

Suara Surabaya (SS) tidak hanya menjadi media yang memberikan informasi dan hiburan. Radio dengan frekuensi lokal 100 FM itu sudah menjadi komunitas. Ratusan ribu citizen journalist ikut berpartisipasi dalam perjalanan udara mereka yang genap memasuki 36 tahun kemarin (11/6).

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

EMPAT unit monitor terpampang di ruang kaca berukuran 2 x 4 meter. Letaknya di lantai 2 gedung utama SS Jalan Wonokitri Besar No 40 C. Tiga perempuan sibuk dengan keyboard, mouse, dan mikrofon. Di ruangan seberang, ada seorang lelaki dengan headphone yang fokus menyiarkan berita.

Itu merupakan ruang gate keeper SS. Ruangan itu termasuk yang paling sibuk. Ribuan telepon maupun pesan singkat yang masuk difilter di ”bilik” tersebut setiap hari. Setelah itu, informasi diseleksi sebelum disiarkan.

Wisnanti, supervisor gate keeper SS, tampak berdialog dengan Iman Dwi Hartanto di ruang seberang. Dua penyiar senior itu tengah melaporkan kondisi lalu lintas di sejumlah titik di wilayah Surabaya sambil berdialog Menurut Wisnanti, gate keeper merupakan tempat para pendengar SS menumpahkan emosi. Baik marah, sedih, maupun gembira. ”Jadi, tidak langsung disiarkan ke udara. Kami filter dulu di sini (ruang gate keeper, Red),” jelasnya saat ditemui di sela perayaan ultah SS kemarin (11/6).

Perempuan kelahiran 1970 itu menyebut SS ingin menjadi solusi atas masalah pendengar. Dia mencontohkan kasus hilangnya mobil KIA Picanto di parkiran Plaza Surabaya pada Sabtu lalu yang berhasil digagalkan berkat kerja sama pendengar, polisi, dan tim gate keeper.Ibu dua anak itu menyebut banyak cerita dari pendengar SS di ruang gate keeper yang tidak diudarakan. Wisnanti mengatakan sudah kenyang dengan omelan pendengar terkait masalah lalu lintas maupun kondisi jalan. ”Sudah biasa jadi sasaran marah pendengar,” katanya.

Tugas personel gate keeper meredam emosi pendengar yang meledak-ledak. Setelah reda, keluhan para pendengar bisa diteruskan ke ruang penyiaran untuk disiarkan ke udara. ”Ada tekniknya. Jadi harus bisa mengarahkan para pendengar agar dapat menyampaikan keluhan maupun informasi di lapangan dengan tenang,” paparnya.

Widya Safitri, personel di gate keeper, menyatakan memiliki setumpuk cerita unik yang tidak disiarkan. Salah satunya kecelakaan di daerah Probolinggo. Korbannya pasutri asal Surabaya. Setelah disiarkan, ada seorang perempuan dengan suara paro baya yang telepon ke ruang gate keeper.

Perempuan itu merupakan mertua korban laki-laki yang terlibat kecelakaan di Probolinggo. Dia protes dengan penyebutan pasutri untuk korban kecelakaan itu karena anaknya yang merupakan istri korban laki-laki tersebut di rumah. ”Ternyata, korban mengalami kecelakaan bersama istri simpanannya,” ucapnya.

Banyaknya informasi dan cerita yang masuk ke gate keeper sampai bisa disiarkan ke udara tidak lepas dari peran para citizen journalist yang setia mendengarkan SS. CEO SS Errol Jonathans menuturkan, peran masyarakat memang sangat besar. Sebab, masyarakat merupakan sumber informasi pertama yang bisa jadi melihat langsung peristiwa di lapangan.

Pria kelahiran Jakarta, 27 April 1958, itu menuturkan bahwa konsep citizen journalist baru dirintis pada 1994. Saat itu belum banyak yang melaporkan kejadian ke SS. Masyarakat yang memiliki ponsel belum banyak seperti sekarang.

Konsep tersebut terus dikembangkan. Pada 1999, SS mulai mencoba streaming. Lalu, pada 2013 mengembangkan sayap ke media sosial. Hingga akhirnya jumlah pendengar setia SS yang tercatat aktif mencapai 665.324.

Suami Bernadetta Nunung Parman itu menyatakan tidak mudah merawat pendengar agar tetap loyal. Kuncinya ada pada penyiar dan tim di ruang gate keeper. ”Mereka harus bisa menghadapi berbagai macam karakter pendengar SS yang menelepon. Memang perlu sabar, telaten. Ya harus seperti itu,” tuturnya.

Menurut Errol, ada satu hal kecil dan sepele dalam menanggapi telepon, tetapi tidak boleh diremehkan. Yakni, menyapa nama pendengar yang menelepon. Khususnya yang pernah mengontak telepon SS. ”Yang pernah telepon otomatis kami masukkan database. Jadi, ketika telepon lagi, datanya muncul dan langsung bisa disebutkan namanya,” ucapnya.

Alumnus Akademi Wartawan Surabaya (AWS) itu menilai menyapa nama penelepon merupakan cara untuk mengikat emosional para pendengar. Sebab, dengan menyapa namanya, pendengar merasa diperhatikan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/ayi



Close Ads