JawaPos Radar

Pasukan Langit, Tim Khusus Petugas Haji di Terminal Hijrah, Madinah

Minum 20 Botol Sehari, Kencing Hanya 2 Kali

10/09/2018, 15:54 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pasukan Langit, Tim Khusus Petugas Haji di Terminal Hijrah, Madinah
HARUS TELITI: Syahbuddin mencatat data bus pengangkut jamaah haji di Terminal Hijrah, Madinah. (FIRZAN SYAHRONI/Jawa Pos)
Share this image

Ada syarat tak tertulis untuk menjadi anggota Pasukan Langit yang dibentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi: tahan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari.

FIRZAN SYAHRONI, Madinah

---

Pasukan Langit, Tim Khusus Petugas Haji di Terminal Hijrah, Madinah
Catur (kiri) menempelkan botol air mineral dingin ke pipi untuk meredam panas. (FIRZAN SYAHRONI/JAWA POS)

USIA Syahbuddin memang sudah 65 tahun. Meski begitu, cara berjalannya tetap tegap. Potongan rambutnya cepak, mirip tentara. Namun, Syahbuddin bukan tentara. Dia adalah pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag). Syahbuddin kini menjabat kepala sektor Bir Ali dan Terminal Hijrah, Madinah.

Sudah 24 tahun dia dipercaya untuk bergabung dengan PPIH Arab Saudi."Dari 24 kali itu, lima kali saya ditugaskan di sektor Terminal Hijrah dan Bir Ali," kata Syahbuddin.

Ada tujuh orang yang berada di bawahnya. Yakni, Suyadi, Joyo Mulyo, Catur Juniar Hadi, Faried Dani, Holil Asban Dahlan, M. Nauval Muflihin, dan Alfaina Thifla Muttahid.

Bersama tujuh orang itulah Syahbuddin menjalankan tugasnya setiap hari.

Terminal Hijrah berada di pinggiran Kota Madinah, sekitar 20 kilometer dari Masjid Nabawi. Semua bus pengangkut jamaah haji harus transit di terminal tersebut untuk pemeriksaan dokumen.

Tim pemeriksa terdiri atas para petugas Arab Saudi. Syahbuddin dan anggotanya hanya membantu mendata untuk kepentingan jamaah haji Indonesia. Setiap bus pengangkut jamaah haji Indonesia tiba, Syahbuddin bergegas menghampiri. Dia mencatat nomor bus dan data jamaah.

Beberapa anggotanya membagikan selebaran kepada rombongan haji. Selebaran itu berisi hal-hal yang perlu diketahui jamaah selama tinggal di Madinah.

Di kalangan para petugas haji, bertugas di sektor Terminal Hijrah terbilang paling sengsara. Sebab, mereka tidak punya kantor. Para anggota sektor tersebut harus tahan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Hanya beratap langit. Tidak ada atap pelindung. Karena itu, tim Terminal Hijrah sering disebut dengan Pasukan Langit.

Pemerintah sebenarnya berkali-kali meminta izin untuk memasang tenda atau payung besar di terminal itu. Namun, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tak kunjung mengabulkan.

Alasannya, mereka khawatir terminal tersebut berubah fungsi. Sebab, jika permintaan Indonesia dituruti, negara-negara lain pasti meminta hal yang sama. Petugas haji Indonesia akhirnya mengalah.

Terkadang, petugas Arab Saudi di terminal itu merasa kasihan dengan Pasukan Langit yang kepanasan. Mereka mengizinkan anggota Syahbuddin untuk berteduh di pos keamanan yang ber-AC.

Namun, ruangan pos yang kecil tak sanggup menampung delapan anggota Pasukan Langit. Akhirnya, demi menjaga solidaritas, semua memilih tetap bertahan di luar.

Jika ada jadwal kedatangan bus pagi, Syahbuddin dan anggotanya harus stand by di Terminal Hijrah sejak pukul 09.00. Dia baru bisa beristirahat di kamarnya sekitar pukul 01.00.

Siksaan terberat dirasakan setiap tengah hari. Siang itu, misalnya, Jawa Pos berkunjung ke Terminal Hijrah. Semua petugas siaga. Sebab, tak lama lagi bus pengangkut jamaah haji Indonesia tiba. Suhu saat itu menunjukkan angka 47 derajat Celsius.

Beberapa orang berusaha melindungi kepala dari sengatan matahari. Ada yang memakai topi dan serban. Ada pula yang hanya menutupi kepala dengan tangan. Sebagian lagi mencoba untuk berteduh di bayangan pos keamanan di pintu keluar.

Namun, semua itu percuma. Sebab, posisi matahari tepat di tengah langit. Belum ada bayangan yang bisa dijadikan tempat berteduh. "Ya, dijalanin saja. Dinikmatin," kata Syahbuddin, lantas tersenyum. Bibirnya kering.

Tak lama kemudian, Catur datang. Wajahnya memerah, tanda kepanasan. Kepalanya ditutupi topi dan serban. Dia menggenggam botol ukuran 660 mililiter yang berisi air mineral. Air dingin itu tidak langsung diminum.

Dia tempelkan botol itu ke pipinya, lalu diusap-usapkan ke kepalanya yang hampir plontos tersebut. "Enak, seger, dingin," katanya, lantas tertawa.

Setelah wajah dan kepalanya terasa dingin, Catur membuka botol itu dan meminum isinya. "Sampai siang ini sudah habis 15 botol, Mas," kata Catur. "Kalau saya, sehari bisa habis lebih dari 20 botol," sahut Syahbuddin. "Tapi, saking panasnya, kencingnya hanya dua kali. Airnya menguap dulu sebelum jadi kencing," lanjutnya, lantas tertawa bersama Catur dan anggota lain.

Syahbuddin dan anggotanya memang sering bercanda. Bagi mereka, melepas tawa mungkin salah satu cara untuk mengurangi tekanan pekerjaan.

Tawa mereka terhenti saat mendengar suara mobil datang. Mobil itu membawa makanan dan minuman untuk anggota Pasukan Langit. "Untung, teman-teman di Madinah nggak lupa mengirim makanan dan minuman," katanya.

Terminal Hijrah yang berada di daerah pinggiran Madinah memang sepi. Tidak ada satu pun penjual makanan dan minuman. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat debu beterbangan.

Sore akhirnya tiba. Langit yang semula terang menyengat perlahan meredup. Matahari mulai tenggelam bersamaan dengan terdengarnya suara azan Magrib. Satu demi satu anggota Pasukan Langit menuju tempat wudu.

Mereka lalu menggelar sajadah. Bukan di masjid atau musala, melainkan di pinggir jalan, masih beratap langit. "Allahu Akbar," suara takbiratul ihram mengawali salat berjamaah di antara debu yang beterbangan tertiup angin. 

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up