
HARUS TELITI: Syahbuddin mencatat data bus pengangkut jamaah haji di Terminal Hijrah, Madinah.
Ada syarat tak tertulis untuk menjadi anggota Pasukan Langit yang dibentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi: tahan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari.
FIRZAN SYAHRONI, Madinah
---
USIA Syahbuddin memang sudah 65 tahun. Meski begitu, cara berjalannya tetap tegap. Potongan rambutnya cepak, mirip tentara. Namun, Syahbuddin bukan tentara. Dia adalah pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag). Syahbuddin kini menjabat kepala sektor Bir Ali dan Terminal Hijrah, Madinah.
Sudah 24 tahun dia dipercaya untuk bergabung dengan PPIH Arab Saudi."Dari 24 kali itu, lima kali saya ditugaskan di sektor Terminal Hijrah dan Bir Ali," kata Syahbuddin.
Ada tujuh orang yang berada di bawahnya. Yakni, Suyadi, Joyo Mulyo, Catur Juniar Hadi, Faried Dani, Holil Asban Dahlan, M. Nauval Muflihin, dan Alfaina Thifla Muttahid.
Bersama tujuh orang itulah Syahbuddin menjalankan tugasnya setiap hari.
Terminal Hijrah berada di pinggiran Kota Madinah, sekitar 20 kilometer dari Masjid Nabawi. Semua bus pengangkut jamaah haji harus transit di terminal tersebut untuk pemeriksaan dokumen.
Tim pemeriksa terdiri atas para petugas Arab Saudi. Syahbuddin dan anggotanya hanya membantu mendata untuk kepentingan jamaah haji Indonesia. Setiap bus pengangkut jamaah haji Indonesia tiba, Syahbuddin bergegas menghampiri. Dia mencatat nomor bus dan data jamaah.
Beberapa anggotanya membagikan selebaran kepada rombongan haji. Selebaran itu berisi hal-hal yang perlu diketahui jamaah selama tinggal di Madinah.
Di kalangan para petugas haji, bertugas di sektor Terminal Hijrah terbilang paling sengsara. Sebab, mereka tidak punya kantor. Para anggota sektor tersebut harus tahan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari. Hanya beratap langit. Tidak ada atap pelindung. Karena itu, tim Terminal Hijrah sering disebut dengan Pasukan Langit.
Pemerintah sebenarnya berkali-kali meminta izin untuk memasang tenda atau payung besar di terminal itu. Namun, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tak kunjung mengabulkan.
Alasannya, mereka khawatir terminal tersebut berubah fungsi. Sebab, jika permintaan Indonesia dituruti, negara-negara lain pasti meminta hal yang sama. Petugas haji Indonesia akhirnya mengalah.
Terkadang, petugas Arab Saudi di terminal itu merasa kasihan dengan Pasukan Langit yang kepanasan. Mereka mengizinkan anggota Syahbuddin untuk berteduh di pos keamanan yang ber-AC.
Namun, ruangan pos yang kecil tak sanggup menampung delapan anggota Pasukan Langit. Akhirnya, demi menjaga solidaritas, semua memilih tetap bertahan di luar.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
