alexametrics

Melihat Gerakan Para Penjahit Seluruh Indonesia Melawan Covid-19

Wujudkan Masker Bukan Barang Langka
6 April 2020, 20:48:33 WIB

Akhir-akhir ini masker menjadi barang langka dan mahal. Bukan hanya warga. Tenaga medis yang lebih membutuhkan juga kesulitan untuk mencarinya. Melalui digital start-up-nya: jahitin.com, Asri Wijayanti turun tangan. Menggandeng para penjahit, perajin, dan desainer di seluruh Indonesia untuk beramai-ramai menjahit masker.

ROBBY KURNIAWAN, Surabaya

SEJAK pagi, satu per satu penjahit berkunjung ke rumah Asri Wijayanti di Perumahan Juanda Harapan Permai Blok G-3. Beragam keperluannya. Ada yang mengambil potongan kain. Ada pula yang menyetor hasil jahitan.

Hingga pukul 17.00, rumah dari penggagas jahitin.com itu masih tak lekang oleh aktivitas.

Ruang tamu rumah Asri penuh potongan kain. Di sisi-sisinya tertata empat mesin jahit. Di tempat itulah pusat kegiatan produksi pembuatan masker. ”Ini masker buatan saya,” kata Yuni kepada ibunya, Asri.

Penjahit asal Wage, Taman, itu menunjukkan jahitannya. ”Sudah bagus dan halus pengerjaannya. Tinggal pola jahitan kurang kecil sedikit,” jawabnya.

Asri mengatakan, para penjahit yang datang merupakan relawan. Mereka mendaftar karena ingin berperan dalam melawan pandemi Covid-19. Tugas mereka cukup menjahit.

Segala bahan baku pembuatan masker disiapkan. Baik itu kain, karet, maupun benang. Tak lupa, contoh masker jadi juga diberikan. ’’Hanya perlu modal keterampilan dan mesin jahit,” katanya.

Apabila sudah jadi, masker segera disetor. Lalu, dicek apakah sesuai hasil yang diinginkan. ’’Setoran masker langsung kita bayar,” terang Asri.

Sebelum memproduksi masker, pihaknya menyiapkan pelatihan online bagi penjahit yang telah bergabung. Di sana mereka diajari cara pembuatan masker kain secara baik dan benar. ’’Saya itu geregetan. Banyak banget jenis masker kain yang beredar. Ada satu lapis, dua lapis. Ukurannya kekecilan dan kebesaran,” ucapnya.

Asri tak mau diam. Dia melakukan riset. Di negara lain, seperti Amerika Serikat dan Taiwan, kelangkaan masker sudah terjadi.

Stok di sejumlah toko habis. Baru bisa dipenuhi seminggu kemudian, bahkan lebih. Asri lantas berpikir. Apa tidak bisa masker itu dibuat dari kain? Pertanyaan tersebut terjawab.

Berdasar referensi yang didapat, perempuan 24 tahun itu yakin bahwa kain cukup efektif dalam mencegah penularan virus korona jenis baru. Terbukti, beberapa negara yang menerapkannya berhasil menekan angka persebaran.

Untuk memastikan hal itu, Asri terus mencari tahu dengan membaca artikel kesehatan. Ada infografis yang dia temukan menyebutkan bahwa masker kain hanya berfungsi sebagai penghangat. Virus tetap bisa masuk karena berukuran mikron. ’’Saya jadi penasaran. Mikron-mikron yang dimaksud ini berdasar apa,” tuturnya.

Menurut dia, masker setingkat N95 mampu memfilter partikel mikro hingga 0,3 mikron. Jika Covid-19 ini berukuran 0,125, virus itu tetap bisa tembus. Sayangnya, World Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan persebaran korona jenis baru bukan melalui udara, melainkan droplet atau percikan cairan tubuh. Bisa batuk atau bersin. ’’Berapa sih itu ukurannya. Masih kelihatan sama mata. Jadi, pakai kain insya Allah masih bisa ditangkal,” jelasnya.

Kain yang baik untuk masker berjenis katun. Ada beberapa alasan. Pertama, dipercaya antibakteri daripada jenis kain lain. Kedua, mudah dicuci sehingga bisa digunakan berkali-kali. ’’Sekarang tenaga kesehatan butuh masker kain. Setelah pakai, mereka cuci, setrika, dan jemur. Lalu, dipakai lagi,” katanya.

Asri menyatakan, jahitin.com berdiri sejak 2016. Digital start-up itu menjadi wadah pemberdayaan para penjahit rumahan di seluruh Indonesia. Mereka tidak sekadar membuat pakaian sesuai pesanan, tapi juga mendapat pelajaran baru tentang teknik menjahit. ’’Tahun lalu, kita punya Akademi Jahitin. Baru offline,” ujarnya.

Sekarang perempuan kelahiran Tangerang itu melanjutkan ke akses belajar secara online. Melalui video tutorial. Karena ada Covid-19, dia mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam memerangi bencana nonalam tersebut. ”Gerakan bersama lawan Covid-19,” ucapnya.

Dia menjelaskan, warga yang punya keahlian menjahit dapat berperan aktif dalam pembuatan APD. Hingga kemarin (5/3), ada 500 penjahit yang bergabung. Mereka tersebar di seluruh penjuru Nusantara.”Masyarakat bukan penjahit tetap bisa berkontribusi melalui donasi. Ketika banyak penjahit tapi tidak ada donasi bahan, itu sama saja,” tuturnya.

Buy one help one. Semua orang dapat membeli sekaligus beramal. Asri menerangkan, untuk satu pak masker berisi 5 lembar, harganya Rp 50.000. Dua di antaranya akan diberikan kepada tenaga medis. ”Sebanyak 350 masker sudah disebar. Baru ke Malang dan Sumatera,” katanya.

Yang membedakan masker buatan jahitin.com dengan masker lain adalah lubang di antara dua lapis kain. Di dalam lubang itu, bisa ditambahkan tisu sebagai filter.

Beda halnya dengan masker bedah sekali pakai. Karena berbahan spunbond, masker tidak boleh dicuci. Jadi, langsung dibuang. Kalau 50 persen total penduduk Indonesia memakai masker tersebut, sebulan angka limbahnya dapat mencapai 5 miliar masker. ’’Masker kain bisa dipakai 1–3 bulan. Asal dicuci dan disetrika setelah dipakai,” terangnya.

Selain masker, Asri juga membuat baju APD. Beberapa hari lalu, Pemkot Surabaya memintanya untuk membuat baju tersebut sebanyak 28 buah. ”Baru pertama kali. Ke depan mau membuat itu untuk kebutuhan tenaga medis,” ucapnya. ”Tentu kita juga mencari tahu cara pembuatannya. Ada kawan dari kedokteran UI yang memberikan jurnal tentang membuat APD,” imbuhnya.

Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya itu berharap APD tidak menjadi barang langka. Pihaknya akan berupaya memenuhi kebutuhan tersebut untuk mencegah persebaran Covid-19. Dalam satu hari, dia menargetkan 5.000 masker bisa terdistribusi. ”Saatnya kita berperan,” ajaknya.

Penggunaan masker selama pandemi Covid-19 berlangsung sangat penting. Bukan hanya bagi tenaga kesehatan dan pasien, melainkan juga untuk masyarakat umum.”Siapa yang terjangkit? Kita tidak tahu. Bahkan, diri kita sendiri tidak bisa memastikan. Setidaknya masker memberikan barier agar droplet dari dalam tubuh tidak tersebar dan kena orang lain,” pesannya.

Maju terus Asri…

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/ git



Close Ads