
Youtuber Farida Nurhan saat membuat video untuk Youtube di kediamannya, Taman Rasuna. Kini, sudah 170 video yang ada di akun Youtubenya.
Perjalanan hidup selama 17 tahun lalu menjadi masa yang tidak pernah terlupakan Farida Nurhan. Mulai harus tidur tanpa tikar di penampungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di tanah air hingga terbang ke Singapura dan Hongkong. Seiring berjalannya waktu, embel-embel TKI yang melekat pada namanya kini dikubur. Berganti menjadi vlogger dengan ratusan ribu subscribber.
DIMAS NUR APRIYANTO, JAKARTA
TUMPUKAN kenangan seolah dibongkar oleh Farida Nurhan. Perempuan kelahiran Kabupaten Lumajang, Jawa Timur itu membeberkan semua cerita hidupnya di masa lalu. Ya, 17 tahun silam, tepatnya pada 2001, menjadi masa terberat bagi perempuan yang akrab disapa Rida itu. Dia meninggalkan malaikat kecilnya untuk mengadu nasib ke Singapura dan Hongkong. Kepingan rindu disimpan rapat hingga dia kembali lagi ke Indonesia pada
”11 bulan aku kasih ASI dulu ke anak perempuanku (Permesta Dhyaz Ris Putri Wibowo, Red), setelah itu pergi,” kata dia saat membuka obrolan dengan Jawa Pos pada Rabu (23/5). Pilihan tersulit dalam hidupnya ketika dihadapkan pada sebuah pilihan; meninggalkan buah hati demi melanjutkan perjalanan hidup atau diam saja mengharapkan di kampung halaman. Akhirnya, tekad Rida bulat menjadi TKI.
”Ini untuk anakku juga. Anakku kelak tidak boleh sampai kekurangan, jadi aku harus berjuang mati-matian,” tutur Rida. Kenangan sebelum ia pergi dari rumah kala itu masih tersimpan jelas di pikirannya. Awalnya, tidak ada air mata yang mengucur ketika berpamitan dengan keluarga. Sang ibu melarangnya untuk menggendong si jabang bayi yang masih berusia 11 bulan. ”Sudah nggak usah gendong. Pergi saja tidak apa-apa, ini (anak, Red) sama ibu ya,” kenang dia menirukan pernyataan ibunya.
Rida begitu tegar. Dia pergi meninggalkan rumah dan semua kisah manis di dalamnya. Namun, tembok perasaannya sebagai perempuan runtuh. Dia tidak kuat membendung air mata. Di atas motor menuju perjalanan ke penampungan TKI, pipinya dibasahi oleh derasnya air mata yang mengucur. ”Sudah tidak kuat menahan waktu itu. Langsung nangis,” tutur Rida.
Roda waktu berjalan begitu cepat. Perjalanan Rida sebagai TKI berakhir pada 2007. Dua negara dijelajahinya sebagai pahlawan devisa, yakni Singapura dan Hongkong. ”Sudah, setelah ini nggak mau balik lagi (menjadi TKI, Red),” ucap Rida.
Berbagai upaya untuk tetap bertahan di Indonesia dilakukannya. Rida pergi merantau dari kampung halamannya menuju ibu kota pada 2008. Sajian manis dari etalase kota yang tidak pernah tidur membuat Rida merasakan kehidupan baru. ”Dulu, waktu masih sekolah berpikir, besok-besok harus keluar dari kampung halaman. Aku harus kerja di luar kampung halaman,” terang Rida.
Kartu petualangan terus dimainkan Rida hingga kini. Statusnya sebagai mantan TKI tidak membuat dirinya berkecil hati. Justru ia merasa lebih semangat melakukan sesuatu. Ikhtiar panjang menyambung hidup pada masa silam adalah modal berharga sebagai bekal menata masa depan. Termasuk mengadu nasib di kota metropolitan. Kerasnya ibu kota membuat Rida semakin menjadi perempuan tangguh. ”Anakku tak bawa ke Jakarta,” ungkapnya.
Pada akhir 2009, dia berputar otak, berpikir bagaimana caranya untuk tetap hidup bersama sang buah hati di tanah rantau. Rida akhirnya banting setir ke dunia broker properti. Ternyata, keberuntungan mendekapnya erat-erat.
Rida tertawa kecil saat menceritakan pengalamannya saat kali pertama berjualan properti. Dia mengawali dengan mencatat nomor telepon dari pengiklan property di koran. ”Saya naik dan turun ke lantai bawah untuk ngelihat iklan di koran yang ada di security. Nyatet terus tak tayangin ke internet,” tutur dia.
Dia mempertemukan calon pembeli dengan pemilik properti. Hanya bermodalkan kejujuran, Rida mampu menggaet ratusan konsumen properti. Hingga kini jumlah properti yang tengah dipasarkannya mencapai ratusan. ”Sekitaran Rasuna Said saja. Kan tinggal aku sendiri di sini, jadi kerjanya ke tower ini ke tower ini,” ungkapnya.
Kerja keras Rida memasarkan properti membuahkan hasil. Dia tak lagi menyewa apartemen untuk ia tinggali. ”Sekarang ini kalau kemana-mana ya aku sama Dhyaz (anaknya, Red). Dia ini permata aku pokoknya,” ungkap Rida.
Kondisi zaman berubah. Pada Juni 2016 lalu, Rida kepincut masuk ke dalam sebuah kotak digital, Youtube. Saat itu, ia melihat kamera DSLR yang dibelikan untuk Dhyaz tidak terpakai. ”Kenapa nggak dipakai saja,” ucapnya.
Hidup Rida sontak berubah. Pada November 2016, Rida mulai serius membuat video. Status sebagai youtuber atau vlogger ia emban. Alhasil, kini dia menjadi sosok yang dibicarakan di jagat kosmos media sosial. Di channel Youtube Farida Nurhan, nama Rida mulai meroket. ”Di Youtube ini memang aku condong ke video review makanan gitu. Aku suka makan, masak, dan bagi pengalaman yang positif-positif begitu,” papar Rida.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
