
PUNYA DUA PROFESI: Rahman Hadi, pelatih SSB tim Hagana sekaligus anggota PPK Kecamatan Gubeng (4/6).
Mochamad Rahman Hadi menjalani peran ganda sebagai pelatih sepak bola sekaligus penyelenggara Pemilu 2024. Keduanya punya kesamaan, yaitu menang dan kalah. Apa pun hasilnya, peserta kompetisi dituntut berjiwa sportif.
UMAR WIRAHADI, Surabaya
FIRMANSYAH dengan lincah menggiring bola. Bocah berkaki kidal itu berhasil mengelabui dua hingga tiga pemain musuh. Ketika bola sampai ke pertahanan lawan, kaki kanannya menendang bola keras-keras ke arah tiang jauh. Dan goool....
Sorak-sorai kegirangan pecah. Bocah berusia 13 tahun itu berlari ke pinggir Lapangan Kalibokor untuk berselebrasi dengan pemain lainnya. Mereka berangkulan.
Meski sekadar latihan biasa, keseruan sungguh terasa di tengah lapangan yang terletak di Kecamatan Gubeng itu. Talenta-talenta pesepak bola cilik arek-arek Suroboyo sedang berkembang lewat sekolah sepak bola (SSB).
”Selalu menarik melihat perkembangan skill anak-anak tiap hari,’’ kata Mochamad Rahman Hadi, sang pelatih.
Rahman adalah pelatih SSB Haggana FC Kalibokor. Di sekolah sepak bola itu dia menggembleng 35 anak. Dia ditugasi menangani usia 12–13 tahun. Banyak yang memulai kemampuan mengolah bola dari nol.
”Ngajar mulai dari teknik dasar. Seperti bagaimana passing, kontrol, dan menendang yang benar,” tuturnya.
Selain pelatih, Rahman juga tercatat sebagai penyelenggara Pemilu 2024. Dia merupakan anggota panitia pemilihan kecamatan (PPK) Gubeng. Dia harus membagi waktu untuk menjalankan dua profesi itu.
Sebagai pelatih, dia pernah beberapa kali membawa anak didiknya menjuarai turnamen. Salah satunya Liga Persebaya U-13 2022. Dalam turnamen yang diikuti 20 tim SSB se-Surabaya itu, anak asuh Rahman berhasil menjadi kampiun.
Berbeda dengan kariernya sebagai pelatih, menjadi PPK merupakan pengalaman baru bagi Rahman. Namun, Rahman memiliki keyakinan bahwa dua profesi itu punya kesamaan.
Sama-sama harus berjiwa sportif. Layaknya bermain sepak bola, ajang pemilu bagi parpol sebagai peserta pemilu adalah sebuah kompetisi. Hasil akhirnya, pasti ada yang menang dan kalah.
”Maka, kuncinya harus sportif. Olahraga mengajarkan kita untuk berjiwa sportif tanpa main curang,” tuturnya. (*/c6/aph)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
