
CALON SUAMI: Sejumlah warga yang hendak menikah diwajibkan mengikuti kelas catin. Selain mencegah tengkes, kelas itu juga memberikan tambahan pengetahuan bagi calon suami istri.
Selain tes kesehatan, calon pengantin (catin) di Surabaya diwajibkan mengikuti kelas catin. Lewat kelas itu, mereka akan mendapatkan ilmu baru untuk membina rumah tangga agar berjalan harmonis.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
HARI masih pagi, namun Safitri sudah berdandan rapi. Bersama Rizky, calon suaminya, dia bersiap di depan HP. Mereka bukan hendak menelepon kedua orang tuanya untuk meminta restu. Namun, mereka akan mengikuti pelatihan wajib bagi calon pengantin. Namanya kelas catin.
Pemkot mewajibkan calon pengantin asal Surabaya mengikuti kelas catin. Itu menjadi syarat wajib sebelum menikah. Safitri dan Rizky salah satunya. ”Ada dua syaratnya sebelum ke KUA, yaitu tes kesehatan dan tes catin. Kami daftar dulu di aplikasi WargaKu,” ucap Safitri Rabu (17/5).
Sejak tahun lalu, kelas catin wajib diikuti calon pengantin. Sebelumnya, pasangan yang hendak menikah hanya perlu menyetor hasil tes kesehatan dari puskesmas. Sedangkan pembinaan catin berlangsung di KUA.
”Empat jam ikut ini. Ada tesnya juga. Di awal dan akhir kelas. Tesnya soal materi yang diberikan,” kata Fitri, sapaan akrab Safitri.
Di awal kelas catin, pemateri ingin mendengar kemantapan hati catin dengan pilihannya. Mereka menanyakan apakah catin sudah yakin dengan calon istri/suami yang dipilih. ”Di awal malah sempat ditanya, sudah mantap apa belum,” ujar Rizky.
Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati mengungkapkan, kelas catin merupakan upaya Pemkot Surabaya untuk memantapkan hati setiap pasangan yang hendak naik ke pelaminan. Bekal hidup bukan semata soal cinta. Banyak hal yang harus diketahui saat memasuki kehidupan baru, paling tidak sudah punya bayangan seperti apa nanti.
Kelas itu diwajibkan bagi pasangan yang akan menikah. Pasangan yang bercerai dan menikah lagi juga wajib mengikuti kelas tersebut. Jadi, jangan heran apabila yang mengikuti kelas catin itu bukan pasangan muda saja.
”Bahkan, pernah ada yang usianya 70 tahun. Dia masih sangat semangat ikut. Empat jam materi ikut terus sampai selesai,” kata Ida.
Peserta yang sudah memiliki anak besar juga banyak. Biasanya, mereka dibantu anaknya untuk mengurus login ke aplikasi Zoom. Sebab, kelas catin berlangsung secara daring dan luring. ”Materinya banyak, mulai tentang landasan spiritual, psikologis, keuangan, hingga reproduksi. Materi-materi itu disesuaikan dengan kebutuhan catin,” katanya.
Misalnya, soal keuangan. Setelah menikah, suami baru tahu istri suka belanja online. Karena sebelumnya tidak saling tahu, akhirnya menjadi masalah. Maka setelah ada kelas catin, keduanya bisa membuat komitmen bersama.
”Adanya pretest dan post-test juga sebagai dasar seberapa dalam mereka memahami landasan untuk berumah tangga. Saat pretest itu mayoritas pasti nilainya di bawah 50. Tapi saat post-test, pasti naik,” ujarnya. (*/c6/aph)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022