Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Mei 2023 | 14.48 WIB

Hendri Andrianto, Ubah Lahan Kosong Jadi Kolam Khusus Pemancingan Ikan Monster

STRIKE: Hendri Andrianto (kiri), owner Monster Fishing Park, bersama Aldi (kanan) menunjukkan ikan monster red tail catfish hasil pancingannya, Minggu (7/5). - Image

STRIKE: Hendri Andrianto (kiri), owner Monster Fishing Park, bersama Aldi (kanan) menunjukkan ikan monster red tail catfish hasil pancingannya, Minggu (7/5).

Sejak muda, Hendri Andrianto jatuh hati pada ikan-ikan monster. Semula, dia hanya memiliki 1.000 ekor. Kini koleksinya sudah mencapai 15 ribu ekor yang dipelihara dalam kolam terbuka.

YUDHA FURY KUSUMA, Surabaya

HENDRI Andrianto begitu bersemangat saat menceritakan jenis ikan monster hingga asal negaranya. Pemilik Monstero Fishing Park di Jalan Lingkar Timur, Desa Gebang, Sidoarjo, itu jatuh cinta pada ikan monster ini sejak masih lajang. ”Saya pelihara ikan monster itu sejak masih muda,” ujarnya.

Bagi Andri, sapaan akrabnya, ikan berukuran jumbo itu sudah seperti teman dekat. Dia mengubah lahan kosong yang awalnya persawahan menjadi kolam seluas kurang dari 2.000 m² untuk memelihara beragam ikan monster pada 2013.

”Saat ini ada empat kolam. Yang paling kecil ukuran 2.000 m² dan yang paling luas ada di belakang sekitar 1 hektare,” jelas Andri.

Jenis ikan yang dipelihara bervariasi. Ikan itu didatangkan dari luar negeri. ”Ada red tail catfish, kakap putih, bawal, hingga Chao Phraya atau lebih dikenal dengan ikan Genghis Khan si hiu air tawar asal Sungai Mekong, Thailand, dan masih banyak lagi lainnya,” papar Andri.

Ikan didatangkan dalam ukuran kecil, lalu dibesarkan hingga siap dibaurkan dengan ikan lainnya di kolam.

Kolam ikan didesain khusus. Andri mengadopsi konsep danau di Vietnam. Mulai bentuknya yang tidak kotak-kotak seperti umumnya kolam hingga pinggir kolam yang diisi dengan batu sungai berukuran kecil-kecil untuk habitat ikan kecil. Kelak, ikan kecil itu berfungsi sebagai makanan alami ikan monster.

Ikan monster di kolam diberi makanan sehari sekali. Mulai daging ayam, daging ikan segar, hingga makanan buatan pabrik seperti pelet. Takaran pakan disesuaikan agar makanan habis dilahap tak bersisa.

Menurut Andri, sisa makanan bisa mengakibatkan penurunan kualitas air. Terlebih, di kawasan Sidoarjo, kualitas airnya tak sebaik di kawasan pegunungan. Dalam sebulan, dia menghabiskan sekitar 1 ton pakan ikan.

Selang beberapa tahun, Andri memutuskan untuk memanfaatkan kolamnya sebagai kolam pemancingan. Tujuannya, membagikan pengalamannya memancing ikan monster ke warga.

”Awalnya, hanya ada 2.000 ekor ikan yang bisa dipancing,” jelas Andri.

Melalui kolam pancing ini, Andri ingin berbagi rezeki. Saat ini dia sudah memiliki 20 karyawan. Mereka berasal dari warga sekitar. Jumlah ini akan bertambah hingga dua kali lipatnya bila sedang ada event tertentu. Dalam sehari, kolam pemancingan mampu mencatat omzet Rp 15 juta–Rp 20 juta.

”Kami patut bersyukur, dengan jumlah karyawan yang ada, kami tetap hidup, bahkan saat pandemi melanda kemarin selama dua tahun,” tutur Andri.

Salah seorang pemancing, Suroso, rela jauh-jauh datang dari Malang hanya untuk mengejar ikan hiu air tawar. ”Ikan Genghis Khan (GK) ini sangat susah didapat. Tapi, begitu dapat, perlawanannya luar biasa hebat,” ucapnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore