LEGA: Rachmat Irianto menyelesaikan ujian skripsi dan tinggal menanti jadwal wisuda.
Di tengah kesibukannya sebagai pesepak bola, Rachmat Irianto tak lupa dengan pendidikan. Selasa (18/4) siang pemain Persib Bandung itu menjalani sidang skripsi. Fase akhir dari perkuliahan yang dijalani sejak 2018 di Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
FARID S. MAULANA, Surabaya
WAJAH Rian –sapaan Rachmat Irianto– terlihat tegang ketika akan memasuki ruangan di lantai 2 Gedung U4, ruang sidang skripsi FIKK Unesa. Dia sudah ditunggu empat dewan penguji.
Yakni, Prof Dr Nurhasan, M. Ridwan, Dwi Cahyo Kartiko, dan satu penguji via online Zainudin Amali. ”Ngalah-ngalahi bal-balan ini deg-degannya,” paparnya.
Keempatnya siap menguji hasil skripsinya yang berjudul Profil Atlet Sepak Bola Rachmat Irianto dalam Proses Pencapaian Prestasi. Skripsi yang dikerjakannya beberapa bulan terakhir. ”Saya kerjakan ya di sela-sela latihan dan pertandingan,” ucap Rian.
Meski awalnya terlihat tegang, ketika memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan dosen penguji, Rian terlihat tenang. Dia hafal dan mengerti isi skripsi yang dikerjakannya itu. ”Ya, karena tentang diri saya sendiri. Tapi jujur, sidang lebih sulit daripada menghadang penyerang lawan,” paparnya.
Sekitar dua jam anak asisten pelatih Persebaya Surabaya Bejo Sugiantoro itu menjalani sidang skripsi. Hasilnya? Rian berhasil lulus. Tinggal menunggu pengumuman wisuda. Rian pun lega.
”Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah,” ungkapnya.
Mantan pemain Persebaya itu menyatakan, pendidikan baginya sangat penting. Selain bisa menaikkan kualitas hidup, pendidikan ternyata membantu performanya di lapangan.
”Kalau otak encer, kalau punya pendidikan, untuk mengerti taktikal dan mengambil keputusan di lapangan akan cepat. Pendidikan itu harus beriringan dengan prestasi,” bebernya.
Rian beruntung. Karena skripsinya dinilai bagus, dia langsung ditawari beasiswa di Unesa. Biaya pendidikan hingga S-3 akan digratiskan. ”Insya Allah saya akan ambil kesempatan emas ini. Saya ingin jadi dosen dan jadi pelatih besok kalau sudah tidak main bola lagi,” terangnya.
Bejo Sugiantoro bangga atas apa yang sudah diraih sang anak. Pendidikan yang didapat melebihi dirinya yang hanya lulus SMA. ”Rian juga membuktikan prestasi di lapangan bisa beriringan dengan pendidikan. Jadi, pendidikan itu sangat penting untuk pesepak bola,” ungkapnya.
Zainudin Amali mengatakan, Rian adalah sosok yang spesial. Tidak banyak pesepak bola yang kariernya bisa sukses seiring dengan pendidikan formalnya. ”Dia pemain timnas, main di klub elite, tapi masih bisa mengerjakan skripsi dengan baik,” tuturnya.
Mantan Menpora itu berharap apa yang didapat Rian bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Khususnya pesepak bola muda. ”Saya berharap Rian juga bisa memotivasi teman-temannya dan adik-adiknya yang juga sedang berjuang di karier sepak bola dan pendidikan,” tuturnya. (*/c19/ali)
Tags
Artikel Terkait
Terpopuler

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK



