LIBATKAN WARGA: 1000 Days Fun bermitra dengan kader yang notabene orang lokal untuk menyukseskan program pemberantasan tengkes. (1000 Days Fun untuk Jawa Pos)
Tengkes atau stunting adalah momok bagi Indonesia. Namun, jumlah tenaga kesehatan pemerintah terbatas. Perlu dukungan masyarakat. 1000 Days Fund hadir memberdayakan kader sebagai ujung tombak.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
---
MIRAWATI, seorang ibu rumah tangga di Pulau Papagarang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ingat ketika anaknya berusia 1 tahun. Berat dan tinggi badan si kecil stagnan. ”Kami sedih. Cemas,” kata Mirawati seperti dalam film Indonesia’s Silent Emergency: Stunting in Rural Populations. Film dokumenter itu karya Nayla Punjabi bersama MD Entertainment Foundation dan 1000 Days Fund. Lokasi Pulau Papagarang tidak jauh dari kawasan superprioritas Taman Nasional Komodo.
Kawasan tersebut memang daerah miskin. Berdasar Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka stunting di NTT mencapai 37,9 persen. Jumlah itu melampaui prevalensi stunting nasional yang menyentuh 21,5 persen.
”Disuruh makan makanan bergizi dan alhamdulillah sudah normal kembali,” kata Mirawati. Upaya itu dilakukan berdasar informasi yang diberikan kader kesehatan. Yakni, pentingnya asupan makanan sesuai kebutuhan gizi. Selain itu, perlunya pemeriksaan tumbuh kembang dan imunisasi.
Perubahan pengetahuan Mirawati tersebut juga dirasakan ibu-ibu lain di desanya. Hasil kerja keras kader untuk door-to-door menyuarakan tengkes dan cara mengatasinya mulai terlihat. Kader memberikan sosialisasi sejak ibu masih mengandung dan mendampingi selama perawatan.
Pada Kamis (19/9) Jawa Pos mewawancarai COO 1000 Days Fund dr Rindang Asmara-Petersen. Dia menceritakan pengalamannya dalam melihat tengkes. Menurut Riri, sapaan akrabnya, tengkes merupakan fenomena gunung es. ”Penyebabnya banyak sekali. Masalah stunting sangat kompleks, tetapi solusinya sederhana,” katanya.
dr Rindang Asmara-Petersen. (1000 Days Fun untuk Jawa Pos)
Riri menyatakan, cara yang dilakukan 1000 Days Fund adalah melatih pekerja kesehatan masyarakat dan profesionalisasi kader. Namun, pelatihan itu tidak hanya solusi sementara.
”Fokus pada pengawasan, keterampilan, gaji, persediaan, dan keberlanjutan para pekerja kesehatan masyarakat yang akan menyelamatkan generasi anak-anak dari stunting,” tuturnya.
Sering kali tengkes dikaitkan dengan makanan. Apa yang dikonsumsi anak saat 1.000 hari pertamanya dianggap jadi pencetus tengkes. Makan kenyang setiap hari belum tentu anak tidak tengkes. Misalnya, anak mengonsumsi jajanan kemasan atau makanan tinggi gula saja. ”Masalah utama tengkes itu akses. Banyak orang yang berpikir hanya makanan,” ujarnya.
1000 Days Fund memiliki empat center of excellence penanganan tengkes di NTT. Yakni, di Manggarai Barat, Kupang, Rote Ndao, dan Timor Tengah Selatan. Dari center of excellence tengkes itu, ada beberapa kesamaan, yakni masih ditemukan orang tua yang sebenarnya punya uang, tapi anaknya mengalami tengkes.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
