
PEJUANG DAN SENIMAN: Didit Hape dan istrinya berada di rumah dinas TVRI. Mereka berencana tinggal di Sanggar Alang-Alang. (Wahyu Zanuar Bustomi/Jawa Pos)
Dikenal mencetak banyak musisi jalanan, kini nasib Sanggar Alang-Alang di ujung tanduk. Berbagai cara pun dilakukan agar sanggar terus berjalan. Termasuk menjual beberapa alat musik.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
DIDIT Hari Purnomo kini resah. Keinginannya agar Sanggar Alang-Alang hidup panjang bisa saja gagal. Pria kelahiran Lumajang itu sedang diterpa ujian. Datangnya pun bersamaan. Bukan hanya soal operasional sanggar, melainkan juga masalah tempat tinggal. Sebab, rumah dinasnya diminta untuk dikosongkan.
Sudah 23 tahun Sanggar Alang-Alang berdiri. Waktu yang tidak singkat. Sebagai jurnalis TVRI, saat itu Didit Hape –sapaannya– menyisakan penghasilannya untuk membuat sanggar.
Termasuk mengontrak rumah di Jalan Gunungsari Nomor 24. Sementara, dia menempati rumah dinasnya di kompleks Perumahan TVRI Nomor 2, Dukuh Pakis.
Didit memang pensiun sejak 15 tahun lalu. Tapi, operasional sanggar masih harus berjalan. Rumah kontrakan di Jalan Gunungsari itu juga tetap beroperasi. Ada 107 anak sanggar yang hingga kini belajar di sana. Ada juga 30 ibu-ibu.
Selain anak-anak, Sanggar Alang-Alang membina orang tua siswa. Khususnya ibu-ibu. Tujuannya, mengubah pola pikir mereka. Salah satunya tentang pentingnya pendidikan bagi anak.
Usia Didit kini sudah 70 tahun. Enam tahun lalu, semua urusan operasional sanggar diserahkan ke istrinya, Endang Budha Retnowato. Saat itu operasional sanggar juga mulai terguncang.
Sebab, Didit sudah tidak memiliki pemasukan lagi. ’’Saya cuma yakin insya Allah ada jalan,’’ ujar Didit Rabu (18/1) siang.
Biaya operasional sanggar rupanya tidak sedikit. Setiap hari ada program rangsangan kegiatan belajar. Anak-anak diberi snack agar mau belajar. Sebulan butuh sekitar Rp 4–5 juta. Belum lagi, biaya sewa sanggar per tahun Rp 10 juta.
Itu pun sudah dikorting pemiliknya. Didit mulai kehilangan semangat. Tepatnya, beberapa bulan terakhir. ’’Saya sekarang gelisah, ya mikir rumah ya sanggar,’’ ungkapnya.
Karena rumah dinasnya diminta dikosongkan, Didit sempat mau pulang ke desanya di Lumajang. Dia sudah menghubungi keluarganya di sana.
Tapi, istrinya tidak rela. Karena jika Didit balik desa, sanggar bisa berhenti. Sementara, ada ratusan anak yang menggantungkan impiannya di sanggar.
Berbagai cara pun dilakukan Didit dan istrinya. Termasuk menjual peralatan hingga berutang. Drum, gitar elektrik, dan akustik dijualnya di pasar loak.
Tujuannya, sanggar tetap beroperasi. Menurut dia, selain karena terpaksa, anak-anak juga tidak seperti dulu. Sekarang mereka fokus belajar musik tradisional dan melukis.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
