
SAKSI ABADI: Dari kiri, Manajer Pengendalian Proses PDAM Surya Sembada Surabaya Agus Salim, staf senior Divisi Pengendalian Proses Forneo Hali Saputro, staf senior humas Widya Rizky, dan staf Divisi Pengendalian Proses Angga Christian Hananta saat menunju
PDAM Surya Sembada Surabaya resmi berstatus BUMD pada 1976. Namun, sebenarnya penyedia air bersih bagi warga metropolis itu sudah beroperasi jauh di masa penjajahan kolonial. Banyak arsip yang ditinggalkan di sana. Mulai catatan pelanggan tertua hingga cetak biru distribusi air dari Pasuruan ke Surabaya dengan kereta api.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
KOTAK besi berukuran panjang 1 depa dan tinggi sedada itu menyimpan banyak kertas yang sebagian sudah berwarna lusuh. Aroma khas buku yang sudah berumur menyeruak begitu kotak dibuka. Di dalamnya banyak lembaran berukuran tiga kali poster A3.
Itulah kumpulan gambar rencana berbagai proyek sebelum hingga sesudah penyedia air tersebut menjadi perusahaan pelat merah. Mulai rancangan pembangunan pompa di Pasuruan sampai mengalir ke Surabaya hingga sistem perpipaan di sumber mata air.
Air bersih masuk Surabaya kali pertama pada 1890-an. Sumbernya adalah mata air di Desa Purut, Kabupaten Pasuruan. Saat itu belum ada sistem jaringan pipa yang dibangun.
’’Air dibawa naik kereta. Lalu, air didrop di tandon di puncak kawasan Wonokitri. Lokasi itu dipilih karena posisinya tinggi dan bisa membantu distribusi air. Sekarang masih ada bangunannya dan menjadi cagar budaya Surabaya,’’ ujar Manajer Pengendalian Proses PDAM Surya Sembada Surabaya Agus Salim.
Nah, baru pada 1901 seorang warga Belanda, Carel Willem Weijs, diberi kewenangan mengelola air sumber di Pasuruan dan mengalirkannya ke Surabaya. Pembangunan pipa air dimulai. Baik pipa transmisi, distribusi, maupun sirkulasi, panjang totalnya mencapai 298 kilometer. Butuh waktu 2,5 tahun untuk menyelesaikan itu semua.
’’Uniknya, semua arsip lama itu masih berupa tulisan dan gambaran tangan. Tulisannya gedrik (Latin, Red), sangat rapi seperti bukan tulisan tangan. Bahasanya pakai bahasa Belanda, medianya pakai kertas kalkir,’’ kata Staf Senior Divisi Pengendalian Proses Forneo Hali Saputro.
Rapinya luar biasa seperti sudah dikerjakan komputer canggih. Garis per garis hampir tidak ada cacat. Bahkan, di beberapa catatan sudah ada efek pewarnaan sehingga gambar pipa bundar 2D tampak seperti 3D.
Di ruangan sempit di antara lemari besi itu, terselip juga data-data pelanggan. Mulai nomor 1 hingga sekarang yang sudah di angka 690 ribuan. Kondisinya masih rapi dengan warna menguning pertanda usia yang tak lagi muda.
Per lembar surat ditulis tangan. Rapi, setiap tulisan tegak bersambung, membentuk garis tebal tipis yang paripurna. Seperti salah satu buku tebal seukuran A4. Memuat data pelanggan nomor 200–300.
Di antara banyak data itu, ada lembaran yang menunjukkan peta bergambar kawasan Jalan Tunjungan dan Embong Malang. Di sana termuat gambar peta jalan dan pipa air dengan keterangan ’’eigenaar societeit simpang’’ yang artinya milik masyarakat simpang.
’’Data-data ini masih kami simpan rapi dan terawat. Sebab, ini seperti cagar budaya PDAM Surya Sembada Surabaya. Setiap enam bulan kami juga lakukan fumigasi agar terhindar dari jamur,’’ paparnya.
Tidak mau menyesal, PDAM Surya Sembada pun kini mengabadikan dokumen-dokumen berusia lebih dari satu abad itu. Semua berkas di-scan menjadi arsip digital. Peta-peta jaringan digambar ulang dan diaplikasikan ke data geographic information system (GIS).
’’Itu kami mulai pada 1980-an. Kami proses terus sambil peningkatan ke sistem yang lebih modern. Kalau dihitung, capaian sekarang sudah lebih dari 80 persen,’’ kata Forneo.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
