
MASTER INSTRUMEN: Elizabeth Michelle Heryawan di depan piano. Dia mendalami piano sejak usia 7 tahun. (Mariyama Dina/Jawa Pos)
Menyelesaikan studi gelar master di usia yang baru beranjak kepala dua ternyata bukan hal mustahil bagi Elizabeth Michelle Heryawan. Pada Juli lalu, dia diwisuda dari Australian Institute of Music (Piano Performance) di Sydney. Studinya tanpa melewati S-1.
MARIYAMA DINA, Surabaya
BERMAIN piano sejak usia 7 tahun membuat Michelle mengenal piano jauh lebih cepat. Bahkan, saat masih duduk di bangku SMA, Michelle telah meraih beberapa gelar diploma, rekor Muri, hingga rekor dunia. Dari prestasi-prestasi itulah, dia mencoba untuk menata pendidikannya mendalami musik piano dengan lebih cepat.
”Di kelas XII SMA itu akhirnya aku mulai menyusun portofolioku. Dari prestasi, rekor-rekor yang pernah aku raih, sampai pernah menjadi bintang tamu di beberapa televisi aku sertakan,” cerita Michelle saat ditemui di studionya di daerah Mulyorejo Rabu (31/8) lalu. Portofolio itu disusunnya untuk melamar ke jenjang master. Bukan lagi jenjang sarjana S-1.
Ide tersebut tentu terlihat tidak masuk akal awalnya. Sebab, jenjang pendidikan biasanya harus dijalani secara berurutan. ”Tapi, waktu itu aku mikir bahwa S-1 bakal ngulang pelajaran-pelajaran yang udah pernah aku dapet. Jadi, coba aja langsung apply ke jenjang master. Dan, ini juga saran dari almarhum papa yang memang sangat visioner,” sambungnya.
Ide itu sebenarnya mendapat respons yang tidak didukung dari orang-orang di sekitarnya. ”Karena memang banyak yang berpikir nggak mungkin bisa setelah lulus SMA, langsung ambil master S-2. Pasti harus S-1 dulu,” ujar Michelle menirukan beberapa komentar orang saat itu.
Namun, setelah melamar ke beberapa universitas, salah satu universitas di Australia pun memberikan penawaran yang spesial. Yakni, mengambil S-2 dengan durasi dua tahun di Australian Institute of Music Sydney.
Pada 2019, di usia 18 tahun, Michelle menjalani dunia perkuliahan untuk kali pertama. Di luar negeri dan langsung duduk di bangku S-2.
”Jadi, paling muda banget waktu itu. Banyak yang kaget dan nggak percaya. Soalnya umur temen-temen sekelas udah sekitar 24–25 tahun,” kenangnya.
Kesempatan mengikuti kelas S-2 lebih cepat dimanfaatkannya dengan baik. Yakni, mengembangkan riset yang selama ini sudah ada di kepalanya. Tentang bagaimana mengombinasikan nada gamelan ke instrumen umum. Khususnya piano.
”Karena selain main piano, sebenarnya aku sempat belajar gamelan waktu sekolah. Tapi, memang cuma sekilas-sekilas di jam ekstrakurikuler,” jelasnya. Namun, karena kenal dengan nada-nada gamelan itu, Michelle jadi jatuh cinta. Sama halnya bagaimana Michelle kecil yang jatuh hati pada piano.
Dari pengetahuannya soal nada-nada piano dan gamelan itu, perempuan yang kini sudah berusia 21 tahun tersebut punya cita-cita untuk bisa mengenalkan nada-nada gamelan lewat instrumen piano lebih luas lagi. Lebih mendunia lagi. ”Musik Indonesia itu bener-bener bagus. Jadi, semua orang harus tahu itu,” imbuhnya.
Ide risetnya itu disambut baik oleh supervisor maupun profesor pengujinya. Bahkan, profesor yang mengujinya selalu mengingat risetnya tersebut saat beberapa kali berpapasan dengannya.
”Dan, dia selalu bilang bahwa risetku itu jadi percontohan dan selalu dibawa ke kelasnya kalau ngajar soal musik daerah,” tambahnya.
Tidak hanya itu, pengalamannya saat wisuda juga tak terlupakan. Michelle ditunjuk untuk memberikan speech mewakili seluruh wisudawan S-1 sampai S-2 yang wisuda saat itu. ”Ditunjuk ini pun, aku dapat e-mail permintaannya bener-bener bikin kaget. Soalnya seminggu sebelum wisuda. Dan, itu ternyata atas rekomendasi dari dosen-dosen,” ceritanya lagi.
Namun, mendapat kepercayaan besar seperti itu tentu membuat Michelle senang. Sebab, dia dianggap pantas untuk mewakili para wisudawan. Meski, usianya benar-benar masih muda untuk menjadi perwakilan para wisudawan S-1 hingga S-2 saat itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
