
Pengacara Alvin Lim semasa hidup. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
LQ Lawfirm belum lama ini membuka cabang di Kota Pahlawan. Siapa sangka, Alvin Lim, pendiri kantor pengacara itu, punya cerita hidup yang tidak biasa.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
INGATAN Alvin melayang ke tahun 1997. Kira-kira sekitar enam bulan setelah dia menempuh pendidikan jurusan ekonomi di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat. Kabar mengejutkan datang dari sang ayah yang tinggal di Indonesia. Dia mengaku sudah tidak bisa membiayai kuliahnya. Sebab, perusahaan yang dikelola harus gulung tikar imbas dari krisis ekonomi.
Alvin bingung. Terlebih, dia juga tidak bisa pulang ke Indonesia. Uang pegangan yang selama ini berasal dari kiriman ayahnya hanya cukup untuk kebutuhan selama beberapa hari ke depan. ’’Usaha papa hancur. Nggak bisa kirim uang lagi, sekalipun untuk pulang,” katanya kepada Jawa Pos.
Tidak hanya harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya setelahnya. Alvin juga terpaksa angkat kaki dari asrama mahasiswa yang ditinggali lantaran tidak bisa membayar.
’’Di sana sendirian. Nggak ada keluarga sama sekali,” ungkapnya.
Alvin sebelumnya tidak pernah berpikir bisa bersekolah di Amerika Serikat. Keluarganya berantakan. Orang tuanya bercerai sejak dia masih bayi. ’’Ikut mama, tetapi cuma sampai sekolah dasar,” terangnya.
Dia kemudian mencari ayahnya yang tidak pernah dikenal sejak kecil. Belakangan, dia tahu sang ayah adalah pemilik sejumlah bank swasta di Jakarta. Alvin diminta kuliah setelah pertemuan itu. Dia dikirim ke Amerika Serikat. Dengan harapan, setelah lulus dia bisa bekerja di bank milik ayahnya.
Namun, takdir berkata lain. Alvin justru terombang-ambing di perantauan setelah terjadi krisis moneter.
Alvin kemudian menetap di tempat penampungan gelandangan. Uang simpanan dihemat sedemikian rupa. Dia menjatah satu kaleng sarden untuk lauk makan. ’’Biar mendapat penghasilan, saya mencari kerja,” tuturnya. Alvin sampai bekerja di tiga tempat sekaligus agar ekonominya tertata.
Kegigihannya menampakkan hasil seiring waktu. Alvin punya tabungan. Dia memakai sebagian untuk membeli mobil dengan sistem kredit. ’’Mobil itu saya jadikan rumah. Diparkir di halaman minimarket,” ucapnya.
Dua tahun berlalu. Alvin diterima sebagai teller bank swasta. ’’Dalam tiga bulan sudah naik jabatan,” jelasnya. Dia dianggap gigih bekerja sehingga ditempatkan di bagian personal bankir. Gajinya lebih besar.
Namun, Alvin tidak puas diri. Kinerja apiknya terus dijaga. Hingga kabar baik datang sekitar tiga bulan selanjutnya. ’’Naik jabatan lagi jadi asisten manajer,” terangnya.
Alvin ingat, belum setengah tahun dengan jabatan baru itu, dia kembali naik jabatan sebagai kepala cabang. Dia pun mendapat kesempatan kuliah dari perusahaan. Alvin akhirnya melanjutkan pendidikan di Universitas California. ’’S-2 saya kuliah lagi, tetapi ambil jurusan perbankan agar berkaitan dengan pekerjaan,” tuturnya.
Alvin memilih Universitas Colorado yang dekat dengan tempat kerja. Hingga ilmu yang didapat membuatnya mendapat kepercayaan sebagai wakil presiden bank.
Rumah tangga Alvin karam. Setelah dua tahun menikah, dia dan istrinya cerai. Keduanya bercerai sekitar dua tahun menikah. ’’Ada anak satu. Usia 1 tahun waktu cerai,” kata Alvin.
Belum ada keputusan hak asuh. Bayi itu dibawa Alvin. Tetapi, suatu waktu sang ibu mengambilnya di rumah. ’’Diasuh asisten rumah tangga. Kebetulan saya sedang keluar,” ujarnya.
Alvin emosi. Dia mendatangi rumah mantan istri. Namun, anaknya tidak ada. Dia lantas mendapat kabar bahwa anaknya disembunyikan di sebuah rumah lain.
Alvin mendatangi tempat itu dan mengambil anaknya. Namun, dia lantas dilaporkan ke polisi oleh mantan istrinya. ’’Dugaan pidananya bukan penculikan, melainkan pencurian anak,” kata Alvin, kemudian terkekeh. Dia sempat mendekam di penjara selama delapan bulan.
Berkaca dari kasus itu, dia berniat mempelajari ilmu hukum. Alvin tidak ingin mengulangi pengalaman tersebut. ’’Kuliah di STIH Gunung Jati, Tangerang,” sebutnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
