Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Januari 2024 | 20.36 WIB

Semangat Punk di Kalangan Akademisi, ke Simposium Pakai Kaus Band atau Celana Pendek, Silakan Saja

BUKAN KONFERENSI BIASA: Tim PSN  Indoensia peserta di perhelatan luring pertama pada Desember 2023. - Image

BUKAN KONFERENSI BIASA: Tim PSN Indoensia peserta di perhelatan luring pertama pada Desember 2023.

Berangkat dari isu joki karya ilmiah dan Kampus Merdeka, Punk Scholars Network (PSN) Indonesia menghelat simposium bertema punk dan pedagogi. Bagi akademisi penghayat punk, kelas adalah skena, tempat diskusi, dan pertukaran informasi berlangsung.

ACARANYA simposium. Tapi, sama sekali jauh dari kesan formal. Sangat ngepunk. Tidak ada aturan berpakaian, hadirin pun mengenakan gelang layaknya di konser-konser musik.

"Boleh datang pakai kaus band, celana pendek. Tato kelihatan juga nggak masalah,” kata penggagas Punk Scholars Network (PSN) Indonesia Muhammad Fakhran al Ramadhan.

PSN Indonesia tempat para akademisi di tanah air menghayati semangat punk, gerakan yang muncul pada 1970-an pasca era Hippie. Secara garis besar, punk adalah semangat kebebasan, do-it-yourself, serta keberanian ’’melompati pagar” yang disebut kemapanan.

Mereka yang bergiat di PSN Indonesia meyakini subkultur tersebut sangat dekat dengan segala aspek kehidupan. Itu misalnya mereka perlihatkan dalam rangkaian kegiatan yang dihelat tiap Desember.

Simposium tadi contohnya. Suasananya punk, dengan bahasan serius –bertajuk PSN 10th Annual Conference & Postgraduate Symposium: Punk & Pedagogy in Indonesia– dan dihadiri beragam kalangan. Ada dosen dan mahasiswa, ada pula penggemar punk yang sekadar silaturahmi.

Ada pula seminar, diskusi buku, serta skrining film yang dilanjutkan diskusi. Sesuai jiwa PSN Indonesia yang mewadahi akademisi atau pebelajar, tema simposium dipilih yang dekat dengan pendidikan: punk dan pedagogi.

Fakhran menyatakan, idenya muncul dari dua isu pendidikan yang ramai di pertengahan tahun lalu. Pertama, maraknya dosen yang menggunakan joki untuk penerbitan karya tulis. Kedua, Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau MBKM, kebijakan baru Kemendikbudristek yang menjembatani pendidikan tinggi dan dunia industri.

Tema itu pun mendapat respons antusias. Reviewer sekaligus editor PSN Indonesia Raden Arief Nugroho menyebut, ulasan yang masuk tak melulu berpusat pada punk.

Ada beberapa paper yang justru sangat pedagogis. Alias spesifik pada cara pengajaran. Dia mencontohkan, Pendampingan Pelajaran Katolik secara Cura Personalis bagi Anak Disabilitas Intelektual tulisan katekis (pengajar agama) Paskalis Dimaz Priambodo.

Cura personalis merujuk pada penghormatan dan perhatian pada tiap pribadi. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, itu, jurnal-jurnal yang masuk merefleksikan sisi lain punk.

’’Orang mungkin menganggap punk dengan ideologi atau filosofinya itu negatif atau gimana, tapi banyak juga mereka yang punya semangat ini bisa membawa manfaat buat kemanusiaan. Yang dalam hal ini pendidikan,” lanjutnya.

Dalam seleksi pun, sebut Arief, tim PSN Indonesia memberlakukan standar yang ketat. Kaidah penulisan layaknya karya tulis ilmiah tetap diterapkan.

Penjadwalan pengumpulan pun dikawal betul. Fakhran menyatakan, dari 16 karya terpilih, hanya sekitar sembilan orang yang mengumpulkan tulisan. Karya-karya tersebut nanti dihimpun dan disunting sebelum diterbitkan secara digital via laman resmi PSN Indonesia.

Fakhran dan Arief menilai, semangat punk sebenarnya ada di dunia pendidikan serta diakui dan bahkan disukai. ’’Kita lihat sekolah alam, yang membebaskan muridnya untuk kreatif, sekarang banyak diincar orang tua,” kata Arief.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore