Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Desember 2023 | 18.30 WIB

Ikhtiar Mengurangi Demam Berdarah Dengue dengan Bakteri Wolbachia, Melawan Nyamuk dengan Nyamuk

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara II Senayan, Jakarta, Rabu (30/8/2023). - Image

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung Nusantara II Senayan, Jakarta, Rabu (30/8/2023).

Mulai fogging, kampanye pengendalian jentik, hingga pengerahan kader sampai dusun-dusun sudah dilakukan. Kini, cara baru dijajal untuk menekan demam berdarah dengue: melawan dengan bakteri.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

---

SOMASI itu ditujukan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ditandatangani lebih dari 100 orang dari beberapa organisasi. Intinya, meminta penghentian sementara penyebaran nyamuk Wolbachia. Mereka khawatir akan terjadi wabah.

Namun, Budi menilai langkah pemerintah sudah tepat. Nyamuk dengan bakteri Wolbachia di dalamnya sudah dilakukan penelitian ilmiah yang bermula di Jogjakarta 10 tahun silam. ’’WHO menerimanya sebagai salah satu metode mengurangi dengue,’’ tuturnya, Sabtu (23/12).

Kemenkes mencatat, sejak Januari hingga November tahun ini, ada 76.449 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 571 kematian. Padahal, pemerintah menargetkan pada 2030 dapat mengeliminasi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu. Nah, menyebarkan nyamuk Wolbachia diharapkan bisa menekan DBD.

Lima kota dicoba menjadi lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia. Yakni, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang.

Di Kupang, misalnya, penyebaran dilakukan sejak akhir Oktober.

Kemenkes menyebar ember berisi telur nyamuk yang sudah terdapat bakteri Wolbachia. ’’Kami melihat Wolbachia bagus. Makanya kami lakukan pilot project, dan Kupang salah satunya,’’ tutur Budi saat menghadiri pelaksanaan pilot project di Kupang.

PENELITIAN ILMIAH: Sosialisasi implementasi Wolbachtia untuk mencegah DBD di Semarang.

Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, menjadi percontohan. Di sana, angka DBD yang banyak dengan kesakitan tertinggi. Apalagi, Kecamatan Oebobo termasuk berpenduduk padat.

Telur nyamuk yang dibagikan kepada warga akan menetas setelah dua minggu. Bukan hanya itu, warga juga diberi pakan nyamuknya. Mirip ternak. Kecamatan itu butuh 700 ribu telur setiap minggu. Pengamatan terus dilakukan hingga kini.

Diharapkan, dalam setahun, populasi nyamuk dengan Wolbachia sampai 80 persen dari populasi nyamuk Aedes aegypti yang merupakan inang pembawa dengue. ’’Mudah-mudahan dengan pilot project ini, penularan dengue yang lumayan banyak bisa menurun,’’ harap Budi.

Peneliti nyamuk Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada Adi Utarini menuturkan, sejak 2016, hasil penyebaran nyamuk Wolbachia di Jogjakarta sudah berjalan efektif. Dengan nyamuk Wolbachia dalam populasi nyamuk di Jogjakarta, kasus DBD sudah turun 77 persen. Bahkan, tercatat perawatan untuk kasus DBD juga turun hingga 86 persen. ’’Angka kejadian DBD saat ini terendah sejak 30 tahun lalu,’’ ungkapnya dalam kesempatan terpisah.

Hasil itu menjadi legasi keberhasilan nyamuk Wolbachia dalam menekan dengue. Peneliti pun melapor ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). ’’Rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory group (VCAG),’’ terang perempuan yang akrab disapa Uut itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore