
PENYIMPANAN AIR: Dua petugas mengecek kondisi tandon air di Wonokitri. Bangunan peninggalan Belanda itu masih terawat.
Sebelum PDAM Surya Sembada berdiri, air untuk warga Surabaya dikirim dari Pasuruan. Ada pula teknologi pemurnian air Kalimas dan pembangunan sumur bor meski belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan warga.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
TANDON air pertama di Surabaya berada di Jalan Pakis Tirtosari. Desain bangunannya mirip gelanggang olahraga. Luasnya 200 meter persegi. Sedangkan daya tampungnya mencapai 6.000 meter kubik air. Di sisi barat ada tandon dengan bentuk seperti baterai berjejer. Kapasitasnya bisa menampung air hingga 6.000 meter kubik.
Bangunan itu merupakan salah satu jejak distribusi air di Surabaya yang tersisa. Diperkirakan, tandon tersebut dibangun pada abad ke-19. Dari ukiran pada salah satu pipa valve, tertulis tahun pembuatan 1921. Usia bangunan bisa saja lebih tua.
Pusat distribusi air PDAM itu memang unik. Dibangun pada posisi daratan tertinggi Surabaya, yakni di Wonokitri. Arsitek yang membangun tandon tersebut tentu sudah memperkirakan air akan mengalir dari posisi tertinggi menuju tempat terendah.
Tanpa memakai pompa. Cukup mengatur besar kecilnya valve. Meski sudah lebih dari 100 tahun, fungsi pipa dan tandon masih prima. PDAM Surya Sembada Surabaya masih memfungsikannya untuk menampung produksi air dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karang Pilang.
Sejak 1895, mayoritas kebutuhan air bersih di Surabaya dipenuhi dari sumber mata air di Pasuruan. Meskipun sudah ada pemurnian dari air Sungai Kalimas dan sumur bor di Bibis, itu belum bisa memenuhi kebutuhan air warga Surabaya.
”Kalau dilihat sejarahnya, sebelum 1895 itu ada beberapa metode pemenuhan air di Surabaya. Selain pemurnian air Kalimas, air diangkut dari sumber air Purut, Pasuruan, dengan menggunakan kapal. Lalu, ada yang dengan kereta api, sumbernya dari Pasuruan juga,” papar anggota komunitas Begandring Soerabaia Agung Widyanjaya.
Pada rentang 1982–1895, ada tiga perusahaan yang mengajukan rencana pemenuhan kebutuhan air untuk Surabaya. Pertama, perusahaan milik orang Belanda, pemiliknya Birnie, mengajukan konsesi untuk mengalirkan air dari sumber Umbulan ke Surabaya.
Kemudian pada 1895, Weys dan Hillen merancang penyediaan air dengan mengambil dari sumber air di Kasri Pandaan. Yang kemudian rancangan itu diambil alih perusahaan Labouchere Oyens en Co.
Sementara itu, perusahaan milik Ir Becking juga mengajukan rancangan pemenuhan air dari Pandaan.
”Pada 1897, menteri koloni Kerajaan Belanda mengutus Ir HPN Halbertsma untuk mempelajari tiga konsesi yang diajukan. Dia membuat rancangan yang baru berdasar tiga rancangan yang sudah diajukan konsesinya kepada pemerintah. Rancangan ini lebih detail,’’ katanya.
Perjalanan panjang perusahaan penyuplai air itu bertahan hingga era kemerdekaan. Pada 1950, perusahaan tersebut diserahkan ke pemerintah Republik Indonesia dan menjadi bagian dari Kota Praja Surabaya.
Pada 1976, resmi disahkan sebagai perusahaan daerah air minum. ”Kemudian 24 November ditetapkan sebagai hari jadi PDAM Surya Sembada. Sehingga hari ini kami genap berusia 47 tahun,” ujar Dirut PDAM Surya Sembada Surabaya Arief Wisnu Cahyono.
Hingga sekarang, PDAM Surya Sembada sudah memiliki 690 ribu sambungan pelanggan. Jumlah itu dipastikan terus bertambah seiring penambahan hunian.
