Keluar dari Isolasi, Besoknya Langsung Sidang Tesis
Sejak putri mereka duduk di semester IV, sang ayah dan ibu sudah menargetkan untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu agar bisa lulus bersama.
M. MAHDI SULISTYADI, Purwokerto,
Jawa Pos
---
BISA dibayangkan beratnya perjuangan Heni Mei Deviyani membagi konsentrasi. Saat harus menjalani sidang tesis, sang suami, Muhammad Daswalidin, harus diisolasi.
Daswalidin bukan positif Covid-19. ”Saat itu suami kecapekan, lalu panas dan bolak-balik ke dokter, tapi panasnya tidak kunjung turun. Akhirnya dibawa ke RS dan mengikuti protokol kesehatan harus diisolasi,” kata Heni kepada
Radar Banyumas.
Padahal, agar bisa menuntaskan tesis itu saja dia, suami, dan putri sulung mereka, Aniestria Ahshaina Aghnat, harus saling mengingatkan dan menguatkan.
Sebab, ketiganya tengah berjuang menyelesaikan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah.
Tapi, akhirnya perjuangan itu berbuah manis. Sekeluarga asal Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu diwisuda bersama. Mereka mengikuti wisuda secara luring di Lapangan Mas Mansoer, Kampus I Universitas Muhammadiyah Purwokerto, di Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Sabtu lalu (6/3).
Sebuah catatan yang langka. Daswalidin lulus dari magister manajemen dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7, sedangkan istrinya lulus dari magister pendidikan dasar dengan IPK 3,9 sehingga mendapat predikat cum laude. Dan, putrinya lulus sarjana farmasi dengan IPK 3,17.
”Alhamdulillah, bangga pastinya (bisa wisuda bareng orang tua). Momentum yang sangat langka, yang tidak semua orang mengalami,” ujar Aniestria.
Aniestria bisa menyelesasikan pendidikannya selama empat tahun. Sementara itu, ayah dan ibunya yang sama-sama berprofesi guru menyelesaikan program pascasarjana selama dua tahun. Ini memang terencana sejak si putri sulung duduk di semester IV.
”Kami saling memotivasi untuk lulus bareng-bareng. Sebenarnya kan dari jurusan sudah berbeda-beda. Otomatis buku-bukunya berbeda, kecuali buku penelitian, saling pinjam. Karena umum,” kata Heni yang saat ini menjadi guru SD Negeri Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.
Selain itu, lanjut dia, mereka kerap saling menanyakan progres skripsi maupun tesis masing-masing. Karena sang anak ngekos di Purwokerto, video call biasanya menjadi penyambung.
”Kita sama-sama memantau, sudah sampai mana, apa saja yang belum dikerjakan, dan sebagainya,” ujarnya.
Ketika suaminya diisolasi, Heni sudah pasti tidak boleh menunggui. Meski pikirannya sangat tercurah kepada kondisi suami, Heni berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk berkonsentrasi pada ujian tesisnya.
Yang menggembirakan dia, tak lama kemudian sang suami boleh meninggalkan rumah sakit. Malamnya Daswalidin ditelepon untuk sidang esok hari. Tanpa memberikan alasan apa pun, dia jawab siap.
”Saat itu memang tidak mengatakan baru sembuh,” ucapnya.
Baca juga: Kontak Erat dengan PMI Terinfeksi B117, Warga Brebes Jalani Isoman
Terbukti, Daswalidin yang merupakan guru SMK Muhammadiyah Bumiayu bisa menyelesaikan ujian dengan baik. Kini Daswalidin maupun Heni berharap sang putri bisa segera menempuh pendidikan profesi apoteker. ”Biar kelak dia bisa berwirausaha secara mandiri,” kata Heni.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=FEuIi0oGMwA