
DUKA MENDALAM: Jenazah Farhat diberangkatkan menuju pemakaman.
Meski sang papa sempat keberatan dengan pilihannya menggeluti tinju, Farhat tetap serius berlatih dan akhirnya berbuah prestasi. Sempat mengirim pesan WhatsApp ke sang mama sebelum naik ring kali terakhir.
FAQIH HUMAINI, Bondowoso
---
PESAN itu masih tersimpan di ponsel Fitria Ekasari. Dikirim sang anak, Farhat Mika Rahel Riyanto, sebelum remaja 15 tahun itu turun bertanding di arena tinju kategori 46 kg di Jombang pada Senin (11/9) sore lalu.
’’Mama doakan aku sekarang ya Ma, sebentar lagi mau bertanding,’’ tulis Farhat di pesan lewat layanan WhatsApp tersebut.
Itulah pesan terakhir Farhat kepada sang mama, kepada keluarga tercinta yang bermukim di Bondowoso, Jawa Timur. Dia meninggal beberapa jam setelah kolaps di ring tinju Porprov Jawa Timur 2023.
Sejak itu, Fitria tak pernah mampu membendung tangis tiap kali membaca ulang pesan anak sulungnya itu. ’’Setiap malam saya selalu berdoa agar Aat (panggilan akrab Farhat) bisa bertanding dengan selamat. Namun, Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih sayang kepada Aat sehingga dia dipanggil terlebih dahulu,’’ katanya kepada sejumlah tamu yang bertakziah ke rumah duka kemarin, termasuk Jawa Pos Radar Ijen.
Tinju sebenarnya bukan pilihan cabang olahraga yang membuat hati sang papa, Supriyanto, sreg. Pria yang berprofesi polisi dengan pangkat aipda itu sudah pernah meminta Aat berhenti menggeluti dunia adu jotos tersebut. ’’Sebab, olahraga itu terbilang ekstrem,” katanya.
Tapi, Aat ternyata sangat mencintai tinju. Dia serius berlatih dan bermuara para teraihnya sejumlah prestasi di beragam kejuaraan di usia yang baru 15 tahun.
BERPULANGNYA SANG PETINJU: Farhat Mika Rahel Riyanto rutin berlatih tinju dan itu membuatnya meraih sejumlah prestasi.
Dan, meski menggeluti olahraga yang terbilang keras, di luar ring, Supriyanto mengenang sang buah hati sebagai anak yang tidak pernah neko-neko. Ibadahnya juga rajin.
Tiap hendak berlatih, Farhat selalu membawa peralatan untuk salat. "Anak saya tidak rewel, selalu tampil apa adanya dan rajin beribadah. Itu yang membuat saya berat merelakan Aat," tuturnya sambil terisak pelan.
Aat yang bersekolah di SMAN 1 Tenggarang, Bondowoso, dikebumikan kemarin siang sekitar pukul 11.00. Sang ayah mengenang bagaimana dia dan sang putra sulung tersebut demikian akrabnya sampai tak ubahnya dua sahabat. ’’Termasuk bercanda bersama,” kata pria yang menjadi Kanitbinmas di Polsek Klabang, Bondowoso, itu.
Fitria juga mengingat status terakhir yang diunggah Aat. "Suatu saat Aat akan membahagiakan mama, I love you ya Ma," tulisnya. Fitria lantas membalasnya, "Tidak perlu sampai juara, sekarang pun mama sudah bangga, Nak.”
Kalau saja, kata Fitria, waktu bisa diputar ulang, dia pasti akan melarang sang anak berangkat ke Jombang. ’’Kini kami harus belajar menerima kalau Tuhan lebih sayang kepada Aat sehingga memanggilnya terlebih dahulu,” ujarnya. (*/c17/ttg)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
