PRESTASI INTERNASIONAL: Briptu Tiara Nissa Zulbida saat ditemui di Mapolda Jatim, Surabaya. (30/8).
Memediasi konflik antarwarga di Afrika Tengah dan kesempatan dadakan berdialog dengan presiden Turki di antara ’’oleh-oleh” Briptu Tiara setelah kembali ke tanah air. Polwan Polda Jatim itu terpilih menyampaikan pidato saat wisuda setelah menyisihkan usulan pidato para wisudawan terbaik lainnya.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
---
TIARA Nissa Zulbida sempat kehilangan kata-kata di hadapan Recep Tayyip Erdogan. Sebab, sesuai protokoler, dia seharusnya hanya memperkenalkan diri dan bersalaman. Tapi, presiden Turki itu justru mengajaknya berdialog.
’’Sampaikan salam dari saya untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi),” kata Tiara menirukan ucapan Erdogan dalam wisuda Akademi Kepolisian Nasional Turki pada 26 Juli lalu di Ankara. Erdogan mengaku cukup akrab dengan presiden ke-7 Indonesia itu. Dia juga menanyakan kapan perempuan berzodiak Aries tersebut pulang ke kampung halaman.
Menurut Tiara, dialog itu di luar rencana protokol presiden. Erdogan pun tidak menggunakan bahasa Turki formal. ’’Bahasa slang. Umumnya dipakai komunikasi dengan orang yang sudah dikenal dekat,” jelas Tiara kepada Jawa Pos yang menemuinya di Mapolda Jatim, Surabaya, pada Rabu (6/9) pekan lalu.
Alumnus SMAN 1 Pasuruan itu pun hanya menjawab siap, lantas tersenyum. ’’Dalam hati saya mbatin bagaimana cara menyampaikan salam beliau, kan saya bukan siapa-siapa,” kelakarnya.
Tiara merupakan satu di antara 87 peserta wisuda dari 16 negara pada acara itu dan merupakan wisudawan terbaik keempat. Dia ditunjuk mewakili teman-temannya untuk berpidato dalam acara tersebut. ’’Lima lulusan terbaik diminta membuat pidato. Akademi memilih pidato terbaik yang akan dibacakan pada acara wisuda,” tuturnya.
Pidato Tiara yang akhirnya dipilih. Dalam pidatonya, dia menjelaskan meski berasal dari belasan negara yang berbeda, semua punya tujuan yang sama ketika datang ke akademi: menambah pengetahuan. Ilmu yang didapat selama melakoni dua tahun masa pendidikan diyakini akan berkontribusi dalam menjalankan tugas kepolisian di negara masing-masing.
Tiara tidak pernah bermimpi bakal berkesempatan menuntut ilmu di negeri orang, terlebih dalam kapasitas sebagai polwan. Sebab, perempuan kelahiran 10 April itu bahkan tidak bercita-cita menjadi polisi.
Tiara memilih bekerja di bank di Pasuruan setelah lulus SMA pada 2011. Berselang setahun, dia memutuskan berkuliah sebagai mahasiswa jurusan ekonomi untuk menunjang pekerjaan. ’’Kuliah di Pasuruan juga,” ungkapnya.
Jalan hidup putri pasangan Akhmad Ariefin dan Etik Ismiati itu berubah tiga tahun berselang. Semua berawal dari ujaran sang ibu di rumah. ’’Nduk, gak kepingin daftar polwan ta?” kata Etik saat itu.
Etik melontarkannya setelah melihat iklan di televisi. Tiara sadar ucapan tersebut bukan sekadar tawaran. Sebab, sang ibu dulu memang bercita-cita menjadi polwan, tapi tidak kesampaian.
Tiara tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak. Hingga suatu hari Etik menyodorkan dokumen pendaftaran polisi untuk ditandatangani.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
