DIDIKAN AYAH: Haidar Sabda Alam mengikuti Temu Dalang Bocah Nusantara 9 di Solo beberapa waktu lalu. Haidar mencintai wayang berkat orang tuanya.
Haidar berbeda dengan anak-anak sepantarannya. Anak 13 tahun itu menyukai wayang kulit. Selepas mengikuti kursus mendalang, kini Haidar sering menyabet juara dan menghibur warga kampung.
UMAR WIRAHADI, Surabaya
TAMPIL dalam balutan busana hitam dilengkapi kain jarit plus belangkon, bocah itu duduk bersila. Tangannya mulai memegang gunungan wayang tanda acara akan dimulai. Suara gending gamelan mengalun dan suara mungil itu mulai menggema.
Malam itu dia menampilkan lakon berjudul Kanci Mahasura. Lakon tersebut pas sekali untuk kalangan anak-anak. Bercerita tentang kesombongan si macan dan kecerdikan si kancil. Lakon yang dimainkan selama 1,5 jam itu sukses menuai pujian peserta.
’’Itu terakhir kali saya pentas di acara besar,’’ tutur Haidar Sabda Alam kemarin (14/8).
Saat itu dia tampil di acara Temu Dalang Bocah Nusantara 9. Momen itu berlangsung 18–24 Juli lalu di pendopo Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. Haidar beruntung karena dari 50-an dalang cilik se-Indonesia, dia salah satu yang dipilih tampil mendalang saat itu.
Siswa SMPN 12 Surabaya itu adalah dalang cilik yang baru duduk di kelas VII. Di usia 13 tahun saat ini, bocah tersebut kerap tampil mendalang. Dia pun sudah menjuarai beberapa lomba mendalang.
Ketertarikan Haidar pada dunia pewayangan berawal dari didikan sang ayah, Suwito. Sejak usia 5 tahun, Haidar dikenalkan pada kesenian asli Indonesia itu. Dia kerap diajak menonton pertunjukan wayang dari kampung ke kampung.
Saking seringnya, lama-kelamaan bungsu di antara empat bersaudara itu mulai tertarik pada wayang. ’’Kalau nonton TV, yang dicari acara wayang,’’ ujar Haidar, lalu tertawa.
Karena ketertarikan itu, ayahnya mulai memasukkan Haidar ke lembaga kursus wayang Sanggar Bala Dewa di Taman Budaya Cak Durasim. Latihannya dua kali seminggu. Pelajaran yang didapatkan dari sanggar langsung diulang di rumah dengan bimbingan ayahnya.
Pada 2019, dia mulai memahami bahasa wayang. ”Setelah belajar selama setahun, saya baru mengerti bahasa wayang,’’ ujarnya.
Sejak saat itu, dia mulai tampil di depan publik. Balai Pemuda Surabaya jadi tempat perdana Haidar unjuk kebolehan dalam acara Festival Dalang Cilik Surabaya. Saat itu dia langsung menjadi juara. Dia juga sering tampil dari kampung ke kampung.
’’Beberapa kali diundang mendalang dalam acara kampung,’’ tuturnya. Saat ini Haidar juga sibuk berlatih. Dalam waktu dekat, ada beberapa event yang akan diikuti. Di antaranya, Festival Dalang Bocah Jawa Timur di Jember. Juga persiapan mengikuti festival dalang tingkat nasional di Jakarta. ’’Pulang sekolah la-tihan terus,’’ tutur bocah yang mengidolakan dalang Ki Enthus Susmono itu. (*/c6/aph)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
