
PENCINTA BURUNG: Lalang Kibar menunjukkan dua anakan scarlet macaw. Burung paruh bengkok tersebut pintar menirukan beragam suara. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Pertalian Lalang dengan dunia burung paruh bengkok terjalin sejak masih kanak-kanak. Setiap hari dia mengelus dan melatihnya hingga menjadi ”pintar”. Keindahan burung-burung tersebut bisa dinikmati saat free fly.
MARIYAMA DINA, Surabaya
Kibar Exotic Birds Surabaya punya cara khusus untuk membuat burung paruh bengkok yang dibiakkan bisa ”pintar”. Ketika baru menetas, anakan burung-burung itu diperdengarkan dengan beragam bunyi-bunyian. Salah satu jenis burung yang rajin dilatih adalah parrot african grey. Burung itu memiliki kelebihan. Salah satunya bisa menghafal seribu kosakata. Karena itu, latihan terus diberikan.
Lalang membiakkan beragam jenis burung. Selain african grey, dia menangkarkan macaw. Bagi Lalang, memelihara burung sangat menyenangkan. ”Bisa diajak interaksi, terus kita bisa elus-elus juga. Nurut. Jadi seneng banget,” katanya. Hal itu tergambar saat dia menunjukkan bayi-bayi burung parrot yang baru lahir.
Burung-burung tersebut belum bisa tegak berdiri. Lalu, burung yang belum punya bulu itu diambilnya. ”Tuh, kan lucu banget. Masih kecil begini saja sudah lucu,” ujarnya dengan senyum yang merekah.
Lalang memang sedang berfokus menangkar burung parrot. Semuanya berasal dari luar negeri Di tempat penangkarannya, dia punya tiga jenis burung yang sedang dikembangbiakkan. Mulai parrot african grey dari Afrika, parrot galah dari Australia, sampai yang sedang ramai dibicarakan parrot macaw dari Amerika. ”Total sekarang ada 30 pasang parrot yang dari luar negeri,” ujarnya.
Penangkaran parrot milik Lalang digagas mulai 2018. Sebelumnya, dia berfokus pada penangkaran love bird sejak 2012. Cerita soal kecintaannya terhadap burung berawal dari burung kakaktua miliknya. Waktu itu, Lalang masih duduk di bangku kelas IV SD. ”Pas itu ceritanya habis sunat. Terus, saya minta hadiah ke orang tua, monyet sama burung kakaktua,” kenangnya. Namun, tidak lama burung kakaktuanya lepas. ”Nggak tahu kenapa bisa sampai nangis yang sedih banget. Padahal, monyetnya juga lepas. Tapi, ya nggak sampai yang sedih gitu,” ceritanya.
Dari sana, kesukaannya terhadap burung terbawa sampai remaja. Dia mengaku suka ikut lomba-lomba burung. Apa pun jenisnya. Namun, karena dia sibuk bekerja di luar pulau, hobi itu berhenti. Pada 2012, dia mulai berfokus pada hobinya lagi. ”Waktu memulainya ya bener-bener dari nol. Awalnya, ya semua jenis burung coba di-breeding sampai akhirnya ketemu yang cocok. Love bird itu,” terangnya.
Dia mengawali lewat burung love bird untuk tahu bagaimana menjadi penangkar burung yang baik dan benar. Sebab, lanjut dia, kalau dimulai langsung dengan parrot, rasanya terlalu berat. ”Nah, kebetulan dua tahun terakhir parrot ini mulai ramai lagi. Khususnya yang macaw,” sambungnya.
Pria 31 tahun itu menjelaskan bahwa di Indonesia komunitas pencinta parrot semakin tumbuh. Khususnya di Jawa. ”Karena warna-warnanya yang bagus ini, akhirnya jadi sering ada kompetisi free fly,” imbuhnya. Bahkan, di Surabaya hampir setiap minggu ada kompetisi tersebut.
Macaw memang lebih dikhususkan untuk free fly. Untuk jenis scarlet macaw dan blue-and-gold macaw, warnanya sangat bagus saat sudah besar. Terlebih ukurannya lebih besar daripada jenis yang lain. ”Kalau sudah terbang itu, wiiihh indah banget pokoknya. Pas free fly itu kan muter-muter gitu, itu bener-bener bagus,” ungkapnya tentang keindahan burung parrot macaw.
Saat berkunjung ke penangkaran di luar negeri, dia mendapat pukulan keras. Ternyata, burung-burung parrot dari Indonesia sebenarnya tidak kalah bagus. Bahkan, di luar negeri dia menemukan banyak jenis burung yang berasal dari Indonesia. ”Indonesia itu bener-bener kaya akan burung. Cuma, penangkarannya kurang maksimal. Padahal, di pasar luar negeri itu sangat disukai lho,” ceritanya.
Untuk itu, setelah merasa cukup menangkar burung parrot dari luar negeri sekitar dua tahun terakhir, Lalang punya impian baru tahun ini. Yakni, menangkarkan burung endemik Indonesia. Mulai kakaktua cempaka, raja, triton, alba, sampai nuri. ”Soalnya, saya itu miris sekali. Kayak menyesal begitu waktu ketemu burung asal Indonesia malah di luar negeri. Padahal, kalau cari asalnya di sini susah sekali,” sambungnya.
Menangkarkan parrot, kata Lalang, harus punya tempat sendiri yang jauh dari permukiman. ”Soalnya, mereka ini bisa berisik sekali,” terangnya. Selain itu, karena burung kakaktua di Indonesia sudah dilindungi, proses penangkaran sedikit lebih rumit. Semua perizinan harus lengkap. Mulai perizinan penangkaran sampai perizinan peredaran. Burung yang ditangkarkan juga harus dilengkapi surat-surat.
Meski banyak hal yang harus dipersiapkan, pria asli Surabaya itu bertekad untuk lebih giat lagi melestarikan burung endemik Indonesia tersebut. Sebab, dia khawatir burung asli Indonesia bisa punah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
