Theodore Fides Seba dan Keziah Lim berkesempatan mengikuti Global Maker Challenge Camp di Korea Selatan. Mereka ditantang untuk menciptakan rancangan kota yang ramah lingkungan. Bagaimana imajinasi mereka terhadap eco-friendly city?
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
Isu lingkungan memang sedang seksi-seksinya dengan makin terasanya perubahan iklim di dunia. Hal tersebut membuat Theodore Fides Seba dan Keziah Lim mengimajinasikan kota yang ramah lingkungan. Sebagai maker muda, mereka bebas berimajinasi beragam benda hingga kota yang ingin diwujudkan.
Tema eco-friendly city memang menjadi fokus utama Global Maker Challenge Camp (GMCC) yang diadakan pada 21–24 November 2019 di Pyeongchang National Youth Center. GMCC merupakan maker camp berskala internasional untuk para maker muda dari beberapa negara. Kondisi lingkungan memang jadi tantangan terbesar bagi maker-maker muda seperti Theo pada masa mendatang.
Prof Scott Zeong, pendiri Rootpi School/Brainery Makers, penyelenggara GMCC 2019, mengatakan bahwa semuanya harus menemukan solusi untuk cara hidup yang ramah lingkungan Bagi dia, sangat menarik melihat berbagai inovasi untuk mengatasi kerusakan lingkungan dari anak-anak berbagai negara tersebut.
Theo dan Keziah merupakan dua siswa dari Surabaya yang mengikuti rangkaian tersebut. Keduanya harus berkelompok dengan siswa asing selama acara. ”Beda kelompok, tapi sama-sama gabung orang Korea Selatan, agak bingung komunikasinya sih,” ucap Theo, kemudian tertawa.
Theo dan kelompoknya mewujudkan kota yang energinya disuplai turbin. Turbin angin atau air dipercaya bisa memberikan energi listrik yang cukup besar. Dengan jumlah yang tepat, sebuah kota bisa dialiri listrik sepenuhnya oleh turbin.
Ide menarik lainnya adalah bus antimacet. ”Jadi, busnya di atas jalan, mobil masih bisa lewat di bawahnya,” jelas Theo. Bukan dengan membangun jalan layang khusus bus, melainkan menggunakan jalan yang sudah ada. Theo mengatakan, bus tetap bisa melaju meski ada kepadatan mobil di jalan. Dengan begitu, lama-kelamaan penduduk makin tertarik menggunakan bus.
Menurut siswa yang kini menjabat wakil ketua OSIS di SMP Kristen Dharma Mulya tersebut, Surabaya membutuhkan bus seperti itu. ”Menurutku, Surabaya mulai macet-macet dikit,” ujar siswa kelas VIII itu, kemudian nyengir.
Beda lagi dengan Kezia dan kelompoknya. Siswa yang masih duduk di kelas VI SD Kristen Elyon tersebut lebih berfokus pada penciptaan energi yang ramah lingkungan. ”Kami pakai solar panel dan kincir angin,” ucap Kezia. Menurut dia, dua penghasil energi tersebut tak menimbulkan kerusakan lingkungan berlebihan. Keduanya juga memanfaatkan apa yang dimiliki alam itu sendiri.
Saat ditanya bagaimana imajinasinya terhadap Kota Surabaya yang ramah lingkungan, Kezia tak muluk-muluk. ”Aku mau kita lebih peduli pada pohon. Jangan asal tebang gitu,” jawabnya. Menurut dia, menjaga lingkungan dilakukan dari tindakan masing-masing terlebih dahulu. Makin banyak yang peduli dengan hal kecil tentang lingkungan, pasti efeknya semakin baik.
Sebelum menciptakan miniatur kota hasil imajinasi, keduanya bersama 128 anak lain diminta merancang dan membuat purwarupa mobil dari beberapa material yang disediakan panitia. Mobil rancangan mereka harus bisa berjalan di sirkuit penuh belokan, menanjak, dan menurun yang sudah disediakan. ”Habis itu, kami group brainstorming dengan kelompok. Jumlahnya 5–6 orang,” tutur Theo. Dalam proses tersebut, mereka memetakan masalah lingkungan di perkotaan yang selanjutnya harus dicarikan solusinya.
Pada proses menuangkan dan mengaplikasikan ide tersebut, penyelenggara menyediakan sebuah miniatur kota yang masih kosong dari cardboard berukuran 3 x 4 meter dan di dalamnya terbagi menjadi beberapa wilayah. Setiap kelompok maker muda mendapatkan satu wilayah untuk dirancang menjadi bagian dari eco-friendly city.





