
INOVATIF: Budi Santoso (tengah) bersama tim Relili yang meraih award dalam ajang WICE 2019. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Siswa-siswi SMA Negeri 21 Surabaya berjaya dalam ajang World Invention Competition and Exhibition 2019. Mereka membikin stetoskop visual.
MARIYAMA DINA, Surabaya
BIASANYA cara kerja stetoskop itu dibantu dengan alat dengar. Tapi, di tangan enam siswa SMA Negeri 21 Surabaya, stetoskop dibuat dalam bentuk visual. Seperti namanya yang mengusung kata visual, pengguna stetoskop memang melihat layar dan bisa menentukan hasilnya.
Dengan inovasi tersebut, Wardah Ainiyah, Arifiah Putri, Ryan Andhika Putra, Yohanes Lukas Dony Anggoro, Lintang Aura Dewanthi, dan Kandi Akeno Yazira berhasil meraih medali emas dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2019 di Subang Jaya, Malaysia. Mereka juga berhasil mendapatkan special award dari United Kingdom (UK) alias Kerajaan Inggris. Tidak semua tim bisa memperoleh special award itu. Yang lebih bergengsi, mereka mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Segi College, Malaysia, selama tiga tahun.
Ide untuk membuat stetoskop visual berawal dari Lukas, murid kelas X MIA 3. ”Waktu itu aku kena demam berdarah pas libur ujian nasional. Terus, pas lagi diperiksa dokter pakai stetoskop, aku mikir, kok cuma dokter yang tahu hasilnya?” ceritanya.
Dari situ, Lukas berpikiran kenapa stetoskop tidak dibuat dalam bentuk visual? ”Jadi biar banyak orang juga yang bisa lihat hasilnya.”
Selain itu, penggunaan stetoskop dengan cara mendengarkan bunyi tersebut, menurut dia, tidak efektif. ”Pendengaran manusia bisa berkurang. Jadi, kalau itu dialami dokter, nanti hasil pemeriksaannya bisa saja nggak akurat,” tuturnya lagi Akhirnya Lukas membicarakan ide tersebut dengan orang tuanya dan menyampaikan kepada tim di sekolah. Tim tersebut bernama Relili. Singkatan dari Riset Lingkungan Hidup dan Literasi. Di dalam tim itu, ada pembimbing yang merupakan guru biologi di sekolah tersebut, Budi Santoso. ”Ternyata kok ide saya ini diterima dan coba untuk direalisasikan,” imbuhnya.
Lukas bersama tim akhirnya membuat stetoskop visual yang mempunyai fitur untuk mendeteksi pasien itu sakit atau tidak. Sebenarnya kekurangannya masih banyak dan butuh penyempurnaan lagi. Namun, berkat mengikuti event bergengsi WICE pada 2–6 Oktober lalu, tim merasa lebih percaya diri untuk mengembangkan inovasi mereka.
Lintang, anggota tim Relili, menambahkan, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikan karya itu. ”Yang paling menantang kayaknya pas ngambil data buat mengetes alatnya. Soalnya kami butuh 100 orang untuk diuji coba dengan alat itu,” ceritanya.
Ketika mereka menguji coba alat tersebut kepada teman sekelas masing-masing, justru malah banyak yang menggoda. ”Kami malah diguyoni teman-teman,” cerita Lintang, lantas tertawa.
Namun, setelah diuji coba pada 100 siswa, hasil yang didapatkan ternyata cukup signifikan. ”Jadi, setelah alat sensornya itu diletakkan di daerah jantung pasien, dalam waktu empat detik hasilnya sudah cukup akurat,” sambung Lukas.
Saat perlombaan berlangsung, komentar-komentar juri dan para pengunjung juga membuat mereka lebih percaya diri. ”Waktu itu ada satu juri dari Tiongkok yang bilang bahwa dia suka dengan karya kami. Katanya masih SMA sudah bisa buat alat seperti ini. Dan, dia pengin kami melanjutkan buat masuk Segi College,’’ tutur Lintang mengenang komentar juri saat itu.
Lintang juga bercerita bahwa ada yang bertanya apakah karya timnya sudah disahkan atau didaftarkan agar tidak ada yang meniru. ”Itu juga jadi pertanyaan yang bikin kami dapat masukan hal apa lagi yang harus dilakukan ke depan,” sambungnya. Para pengunjung yang rata-rata rektor dan dosen juga kagum dengan karya mereka.
Dari kompetisi tersebut, enam anak dari kelas yang berbeda-beda itu berhasil mengalahkan ratusan peserta dari delapan negara. Mulai Inggris, Thailand, Korea Selatan, Turki, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Mereka berhasil membawa pulang gold medal dari kategori medical alias alat-alat medis dunia.
”Kategori ini bisa dikatakan paling bergengsi di tingkat internasional. Mereka juga berhasil meraih beasiswa itu. Bahkan, mereka bebas skripsi loh nanti. Katanya inovasi mereka ini sudah setara seperti skripsi atau tugas akhir,” tambah Budi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
