Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 September 2019 | 03.48 WIB

Forwapa yang Aktif Mendampingi Anak-Anak di Eks Lokalisasi

PEDULI: Dari kiri, Tukul Bintoro, Sekretaris Kelurahan Morokrembangan Memix Hartawanta, serta Suhendri Widyastuti mengunjungi Herling Prasetyo (lima dari kiri) dan ibunya. (Eko Hendri/Jawa Pos) - Image

PEDULI: Dari kiri, Tukul Bintoro, Sekretaris Kelurahan Morokrembangan Memix Hartawanta, serta Suhendri Widyastuti mengunjungi Herling Prasetyo (lima dari kiri) dan ibunya. (Eko Hendri/Jawa Pos)

LOKALISASI Tambak Asri atau Kremil secara resmi ditutup pada 2012. Namun, dampak aktivitas prostitusi hingga kini belum sepenuhnya lenyap. Forum Warga Peduli Anak (Forwapa) Morokrembangan aktif mendampingi buah hati eks PSK dan mucikari yang tersandung masalah sosial.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Lima anggota Forwapa berkunjung ke rumah Herling Prasetyo di Jalan Tambak Asri RW 6, Kelurahan Morokrembangan, Rabu (28/8). Kedatangan petugas kelurahan dan perwakilan warga disambut senyum remaja yang berusia sekitar 18 tahun tersebut. Tanpa dikomando, Herling yang mengalami keterbelakangan mental langsung menceritakan masalahnya.

’’Aya pengin bengkel. Usaha oli,’’ kata Herling sedikit gagu dan terbata-bata. Tidak jelas apa yang hendak diomongkan. Namun, anggota Forwapa tampaknya sudah paham. Hal itu terlihat dari kepala mereka yang manggut-manggut saat menyimak penuturan Herling ’’Ceritanya, dia (Herling, Red) ingin buka usaha bengkel. Pengin sukses,’’ ungkap Lurah Morokrembangan Suhendri Widyastuti yang berusaha menerangkan kata-kata Herling. Perempuan yang akrab disapa Wiwid itu berjanji membantunya. Termasuk mencarikan modal bantuan untuk berbisnis.

Wiwid kasihan dengan Herling. Sulung dari lima bersaudara itu diketahui menderita sakit sejak kecil. Diduga ada permasalahan keluarga dan faktor ekonomi yang membuatnya menderita. Kabarnya, Herling kurang mendapat perhatian karena orang tuanya berpisah di usia muda.

Bukan hanya Herling. Menurut Wiwid, Forwapa Kelurahan Morokrembangan yang dibentuk pada 2018 sebenarnya banyak mendampingi anak-anak di kawasan eks lokalisasi. Ada buah hati mantan PSK, mucikari, sampai pengusaha kos-kosan gelap yang usahanya tutup pascaprostitusi dibersihkan. Semua merupakan anak-anak yang kurang perhatian dan menyandang masalah sosial.

Permasalahan yang mereka hadapi beragam. Ada remaja yang terkena HIV gara-gara ketularan ibunya. Sebagian terlibat kriminalitas. Selain itu, banyak yang putus sekolah setelah ditelantarkan orang tuanya.

’’Dari data kami, kasus putus sekolah memang masih banyak. Ada 90 anak yang coba kami bantu,’’ kata Wiwid.

Menguatkan kata-kata Wiwid, Ketua Forwapa Tukul Bintoro menyebut permasalahan anak-anak di Tambak Asri memang kompleks. Kurangnya perhatian serta pendidikan orang tua mendorong generasi muda bertindak ngawur dan semaunya sendiri. Tidak sedikit yang mengonsumsi miras dan narkoba sebagai pelampiasan atas masalahnya.

’’Terakhir, saya mendampingi anak berinisial Yes. Bandel banget anaknya,’’ kata Tukul mengawali cerita soal pengalamannya. Menurut ketua Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Morokrembangan itu, Yes tercatat sebagai anak mantan PSK. Dia ditelantarkan orang tuanya sejak kecil.

Saking nakalnya, remaja berusia 16 tahun itu berkali-kali berurusan dengan petugas satpol PP. Dia dua kali masuk liponsos. Kehidupan Yes yang penuh liku-liku membuat anggota Forwapa trenyuh. ’’Kami ambil dari liponsos. Dia (Yes, Red) lalu dimotivasi untuk agar mau sekolah kembali,’’ tegas Tukul. Yes sempat menurut. Meski hasilnya belum sesuai dengan kenyataan. Sebab, remaja yang beraktivitas sebagai pengamen itu kembali berulah. ’’Sekarang dibina di Medaeng (Rutas Kelas I Surabaya, Red) gara-gara pesta sabu-sabu,’’ tambah Tukul, lantas tertawa.

Menurut pria berusia 46 tahun tersebut, kegagalan mendidik Yes tidak membuat semangat anggota Forwapa kendur dalam mendampingi anak-anak.

Terlebih, masa-masa sulit sempat dialami saat organisasi yang beranggota 20 orang itu dibentuk. Sebagian masyarakat di Tambak Asri belum percaya pada keseriusannya. Bahkan, ada yang mengira sekadar cari untung. Anggota Forwapa pernah ditolak keluarga penderita HIV yang akan ditolong. ’’Mereka mengaku tidak butuh bantuan. Padahal, anaknya sakit parah dan memerlukan pertolongan,’’ kata Tukul.

Selain itu, lanjut dia, teman-temannya pernah mendapat ancaman dibunuh dari oknum yang tidak suka dengan keberadaan Forwapa. ’’Setelah kami lawan, nyali mereka kendur. Ini kekuatan kebenaran,’’ tegas Tukul.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore