
Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok.
Jamaah Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'in punya level kepatuhan tinggi dalam menjalankan ibadah. Bisa mulia, kaya, dan ampuh asalkan benar-benar taat kepada Sang Pencipta.
ROBBY KURNIAWAN, Malang
---
JAMAAH Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'in terkenal dengan semboyan Musa AS. Itu merupakan kependekan mulyo, sugih, ampuh asal sendiko dawuh yang berarti mulia, kaya, dan ampuh asal taat kepada Allah.
Belakangan, semboyan tersebut malah diperbincangkan banyak orang. Semboyan tersebut dipelintir menjadi tarekat Musa yang diduga mengibarkan bendera tauhid. Padahal, semua itu sama sekali salah.
Jamaah di pondok tersebut menganut tarekat akmaliyah assholihiyah. Kegiatannya berfokus pada ibadah saja. Mendekatkan diri kepada Tuhan dengan salat, zikir, dan salawat. Terlebih, saban malam Jumat, jamaah pondok membeludak. Mereka datang dari mana-mana. Kegiatan salawatan berlangsung sambil diiringi hadrah. Bahkan, bendera Merah Putih juga dikibarkan. "Itu bentuk cinta kami kepada tanah air," kata Wahyu, jamaah dari Surabaya, pekan lalu.
Salawat dilantunkan dengan khusyuk dan terdengar nyaring. Sampai banyak jamaah yang terpejam karena terlarut dengan suasana itu. Kedua tangan mereka menengadah. Benar-benar mengharapkan rida Allah. Di akhir salawat, Indonesia Raya dinyanyikan. "Mana ada kami menegakkan bendera baru? Adanya, kami bagian dari Indonesia," ucap Wahyu. "Cuma, hati kami milik Allah," tambah dia.
Ponpes yang heboh karena isu kiamat (ROBBY KURNIAWAN/Jawa Pos Radar Malang)
Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok. (Robby Kurniawan/Jawa Pos Radar Malang)
Agus Salim, salah satu murid pimpinan ponpes, mengatakan, dekat kepada Allah bukan perkara mudah. Menurut dia, perlu ada mursyid selaku pemberi wasilah. Karena itu, Agus memilih Gus Romli. Dia mengenalnya dari kakaknya pada 2010.
Warga asli Boyolali itu pun mengikuti banyak kegiatan pondok. Dia juga kerap berdiskusi dengan Gus Romli. Di sanalah dia menemukan ketenangan. Sewaktu salat dan zikir, pikiran terasa tenteram. Tak terbayang apa pun. Yang ada hanya fokus salat dan zikir. Karena itu, dia taat dengan segala arahan dari Gus Romli selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. "Sendiko dawuh itu namanya," ucap dia.
Dalam persiapan akhir zaman di pondok tersebut, Agus juga mengajak serta istrinya. Sebagian warga Boyolali juga ikut. Mereka datang berombongan. "Di daerah asal, saya juga berdakwah. Nah, ketika saya pamit mondok (di Miftahu Falahil Mubtadi'in, Red), warga pengin ikut," katanya.
Sesampai di pondok, rombongan Boyolali membangun permukiman. Konstruksinya menggunakan kayu. Dindingnya dibuat dari tripleks. Untuk kebutuhan hidup, mereka juga membawa sejumlah bahan pokok. "Gabah satu tahun juga kami persiapkan," lanjut dia.
Sama halnya dengan Paidi. Warga dari Lampung itu juga datang ke pondok secara berombongan. Melalui jalur darat, mereka menaiki mobil, lalu menyeberangi pulau dengan kapal. Paidi datang tidak dengan tangan kosong. Bersama istri, dia membawa uang puluhan juta rupiah. Uang tersebut berasal dari hasil panen sawah. Sebagian uang digunakan untuk membeli bekal makanan. "Bawa kasur dan pakaian. Sisanya yang nggak terbawa beli di sini," terang dia.
Salah satu santri yang bernama Muhammad Ali Al Hidayah mengaku mondok selama empat tahun di tempat itu. Hingga sekarang, bocah 14 tahun tersebut belum pulang. "Di sini, selain salat dan zikir, aktivitasnya ro'an (gotong royong, Red). Belajar kitab setiap malam," tutur dia.
Photo
Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok. (Robby Kurniawan/Jawa Pos Radar Malang)
Setelah ada isu kiamat, Ali justru tidak ingin pulang ke rumah. Walau, persiapan makanan menjelang akhir zaman tidak terkirim. Dia malah senang karena jamaah ponpes saling bersedekah. Satu punya makanan, makannya sama-sama. "Bahkan, pondok memberi saya makan walau saya tidak bawa bekal," terang dia.
Ketika besar nanti, bocah dari Kalimantan itu ingin mengabdi di pondok. Dia akan mengajar mengaji untuk para santri. Dia yakin bisa hidup dengan cara itu. Dia juga yakin bahwa rezeki bisa datang dari mana saja asal dirinya taat.
Tidak aneh kalau di sekitar ponpes tidak ada plakat yang menyertakan nama pondok tersebut. Jamaah benar-benar datang karena panggilan hati. Tujuan mereka adalah mendekat kepada Tuhan.
Yang dilakukan jamaah di pondok bisa diibaratkan sedia payung sebelum hujan. Tak tentu apakah hujan akan turun. Yang penting, payung tetap dibawa. Begitu hujan datang, payung bisa digunakan.
Sama halnya dengan persiapan akhir zaman tersebut. Jamaah bersiap diri kendati kiamat yang dimaksudkan datang atau tidak. "Hanya Allah yang tahu. Kalau tidak terjadi tahun ini, tahun depan program ini terus berjalan. Sedia payung sebelum hujan kan tidak apa-apa," kata Gus Romli.
Romli menyatakan bahwa pihaknya tidak dirugikan dengan isu kiamat tersebut. Dia berharap orang yang belum klir tentang masalah itu bisa datang dan meminta klarifikasi langsung ke pondok. Pihaknya akan memberikan penjelasan sesuai dengan yang diyakini.
Photo
Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
