
Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok.
Jamaah di Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'in menjalankan ibadah dengan begitu khusyuk. Mereka datang dari daerah sekitar Malang hingga luar Jawa. Tak sedikit yang sudah mondok sejak akhir tahun lalu. Semata-mata demi dekat dengan Tuhan.
ROBBY KURNIAWAN, Malang
---
AZAN Magrib baru saja berkumandang. Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadi'in, Dusun Pulosari, Sukosari, Kasembon, Malang, bergegas menuju masjid di lingkungan pondok. Tua dan muda. Mereka berpakaian serbaputih, hendak melaksanakan salat Magrib berjamaah.
Jamaah di pondok datang dari berbagai wilayah. Yang terdekat berasal dari Kediri, Jombang, dan Ponorogo. Terjauh, ada yang berasal dari Lampung. Mereka rela meninggalkan rumah sekeluarga untuk mondok. Mendekat kepada Tuhan.
Ketika itu jarak menuju iqamah memang masih cukup lama. Jamaah memanfaatkannya untuk menunaikan salat Rawatib dan membaca salawat. Mereka menunggu kedatangan imam salat.
Ya, imam tersebut tidak lain pimpinan ponpes. Dia adalah Muhammad Romli. Jamaah biasa menyapa dia dengan Gus Romli. Bila dia berhalangan, Khoiron, sang adik, menggantikannya.
Selepas magrib, jamaah lanjut berzikir dan berdoa. Mereka terlihat khusyuk sambil wiridan. Mereka melantunkan istigfar, takbir, hingga tahlil yang tak terhitung jumlahnya. Bisa ribuan kali dilakukan.
Apa tidak bosan? Bagi orang yang pertama datang, mungkin saja terasa capek. Lidah kelu, kaki kesemutan, pantat kepanasan saking lamanya duduk. Namun, tidak demikian jamaah di sana. Berganti-ganti posisi duduk pun dilakukan.
Satu jam lebih berlalu. Wiridan pun usai lantaran datang waktu isya. Ya, kegiatan itu mereka lakukan tiap hari. "Mereka memang saya ajari untuk perbanyak zikir, wirid, dan salawat," tutur Gus Romli ketika diwawancara pekan lalu.
Dia mengatakan, ajaran itu terkenal dengan tarekat akmaliyah. Artinya, setiap muslim tidak sekadar mengamalkan syariat, tapi juga ikut merasakan secara batin. Ka annaka tarahu atau seakan-akan melihat-Nya. "Kalau belum terlihat, Allah Maha Melihat," ucap dia.
Nah, untuk menuju "ke sana", lanjut Gus Romli, diperlukan wasilah. Yang paling tepat sebagai pembimbing adalah mursyid atau guru. "Ya, di sini saya mursyidnya," tutur dia.
Menurut Gus Romli, aktivitas itu sempat terusik oleh pihak-pihak yang memutarbalikkan fakta. Salah satunya, dibilang ada fatwa kiamat sudah dekat. Disebutkan, puluhan warga berbondong-bondong ke pondok untuk berlindung. Bahkan sampai menjual aset yang dimiliki untuk bekal akhirat, dibawa dan disetorkan ke pondok.
"Saya bilang itu tidak benar. Semua hoaks," ujar alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, 1997 tersebut.
Gus Romli menjelaskan, bukan kiamat sudah dekat yang dia sampaikan. Melainkan ajaran agar jamaah mengetahui tanda-tanda akhir zaman. Tanda-tanda itu bisa besar maupun kecil. Karena itu, jamaah harus bersiap diri mengetahui sepuluh tanda kiamat tersebut. Antara lain, ad dukhan atau kabut tebal akibat jatuhnya meteor. "Itu tanda pertama. Disusul kemarau panjang," imbuh dia.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
