Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 April 2019 | 01.00 WIB

Mondok di Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'in yang Seboh Heboh

Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok. - Image

Para santri bergotong royong membangun rumah untuk tempat tinggal mereka selama mondok.

Jamaah di Ponpes Miftahu Falahil Mubtadi'in menjalankan ibadah dengan begitu khusyuk. Mereka datang dari daerah sekitar Malang hingga luar Jawa. Tak sedikit yang sudah mondok sejak akhir tahun lalu. Semata-mata demi dekat dengan Tuhan.


ROBBY KURNIAWAN, Malang


---


AZAN Magrib baru saja berkumandang. Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadi'in, Dusun Pulosari, Sukosari, Kasembon, Malang, bergegas menuju masjid di lingkungan pondok. Tua dan muda. Mereka berpakaian serbaputih, hendak melaksanakan salat Magrib berjamaah.


Jamaah di pondok datang dari berbagai wilayah. Yang terdekat berasal dari Kediri, Jombang, dan Ponorogo. Terjauh, ada yang berasal dari Lampung. Mereka rela meninggalkan rumah sekeluarga untuk mondok. Mendekat kepada Tuhan.


Ketika itu jarak menuju iqamah memang masih cukup lama. Jamaah memanfaatkannya untuk menunaikan salat Rawatib dan membaca salawat. Mereka menunggu kedatangan imam salat.


Ya, imam tersebut tidak lain pimpinan ponpes. Dia adalah Muhammad Romli. Jamaah biasa menyapa dia dengan Gus Romli. Bila dia berhalangan, Khoiron, sang adik, menggantikannya.


Selepas magrib, jamaah lanjut berzikir dan berdoa. Mereka terlihat khusyuk sambil wiridan. Mereka melantunkan istigfar, takbir, hingga tahlil yang tak terhitung jumlahnya. Bisa ribuan kali dilakukan.


Apa tidak bosan? Bagi orang yang pertama datang, mungkin saja terasa capek. Lidah kelu, kaki kesemutan, pantat kepanasan saking lamanya duduk. Namun, tidak demikian jamaah di sana. Berganti-ganti posisi duduk pun dilakukan.


Satu jam lebih berlalu. Wiridan pun usai lantaran datang waktu isya. Ya, kegiatan itu mereka lakukan tiap hari. "Mereka memang saya ajari untuk perbanyak zikir, wirid, dan salawat," tutur Gus Romli ketika diwawancara pekan lalu.


Dia mengatakan, ajaran itu terkenal dengan tarekat akmaliyah. Artinya, setiap muslim tidak sekadar mengamalkan syariat, tapi juga ikut merasakan secara batin. Ka annaka tarahu atau seakan-akan melihat-Nya. "Kalau belum terlihat, Allah Maha Melihat," ucap dia.


Nah, untuk menuju "ke sana", lanjut Gus Romli, diperlukan wasilah. Yang paling tepat sebagai pembimbing adalah mursyid atau guru. "Ya, di sini saya mursyidnya," tutur dia.


Menurut Gus Romli, aktivitas itu sempat terusik oleh pihak-pihak yang memutarbalikkan fakta. Salah satunya, dibilang ada fatwa kiamat sudah dekat. Disebutkan, puluhan warga berbondong-bondong ke pondok untuk berlindung. Bahkan sampai menjual aset yang dimiliki untuk bekal akhirat, dibawa dan disetorkan ke pondok.


"Saya bilang itu tidak benar. Semua hoaks," ujar alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, 1997 tersebut.


Gus Romli menjelaskan, bukan kiamat sudah dekat yang dia sampaikan. Melainkan ajaran agar jamaah mengetahui tanda-tanda akhir zaman. Tanda-tanda itu bisa besar maupun kecil. Karena itu, jamaah harus bersiap diri mengetahui sepuluh tanda kiamat tersebut. Antara lain, ad dukhan atau kabut tebal akibat jatuhnya meteor. "Itu tanda pertama. Disusul kemarau panjang," imbuh dia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore