Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 21.16 WIB

Mochamad Musa, Perajin Perak Spesialis Berdesain Etnik, Sempat Gagal Bisnis Kuliner di Jogjakarta

BANYAK PEMINAT: Mochamad Musa memamerkan beberapa kerajinan perak dengan nuansa etnik yang sangat kental dengan karya rumah produksinya. - Image

BANYAK PEMINAT: Mochamad Musa memamerkan beberapa kerajinan perak dengan nuansa etnik yang sangat kental dengan karya rumah produksinya.

Dia mulai menekuni bisnis perhiasan sebagai tenaga pemasaran. Baru belakangan belajar membuat desain sendiri. Kini sebuah rumah produksi telah didirikannya. Kerajinan perak buatannya pun dikirim hingga ke Amerika dan Australia.



RESVIA AFRILENE



TIGA orang tampak sibuk bekerja di rumah produksi perhiasan perak yang berlokasi di Perumahan Bumi Citra Fajar, Jalan Sekawan Nyaman, Sabtu (21/1). Ada yang sedang melebur bahan baku logam; ada pula yang sedang mematri ukiran sesuai desain.


Selain mereka, ada dua orang lagi di lantai atas. Mereka sedang mematri dan melakukan sandblasting untuk membuat warna perak pada perhiasan menjadi doff atau berkilat. Pemolesan itu merupakan tahap finishing.


Mochamad Musa, sang pemilik rumah produksi, juga sedang asyik memoles satu set lengkap perhiasan perak berdesain etnik. Mulai gelang, cincin, kalung, sampai alat untuk mengisap rokok. Tak seperti model kerajinan perak modern, salah satu ciri khas kerajinan perak berdesain etnik adalah ornamen-ornamen yang diadopsi dari relief candi maupun model perhiasan pada zaman kerajaan. Model antik seperti itulah yang banyak diburu wisatawan asing.


”Orang bule itu sukanya yang desainnya antik dan warna alamnya masih kelihatan,” ujar Musa sembari memperlihatkan salah satu desain gelangnya. Model yang dia buat terinspirasi kerajinan anyaman tradisional yang menjadi perabot rumah tangga. Meskipun 100 persen dikerjakan tangan, lekukan demi lekukan hasil bentukan perak gelang tersebut tampak rapi. Hasilnya cantik dan elegan. Sekalipun tidak dihiasi batu mulia yang blink-blink, gelang itu amat menarik perhatian.


Musa lantas menunjukkan logam perak yang menjadi bahan baku utama pembuatan produk perhiasannya. ”Itu ada campurannya saat dileburkan. Tujuannya supaya tidak lembek saat sudah dibentuk,” jelas Musa.


Meski begitu, ada standar untuk menghasilkan campuran perak terbaik. Dari 100 persen bahan yang dilebur di smelter atau alat pelebur, kadar peraknya harus 92,5 persen. Sisanya adalah metal lain yang digunakan sebagai campuran.


Dengan menjaga kualitas materi, ditambah dengan proses elektroplating (pelapisan metal) yang apik, perhiasan perak berdesain etnik yang dihasilkan Musa sangat digemari wisatawan asing. Elektroplating yang dilakukan Musa tidak hanya membuat warna dasar gampang diukir dengan dekorasi, tapi juga menjaga warna alami logam mulia perak yang banyak disukai pengguna ethnic design jewelry.


”Urat-urat batuannya masih kentara dengan teknik elektroplating saya. Kalau makin kusam, bule malah suka karena makin berkesan vintage,” ucap pria kelahiran Sidoarjo, 16 September 1964, itu. Salah satu daerah yang menjadi jujukan pemasaran karya-karya Musa adalah Bali. Musa setidaknya mengirimkan 6 kilogram perhiasan perak setiap menyuplai barang ke Pulau Dewata.


Banyak yang mengira Musa sukses di bidang bisnis perhiasan tersebut karena sudah berpengalaman sebagai perajin. Padahal sama sekali tidak. Ketika memberanikan diri mendirikan usaha silver and gems itu, dia hanya bermodal tekad. Plus skill memasarkan produk yang didapatkannya setelah malang melintang sebagai marketingofficer di berbagai perusahaan swasta di Surabaya dan Jakarta.


Sebelumnya alumnus SMA Antartika tersebut juga sempat menetap di Jogjakarta empat tahun untuk mencoba peruntungan di bisnis kuliner. Namun, dia gagal. Krisis moneter 1998 benar-benar memukul bisnis kecil. Tak terkecuali bisnis kuliner miliknya. Karena itu, Musa memutuskan banting setir dan ”balik kucing” ke kampung halaman di Sidoarjo pada 2001.


Bisnis peraknya berawal dari pertemuannya dengan seorang kawan lama yang sudah malang melintang menjadi perajin perhiasan kuningan. Musa yang sama sekali belum tahu dunia bisnis perhiasan saat itu hanya mengambil peran sebagai tenaga pemasaran. ”Saya yang jual produk teman ini. Lha kok laku keras. Sampai Jakarta minta pesanan berkali-kali,” kenang Musa.


Beberapa pelanggan di Jakarta belakangan meminta suplai perhiasan perak. Insting bisnis Musa bekerja. Dia mengambil kesempatan itu dengan langsung menyanggupi pesanan berskala wholesale tersebut. ”Langsung yang pertama terpikir perajinnya siapa. Nah, saya berburu ke Bangil yang sudah terkenal sebagai sentra perak waktu itu,” cerita dia.


Saat itulah Musa mulai membangun bisnis peraknya. Mencari perajin perak dengan kualitas baik sesuai dengan keinginannya tidak gampang. ”Saya muter dari satu perajin ke perajin yang lain sampai ketemu lima yang saya rasa pas. Saya butuh yang karakternya bisa merespons cepat dan punya cita rasa seni,” ujar penghobi memancing itu.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore