Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Mei 2017 | 09.35 WIB

Sering Curi Padi dan Dibagikan ke Orang Miskin

TOKOH: Muhammad Salim diapit wartawan Jawa Pos Salman Muhiddin (kiri) dan fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang Jumat (5/5) di halaman rumah Desa Diponggo, Bawean, Gresik. - Image

TOKOH: Muhammad Salim diapit wartawan Jawa Pos Salman Muhiddin (kiri) dan fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang Jumat (5/5) di halaman rumah Desa Diponggo, Bawean, Gresik.


Kopral Dua Korps Komando Operasi (KKO) Anumerta Harun Tahir jadi pahlawan kebanggaan Bawean. Namanya diabadikan sebagai KRI Usman-Harun dan Lapangan Terbang Harun Tahir Bawean. Dia gugur di tiang gantung Singapura setelah mengemban misi konfrontasi Indonesia-Malaysia yang memanas.





SALMAN MUHIDDIN





IBUNDAKU yang dikasihani, surat ini berupa surat terakhir dari Ananda Tohir. Ibunda, sewaktu Ananda menulis surat ini hanya tinggal beberapa waktu saja Ananda dapat melihat dunia yang fana ini.



Pada tanggal 14 Oktober 1968, rayuan ampun perkara Ananda kepada Presiden Singapura ditolak. Jadi, mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. Hukuman yang akan diterima oleh Ananda adalah hukuman digantung sampai mati. Di sini Ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah rida siapa yang boleh menentukan, satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Mahakuasa.



Dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini akan kembali kepada Ilahi. Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan Ananda selama ini. Sudilah Ibundaku menerima ampun dan salam sembah sujud dari Ananda yang terakhir ini, tolong sampaikan salam kasih mesra Ananda kepada seisi kaum keluarga.



Ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan selamat tinggal untuk selama-lamanya, Amin.



Itu adalah isi surat terakhir Tahir bin Mahdar yang ditulis untuk sang ibu, Aswiyani. Dia menulis surat tersebut di penjara Changi tiga hari sebelum dieksekusi. Tangis ibunya pecah. Tak pernah terbayang putra ketiganya gugur dengan cara itu. ”Shock. Sampai Embah bilang, jangan sampai anak cucunya jadi tentara lagi,” ujar keponakan Tahir, Muhammad Salim, di rumahnya di Desa Diponggo, Bawean, Jumat (5/5).



Wajar bila Aswiyani bilang begitu. Emosinya saat itu sedang memuncak. Dia tidak tahu bahwa Tahir menjadi tentara. Dia hanya pamit bekerja sebagai mualim pelayaran. Sebagai orang Bawean, merantau memang sudah menjadi pilihan hidup.



Tahir menjadi satu di antara tiga prajurit pilihan yang mendapat tugas misi balas dendam. Misi pengeboman di Singapura dilakukan atas balasan serangan speedboat milik tentara Indonesia oleh kapal penyapu ranjau yang tergabung dalam South Asia Treaty Organization (SEATO), Desember 1964.



Kala itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia memanas saat Persekutuan Tanah Melayu hendak menggabungkan Brunei Darussalam, Sabah, dan Sarawak ke Federasi Malaysia. Hal tersebut tidak sesuai dengan Persetujuan Manila yang ditandatangani pada 5 Agustus 1963.



Karena kejadian itu, pemerintah Singapura dan Malaysia menganggap dua prajurit tersebut sebagai teroris. Namun, di mata Indonesia, keduanya adalah pahlawan. Jasadnya disambut besar-besaran pada 17 Oktober 1968. Keduanya lalu dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.



Pada 1966, semasa kepemimpinan Presiden Soeharto, ketegangan antarnegara tetangga itu mereda. Soeharto menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur.



Seiring berjalannya waktu, keluarga mengikhlaskan kepergian Tahir. Dia gugur membawa nama baik keluarga dan berjasa bagi negara.



Salim tidak pernah bertemu sosok Tahir. Dia baru lahir dua tahun setelah pamannya itu dieksekusi. Ibu Salim, Asiyah, adalah adik Tahir. Dia banyak menceritakan bagaimana nakalnya Tahir saat masih bocah hingga remaja.



Tahir kecil paling sulit disuruh mengaji. Padahal, jarak masjid dengan rumah sangat dekat. Bila sudah ngamuk, dia bersembunyi di kuburan di atas bukit. Bahkan, sampai bermalam di sana. Dia memang dikenal sebagai bocah yang tak kenal takut. Mungkin karena jiwa pemberani itulah, Tahir pantang mundur saat ditunjuk sebagai tim khusus untuk melaksanakan misi pengeboman di Singapura pada 10 Maret 1965.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore