
DILINDUNGI: Tim BPSMP Sangiran bersama warga memberikan cairan kimia agar fosil gajah purba di Desa Banjarejo, Grobogan, tidak cepat rusak.
Fosil gajah purba ternyata tidak hanya terdapat di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Warga di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jateng, juga menemukan fosil stegodon itu. Warga merawatnya seperti arkeolog bekerja.
INTAN M. SABRINA, Grobogan
SITUS purbakala dan fosil binatang purba kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Situs itu mirip dengan yang ditemukan di Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Di antaranya berupa fosil gajah purba.
Padahal, Desa Banjarejo tidak berbatasan langsung dengan Desa Terban. Keduanya dipisahkan jarak ratusan kilometer. Malah, Desa Banjarejo lebih dekat ke wilayah Jawa Timur daripada ke wilayah Jawa Tengah. Entahlah kok bisa begitu.
Yang jelas, berdasar catatan sejarah lama, Desa Banjarejo ditengarai dulu menjadi habitat bagi hewan-hewan purbakala. Di sana juga berkembang peradaban Hindu-Buddha. Hal tersebut terlihat dari temuan-temuan situs yang bertebaran di desa itu. Sejauh ini, warga berhasil mengamankan sedikitnya 1.100 patahan fosil dari 15 jenis hewan purbakala seperti gajah, kuda nil, badak, rusa, serigala, kura-kura, buaya, siput, kerang, kerbau, dan sebagainya.
Warga juga menemukan benda-benda peninggalan zaman kerajaan. Di antaranya berupa perhiasaan, koin kuno, guci, lumpang batu, yoni, dan lesung. Benda-benda artefak itu kini diamankan dan dipajang di Museum Desa Banjarejo (Rumah Fosil Banjarejo). Namun, belum diketahui secara pasti, di zaman kerajaan apa benda-benda bersejarah itu dulu dipakai.
Selain benda-benda purbakala, warga menemukan fondasi bangunan dengan struktur batu bata yang berukuran besar (40 x 20 x 9 cm). Fondasi bangunan itu tersusun rapi terpendam di tengah area persawahan.
Terbaru, Kamis lalu (8/6) masyarakat Banjarejo kembali dihebohkan dengan temuan fosil gajah purba atau Stegodon yang nyaris utuh. Fosil itu ditemukan secara tidak sengaja oleh Rusdi, 65, warga Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. Awalnya Rusdi hendak membuat sumur resapan untuk menyiram tanaman jagung di tegalan. Saat penggalian menyentuh kedalaman 1 meter, Rusdi melihat ada material seperti batu berwarna putih yang ”mencurigakan”. Sontak dia menghentikan penggalian dan melapor ke Komunitas Peduli Fosil Banjarejo. Komunitas itu dibentuk untuk mewadahi laporan warga terkait adanya situs-situs purbakala yang bertebaran di desa tersebut.
’’Saya bersama tim langsung menuju ke lokasi untuk melihat temuan tersebut. Ternyata batu fosil itu bersedimen putih atau kapur. Bahkan, ada sedikit bagian yang mengelupas yang memperlihatkan fosil binatang,” ujar Ketua Komunitas Peduli Fosil Banjarejo Budi Setyo Utomo kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, fosil itu mulai menunjukkan bentuk menyerupai kerangka gajah purba. Budi lantas menghubungi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk mengonfirmasi atas temuan besar tersebut. Dari situ, diputuskanlah untuk memperluas dan memperdalam penggalian dengan mengikuti arah batu fosil hingga kedalaman 2 meter.
Benar saja. Bentuk fosil yang ditemukan makin jelas. Tim mengidentifikasi temuan pertama mereka sebagai fragmen kaki (gajah) bagian depan. Temuan kedua berupa sepasang gading. Lalu, bagian-bagian tubuh lainnya bermunculan. Hingga hari keenam pencarian, hampir seluruh organ tubuh binatang raksasa itu bisa terlihat jelas. ’’Hanya kepala gajah dan belalainya yang belum ditemukan,” paparnya.
Dari bagian-bagian yang ditemukan tersebut, memang belum bisa dikonstruksi secara lengkap tubuh gajah purba itu. Namun, para arkeolog sudah bisa mengetahui panjang gading yang mencapai 4 meter dan kaki belakang bagian bawah sekitar 1,3 meter.
’’Kami masih berusaha menggali dan menemukan bagian-bagian tubuh yang lain. Kami berusaha merekonstruksi kerangka tubuh hewan ini hingga mendekati utuh,’’ ujar Budi.
’’Menurut tim ahli, penemuan ini hebat karena di Indonesia baru ada tiga tempat yang berhasil menemukan fosil sejenis yang hampir utuh. Yakni, di Blora, Patiayam Kudus, dan kali ini di Grobogan,” tambah dia.
Stegodon tersebut diperkirakan hidup 1,2 juta tahun silam. Kesimpulan itu berdasar hasil penelitian tim atas tanah di sekitar penemuan fosil. Yang mengherankan para arkeolog, biasanya hewan purba hanya hidup di tanah yang berendap. Namun, di Banjarejo yang tanahnya mengandung lumpur karbonat, hewan-hewan itu tetap bisa hidup dan berkembang.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
