
BELAJAR OLAH VOKAL: Mozes Petta (kiri) pada Minggu (30/4) melatih paduan suara PSAS.
Paduan Suara Pemkab Sidoarjo mulai unjuk gigi. Grup vokal yang beranggota PNS pemkab itu tahun ini berhasil menyabet juara harapan pertama lomba paduan suara Korpri se-Jatim. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran besar sang pelatih, Mozes Petta.
ARISKI PRASETYO HADI
IBADAH Minggu pagi (30/4) di Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Bethesda lain dari biasanya. Setelah acara kebaktian, sejumlah jemaat tidak langsung meninggalkan gereja. Mereka sibuk mengatur barisan di depan podium.
Di atas panggung, terlihat sekitar 30 anak yang berdiri. Mereka berderet rapi, memanjang ke samping. Mayoritas adalah perempuan. Anak-anak itu terlihat kompak lantaran mengenakan pakaian serbakuning emas. Di bagian tengah berdiri seorang yang berbaju merah marun.
Setiap anak yang berdiri di atas podium tersebut membawa sebuah piala. Senyum kegembiraan dan kebanggaan tampak dari wajah mereka. Di depan barisan, orang tua dari 30 anak itu berusaha mendapatkan spot terbaik. Dengan menggunakan kamera smartphone, mereka berlomba mengabadikan momen yang membanggakan tersebut. ”Ayo sekarang ya, satu...dua ...tiga,” ucap salah satu orang tua sebagai aba-aba memotret.
Proses pemotretan selesai. Satu per satu siswa itu turun dari panggung, tetapi tidak lantas menuju ke orang tua, lalu pulang. Mereka menyempatkan terlebih dulu menyalami orang di barisan tengah tersebut. Ucapan selamat mengalir. ”Terus belajar ya,” balas orang itu setelah mendapatkan ucapan selamat.
Keluar dari gereja, orang berbaju merah marun tersebut kembali sibuk. Dia harus melayani jabat tangan jemaat gereja yang menyampaikan ucapan selamat. Satu per satu orang bergiliran menyalaminya.
Ya, para orang tua dan jemaat patut memberikan ucapan selamat. Sebab, paduan suara Bethesda Children Choir (BCC) berhasil menyabet posisi runner-up lomba paduan suara gerejawi (pesparawi) nasional pada Maret lalu. Prestasi itu dicapai berkat orang berbaju merah marun tersebut. Namanya adalah Mozes Petta.
Mozes adalah pelatih paduan suara. Di Jatim, dia adalah empunya paduan suara. Banyak grup vokal yang sudah ditangani. Mayoritas menorehkan pretasi yang melejit. Misalnya, grup Paduan Suara Anak Surabaya (PSAS). Pada 2012 dia berhasil mengantar grup tersebut menyabet medali emas di ajang XingHai Price International Choir di Guangzhou, Tiongkok. Yang terbaru, dia mengantarkan BCC berprestasi.
Perjalanan Mozes menjadi pelatih paduan suara tidaklah mulus. Bahkan, cobaan juga datang dari internal keluarganya. Namun, dengan keyakinan dan kerja keras, pria asal Ambon itu menjadi salah seorang pelatih tenar paduan suara.
Bakat bermusik pria berusia 45 tahun tersebut terlihat sejak kecil. Lagu-lagu pop sudah menjadi makanannya setiap hari. Penyebabnya, ayah dan kakeknya bekerja di bidang musik. ”Ayah saya pelatih paduan suara, sedangkan kakek adalah komposer musik,” ujarnya.
Kemampuannya semakin terasah saat dia menginjak bangku perkuliahan. Saat itu dia melanjutkan studi di Universitas 17 Agustus Surabaya. Mozes muda bersama teman seangkatannya mmbentuk sebuah grup band. ”Namanya, Untag Band,” jelasnya.
Karena suaranya lebih merdu ketimbang rekan-rekannya, Mozes didapuk menjadi vokalis. Mereka membawakan lagu-lagu pop yang dulu digandrungi banyak orang. Antara lain, lagu-lagu Broery Marantika dan Chrisye. Nama band kampus itu pun langsung melambung. Grup itu mendapatkan banyak undangan tampil di festival beberapa kampus. Nama Mozes pun terkenal.
Pada 1993 dia memutuskan keluar dari band. Alasannya cukup unik. Yaitu, dia tertarik masuk ke paduan suara di kampusnya. Meski keputusannya kontroversial, suami Olga Olivia itu mempunyai pendapat sendiri. Dia menyatakan, paduan suara lebih dalam mempelajari musik. Selain itu, orang yang masuk grup paduan suara dapat belajar olah vokal. ”Sehingga suaranya jauh lebih bagus,” ungkapnya.
Setahun kemudian, Mozes kali pertama mengikuti festival paduan suara. Saat itu lomba paduan suara mahasiswa diadakan di Malang. Pada kesempatan tersebut, mereka hanya menyabet juara harapan pertama. Prestasi yang tidak moncer itu menjadi pelecut semangat Mozes untuk semakin mendalami paduan suara.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
