
DESTINASI: Kapal perang tak sekadar dibuat patroli. Tetapi juga menjadi destinasi wisata sekaligus untuk menyosialisasikan mengenai kerja TNI-AL.
Kapal perang tidak selalu memunculkan kesan seram. Alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI-AL itu juga bisa menjadi destinasi wisata dan menghibur pengunjung.
THORIQ S. KARIM, Surabaya
MENAKJUBKAN. Kalimat itulah yang muncul di benak rombongan alumnus SMA 1 Madiun angkatan 1968. Bisa jadi, mereka baru kali pertama melihat lebih dekat kapal perang TNI-AL.
Wajar jika banyak orang yang menggelengkan kepala saat memasuki ruang anjungan. Banyak yang berfoto saat melihat persenjataan di kapal tersebut. Banyak pula yang menanyakan fungsi perangkat yang ada di kapal itu.
Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Dados Raino tak bosan menjawab pertanyaan pengunjung. Di antaranya, fungsi anjungan, senjata apa saja yang dimiliki kapal tersebut, serta kecepatan dan daya jelajah kapal buatan Inggris itu.
Dados menjawabnya dengan detail selayaknya tour guide yang menjelaskan sejarah tempat wisata.
Selain itu, Dados bersama jajarannya dengan telaten mengajak 70 orang tersebut berkeliling. Tak jarang, Dados harus memapah pengunjung saat naik maupun turun tangga. Maklum, mereka termasuk sepuh.
Bahkan, ada salah seorang purnawirawan TNI-AL dengan pangkat terakhir laksamana muda (bintang dua).
Sikap telaten dan perhatian yang ditunjukkan Dados beserta jajarannya menghilangkan kesan seram di kapal itu. Rombongan cukup kerasan berada di kapal yang memiliki panjang 899 meter dan lebar 95 meter tersebut. Meski ngos-ngosan, mereka menjelajahi ruangan dengan semangat.
’’Pengalaman pertama dan luar biasa,’’ kata dr Pranawa, salah seorang anggota rombongan. Dokter spesialis ginjal itu kagum dengan kapal yang bertugas di TNI-AL pada 2014 tersebut.
Selama ini, dia hanya melihat kapal perang melalui gambar atau televisi. Menurut dia, pengalamannya di kapal itu luar biasa. ’’Kami masuk dan mendapat penjelasan di setiap lini,’’ ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk bercerita. Baik untuk anak cucu maupun kolega. Tak semua orang pernah naik kapal perang. Tak semua orang tahu seperti apa kehidupan di dalam kapal. Tak semua orang paham sistem kerja di dalam kapal perang. ’’Sekarang, kami tahu dan bisa bercerita,’’ ucapnya.
Laksamana Muda TNI (Purn) Yayun Riyanto memahami kekaguman rekan-rekannya itu. Dia pun merasakan hal yang sama. Sangat bangga. Padahal, saat masih aktif di lingkungan TNI-AL, dia sering bersinggungan dengan kapal perang.
’’Tapi, saya tetap bangga. Inilah kebanggaan bangsa,’’ ujarnya. Kunjungan tersebut merupakan rangkaian acara reuni yang diselenggarakan alumni SMA 1 Madiun angkatan 1968. Biasanya, reuni identik dengan berlibur ke tempat wisata.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
