Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Oktober 2017 | 13.30 WIB

Terbangkan Kebanggaan di Puncak-Puncak Dunia

MELAWAN DINGIN: Yasak saat mendaki Denali pada Juni bersama tim Universitas Airlangga Surabaya. - Image

MELAWAN DINGIN: Yasak saat mendaki Denali pada Juni bersama tim Universitas Airlangga Surabaya.

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Tampaknya, istilah itu tak hanya berlaku bagi sesama manusia. Tapi juga manusia dengan alam. Misalnya yang dirasakan Yasak. Gunung selalu menjadi tempat ternyaman bagi alumnus Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut.


Antin Irsanti, Surabaya


’’JATUH cinta itu tidak dapat diungkapkan,’’ kata Yasak. Karena itulah, Yasak tak pernah bisa menolak tawaran untuk mendaki gunung. Setidaknya, dalam sebulan dia bisa dua kali menjelajah ketinggian ribuan kilometer di atas permukaan laut itu.


Berselang September–Oktober saja, dia sudah enam kali mendaki gunung. Perinciannya, 3 gunung di Bali, Pangandaran 2 kali, dan Penanggungan 1 kali.


Tapi, bukan itu prestasi terbesarnya. Anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut telah menaklukkan puncak Elbrus pada 2011, gunung setinggi 6.642 meter di atas permukaan laut (mdpl), tertinggi di Eropa. Tahun ini Yasak juga mendaki puncak Denali (6.190 mdpl), gunung tertinggi di Amerika Utara.


Dia juga menjadi konsultan dalam ekspedisi UKM Pecinta Alam Wanala Unair ke Aconcagua (6.960 mdpl). Bendera Merah Putih pun berkibar di puncak gunung yang masuk kategori tertinggi dunia tersebut.


Target selanjutnya adalah gunung yang paling ganas dan tertinggi di antara tujuh puncak dunia. Apa lagi kalau bukan Mount Everest atau yang disebut masyarakat Nepal sebagai Sagarmatha. Target itu akan dicapai pada 2020.


Sebagai pencinta gunung, tentu saja Yasak ingin bergabung dalam ekspedisi tersebut. Merasakan empasan angin di puncak tertinggi dunia merupakan candu. Biar nama Jatim dan Surabaya kian mendunia, katanya.


Tapi, bukan prestasi semata yang dikejar Yasak. Cinta itulah yang membawanya terus kembali. Bisa jadi awalnya bilang tidak. Tapi, tetap saja dia tak kuasa menolak untuk menjejakkan kaki di permukaan bumi yang menjulang tinggi itu.


Keresahan karena tak dapat bertemu sang ’’pujaan hati’’ sempat dirasakan Yasak ketika selesai menaklukkan puncak Denali. Pada Juni, jemari tangannya terkena radang dingin. Ujung jari yang beku itu membuatnya harus absen dari pendakian. Setidaknya selama empat bulan.


Tapi, bayang-bayang keindahan alam di puncak gunung terus menghantui. Tidak tahan, September lalu dia sudah mulai mendaki. ’’Kalau mulai dingin, tangan langsung dikempit ke perut atau ketiak,’’ ujarnya.


Yasak mulai mencintai gunung saat kelas VII SMP. Kala itu, sang ayah yang kali pertama mengenalkannya kepada gunung. ’’Bapak memang dulu suka naik gunung juga. Tapi sekarang sudah nggak,’’ katanya.


Hingga kelas VIII SMP, dia masih ditemani ayahnya saat mendaki. Baru setelah kelas IX SMP, dia berani naik gunung sendiri bersama teman-teman. Berkali-kali dia sudah mendaki Arjuna dan Welirang. Mungkin sudah lebih dari 20 kali.


Yasak pun sampai tak ingat gunung mana saja yang pernah didaki. Bisa jadi, penghobi fotografi itu pernah mendaki hampir semua gunung di Jawa, Bali, dan Lombok.


Karena itu, dibutuhkan waktu lama bagi pria tersebut untuk mengingat kenangan paling dahsyat saat mendaki gunung. Semakin lama dipikir, dia juga tak ingat. ’’Bingung yang mana,’’ jelasnya dengan tawa berderai.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore