Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Januari 2025 | 00.04 WIB

TikToker Elsa Novia Beberkan Sejumlah Tradisi Imlek Sekaligus Makna dan Filosofinya

Elsa Novia Sena. (Istimewa) - Image

Elsa Novia Sena. (Istimewa)

JawaPos.com–TikToker Elsa Novia Sena termasuk salah satu konten kreator yang membuat konten-konten untuk tujuan memberikan edukasi budaya tentang tradisi Tionghoa termasuk tradisi Imlek. Dia pun mengungkapkan sejumlah tradisi Imlek yang mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum.

Konten Kreator asal Tangerang ini mengajak kita untuk menyelami tentang sejarah, tradisi, dan budaya, yang merupakan kepercayaan peranakan Tionghoa-Indonesia melalui sejumlah konten. Tak hanya itu, pemilik akun TikTok @elsa.novias itu juga mengajak untuk menyelami makna dan filosofi dari tradisi Tionghoa.

”Saya senang tidak hanya dapat memperkenalkan budaya dan tradisi Tionghoa, tapi juga menunjukkan bahwa suku Tionghoa bukan pendatang baru karena kami pun ikut berkontribusi dalam sejarah, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Elsa.

Berikut sejumlah tradisi Imlek yang biasa dilakukan komunitas Tionghoa menurut Elsa Novia.

  1. Tahun Baru Imlek: Hidangan hingga Aktivitas Wajib untuk Undang Keberuntungan

Untuk merayakan tahun baru menurut kalender Tionghoa, komunitas Tionghoa di Indonesia biasanya sibuk mempersiapkan berbagai hidangan yang wajib disajikan saat Imlek ketika berkumpul bersama keluarga. Tidak hanya nikmat, berbagai hidangan yang disajikan tersebut ternyata juga punya makna khusus.

Pada salah satu kontennya, Elsa Novia menjelaskan berbagai makna di balik hidangan khas Imlek. Mulai dari lapis legit yang melambangkan rezeki yang berlapis-lapis, manisan segi delapan di mana angka delapan melambangkan rezeki, keberuntungan, dan keutuhan yang tidak pernah putus, hingga jeruk Mandarin yang warnanya menyerupai emas melambangkan rejeki melimpah.

Selain hidangan yang lezat, ternyata ada juga beberapa aktivitas yang dilarang saat Imlek. Misalnya, mengenakan pakaian warna hitam dan putih yang melambangkan duka, menyapu atau keramas saat Imlek yang dianggap 'membersihkan keberuntungan', dan bersedih saat Imlek karena dipercaya akan mendatangkan kesedihan sepanjang tahun.

  1. Cap Go Meh: Arak-arakan Keliling Kota untuk Usir Kesialan

Setelah hari Imlek usai, bukan berarti perayaan awal tahun di kalender Tionghoa lantas berakhir. Setiap hari ke-15 setelah Imlek, masyarakat Tionghoa akan merayakan Cap Go Meh. Sebuah perayaan puncak dari tahun baru Imlek. Biasanya perayaan ini dilakukan dengan cara melakukan arak-arakan meriah di sepanjang jalan, festival lampion, serta pertunjukan Barongsai yang menandakan kesuksesan, keberuntungan, dan pengusir hal-hal buruk.

Elsa bercerita, di Indonesia, Cap Go Meh juga dirayakan dengan meriah oleh masyarakat Tionghoa di beberapa daerah di Indonesia. Misalnya di Pontianak dan Singkawang. Perayaan ini dirayakan dengan pawai Tatung, sebutan untuk orang yang dirasuki roh leluhur, yang selanjutnya akan diarak mengelilingi kota dengan tujuan untuk menolak bala (kesialan).

Selain itu, mirip seperti Imlek, Cap Go Meh juga memiliki hidangan khas yaitu lontong Cap Go Meh, serta hidangan lain yang juga disantap saat Imlek seperti kue keranjang dan jeruk Mandarin.

  1. Tradisi Ceng Beng: Bakar Emas hingga Mobil Saat Ziarah

Dua bulan setelah peringatan Imlek, masyarakat Tionghoa-Indonesia biasanya akan merayakan Ceng Beng atau Qing Ming. Upacara tahunan etnis Tionghoa ini dilakukan dengan bersembahyang dan berziarah ke makam leluhur.

Menurut Elsa, tradisi Ceng Beng adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah mengajarkan kita untuk berbakti semasa hidup.

Elsa juga menjelaskan, sebelum Ceng Beng, biasanya masyarakat Tionghoa akan berziarah sekitar 10-14 hari untuk membersihkan makam leluhur. Sebagian orang juga bahkan lebih memilih untuk mudik saat Ceng Beng dibanding Imlek, sebab ziarah ini menunjukkan bakti mereka terhadap para leluhur.

Uniknya, sebelum mengunjungi makam leluhur, anggota keluarga biasanya akan menyiapkan beberapa benda termasuk dupa, lilin, dan seperangkat kebutuhan para leluhur seperti pakaian, uang, emas, HP, bahkan mobil. Jangan kaget, sebab tentunya benda-benda ini hanya simbolik yang terbuat dari kertas dan nantinya akan dibakar.

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para leluhur di akhirat. Ketika berziarah, para anggota keluarga akan membersihkan makam dan tak lupa menancapkan kertas tecua di atas tanah makam. Kertas tersebut menjadi penanda bahwa makam para leluhur telah dikunjungi oleh anak-cucu mereka.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore