
Ilustrasi bioskop. Antara
JawaPos.com–Penumpasan pemberontakan PKI pada 1965 adalah peristiwa masa lalu kelam yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia. Sejarah peristiwa 1965 menjadi film populer sekitar 1980-an.
Film G30S/PKI digarap sutradara Arifin C. Noer dengan sumber sejarah resmi karya Nugroho Notosusanto. Berikut rekomendasi film populer dan dokumenter dengan latar 1965.
Adalah film dokudrama tentang Soe Hok Gie besutan Riri Riza pada 2005. Digarap berdasar buku Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Gie secara khusus mengangkat asal-usul pemicu demonstrasi besar Angkatan 66 Universitas Indonesia (UI) pada 1966. Film Gie melibatkan banyak artis besar antara lain Nicholas Saputra, Wulan Guritno, Sita Nursanti, Lukman Sardi, Indra Birowo, Happy Salma, Robby Tumewu, dan lain-lain.
Film dokumenter besutan Josua Oppenheimer, Christine Cynn, dan sineas Indonesia (anonim). Berbeda dengan film tema 1965 pada umumnya, dokumenter ini menyoroti peristiwa 1965 secara partikular. Film ini mengambil konteks sejarah genosida 1965 di Kota Medan, Sumatera Utara.
Adalah film drama-roman dengan latar 1965 besutan Rako Prijanto. Film roman ini menceritakan dua pasang suami dan istri yakni Danti (Della Dartyan)-Sena (Revaldo), dan Lastri (Carmela van der Kruk)-Bayu (Adipati Dolken).
Adalah film horor besutan Hanung Bramantyo berlatar peristiwa genosida 1965. Film ini menceritakan majalah kampus Lentera Merah milik Universitas Negeri Indonesia (UNI). Film Lentera Merah diperankan Laudya Cynthia Bella, Dimas Beck, Indah Pelapory, Firrina Sinatrya, dan Teuku Wisnu.
Adalah web serial asli Netflix besutan sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah mengambil latar peristiwa 1965. Serial web ini dibuat berdasar novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Serial web ini juga melibatkan artis papan atas lainnya seperti Ine Febriyanti, Putri Marino, Winky Wiryawan, Tutie Kirana, Nungki Kusumastuti, dan artis besar lainnya.
Adalah film drama Indonesia dengan latar peristiwa 1965 besutan Ifa Isfansyah. Film diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sang Penari menceritakan romansa tragis antara pemuda desa dengan penari ronggeng baru di desa kecil yang dirundung kemiskinan, kelaparan dan kebodohan pada 1960-an.
Film ini melibatkan artis besar antara lain Prisia Nasution, Oka Antara, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo, Happy Salma, Landung Simatupang, dan artis besar lainnya.
Adalah film dokumenter yang mewawancarai para eksil Indonesia di Eropa. Dokumenter ini besutan Lola Amaria. Film ini mengikuti cerita kehidupan para pelajar Indonesia yang dikirim Sukarno untuk belajar di luar negeri. Namun, perubahan politik dari Demokrasi Terpimpin kepada Orde Baru menyebabkan mereka tidak bisa pulang ke tanah air karena kewarganegaraannya dicabut oleh rezim Soeharto.
Beberapa yang terlibat dalam film ini adalah Asahan Aidit, Sarmadji, Kuslan Budiman, Tom Iljas, Chalik Hamid, Hartoni Ubes, dan eksilis lainnya.
Adalah film drama Indonesia besutan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Film ini melibatkan artis Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto, dan Chicco Jerikho. Film mengambil latar konflik 1965.
Surat dari Praha menceritakan kisah para pelajar Indonesia di Praha, Ceko yang tidak bisa pulang karena perubahan politik dari Sukarno ke Soeharto. Film ini mencoba mengangkat cerita soal berdamai dengan masa lalu yang kelam dengan basis pembongkaran fakta secara komprehensif dan kasih. Surat dari Praha juga melibatkan Glenn Fredly dalam penggarapan Original Soundtrack (ost).
Adalah film dokumenter kedua besutan sutradara Josua Oppenheimer setelah Jagal (The Act of Killing). Senyap masih mengitari tema serupa dengan dokumenter pertama yaitu seputar pembunuhan massal di kota Medan, Sumatera Utara. Perbedaannya adalah pada dokumenter pertama Jagal (2012) cenderung menyoroti genosida 1965 dari perspektif pelaku genosida, sedangkan pada dokumenter kedua (2014) cenderung menyoroti peristiwa genosida dari perspektif korban 65. Suasana film ini cenderung mencekam. Film ini ditayangkan secara serentak pada hari Ham Internasional pada 10 Desember 2014.
Adalah film drama romantis dari Australia yang mengambil latar Indonesia pada tahun 1965. Film ini adalah besutan sutradara Peter Weir berdasar novel karya Christopher Koch dengan judul yang sama dengan film. Living Years Dangerously melibatkan artis papan atas seperti Mel Gibson, Linda Hunt, Mike Emperio, Sigourney Weaver dan lain-lain. Awalnya, film ini berencana mengambil Indonesia sebagai lokasi syuting, tetapi ditolak pemerintah sehingga lokasi syuting dipindahkan ke Filipina.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
