Ilusttrasi harga minyak dunia. (Pexels/Ganesh Ramsumair)
JawaPos.com - Pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar menilai, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia tengah mengamankan pasokan energi nasional dengan berkunjung ke Amerika Serikat dan Rusia.
Ary menyampaikan, saat ini kondisi global sedang dipenuhi ketidakpastian. Oleh karena itu, kedatangan Bahlil untuk mengamankan kondisi tersebut.
"Diplomasi yang dilakukan Menteri ESDM ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, merupakan langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial untuk mengamankan pasokan fisik atau supply security dan kepastian harga atau price stability," ujar Ary saat dihubungi, Jumat (9/10).
Di sisi lain, Bahlil juga berusaha meningkatkan lifting minyak nasional. Disertai dengan pengembangan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50. Pendekatan seperti ini bisa menjadi solusi masalah energi nasional.
"Kombinasi tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat dan komprehensif karena menyerang masalah dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan keran pasokan luar negeri dalam jangka pendek dan melepaskan ketergantungan melalui substitusi domestik dalam jangka menengah hingga panjang," jelasnya.
Meski begitu, Ary meminta kepada pemerintah untuk tetap mencari sumber minyak baru dengan keekonomian terbaik dari berbagai negara. Langkah tersebut penting untuk memastikan kilang domestik, seperti Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, tetap memperoleh pasokan bahan baku yang memadai.
Langkah ini perlu dibarengi percepatan modernisasi kilang dan pembenahan tata kelola hulu migas agar ketergantungan terhadap pasokan luar negeri terus berkurang.
Ia juga memandang integrasi kebijakan sektor ESDM dengan hilirisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia. Penyatuan koordinasi tersebut dinilai dapat mempercepat pengembangan industri pengolahan sumber daya alam, termasuk hilirisasi gas bumi dan batu bara menjadi produk bernilai tambah yang mampu mengurangi ketergantungan impor.
"Penyatuan portofolio sektor ESDM dan koordinasi hilirisasi di bawah satu komando merupakan langkah strategis yang tepat. Integrasi ini memastikan bahwa rantai nilai energi kita berjalan utuh, dari perut bumi dikelola, diolah di dalam negeri, hingga menjadi produk bernilai tambah tinggi," imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi. Ketidakpastian global yang saat ini melanda harus diantisipasi agar tidak berdampak ke dalam negeri.
“Saya ingin menekankan bahwa dalam kondisi geopolitik yang terjadi sekarang, yang tidak menentu, melahirkan ketidakpastian di hampir semua dunia. Dan geopolitik ini tidak hanya menjadi ketegangan antara Amerika, Israel, Palestina, Ukraina, dan Rusia,” kata Bahlil, Rabu (7/10).
Banyak perang di luar berdampak kepada Indonesia. Rantai pasok industri terutama minyak bisa terpengaruh.
“Bagaimana rantai pasok industri, bagaimana harga BBM-nya melambung, dan saya pun melakukan komunikasi lintas negara dengan kementerian-kementerian energi di dunia. Hampir dapat dipastikan tidak ada yang bisa menjawab kapan selesai persoalan yang terjadi. Tidak ada yang bisa meramalkan itu,” ucapnya.