Bus-bus di stasiun pengisian hidrogen di Pulau Jeju, Korea Selatan. (Kyodo)
JawaPos.com - Pulau Jeju di Korea Selatan mempercepat upaya mencapai netralitas karbon pada 2035 dengan mengandalkan energi terbarukan, kendaraan listrik, hidrogen, hingga pengolahan sampah menjadi listrik. Pulau wisata yang pernah mengalami pemadaman listrik total itu kini berupaya membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Dilansir dari Kyodo, Jumat (9/10), Jeju mulai mengejar kemandirian energi setelah mengalami pemadaman listrik total pada awal 2000-an akibat gangguan pada kabel bawah laut yang menghubungkan pulau tersebut dengan daratan utama Korea Selatan.
Kejadian itu mendorong pemerintah daerah mencari sumber energi alternatif. Angin dan sinar matahari kemudian menjadi andalan dalam program Carbon Free Island 2030 yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi berbasis karbon.
"Apa sumber daya yang paling mudah diakses di Jeju? Jawabannya adalah angin dan matahari. Pemanfaatan energi terbarukan secara lebih luas menjadi inti dari program Carbon Free Island 2030," kata Oh Gyeong Seop, Direktur Divisi Industri Energi Provinsi Jeju.
Setelah menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketidakstabilan jaringan listrik dan penyimpanan energi, pemerintah daerah memperluas target pada 2024. Jeju kini menargetkan netralitas karbon di seluruh sektor pada 2035.
Target tersebut mencakup produksi energi terbarukan sebesar 7 gigawatt dan hidrogen sebanyak 60.000 ton untuk mengimbangi emisi karbon sebesar 4,74 juta ton.
Data pemerintah daerah menunjukkan energi terbarukan menyumbang 24,3 persen pasokan listrik Jeju pada akhir 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi di Korea Selatan, jauh di atas porsi energi terbarukan secara nasional sebesar 10,6 persen pada 2024.
Kendaraan listrik mendominasi lebih cepat
Jeju juga memimpin adopsi kendaraan listrik (EV) di Korea Selatan. Kendaraan listrik mencakup 11,9 persen dari total kendaraan di pulau tersebut, hampir tiga kali lipat rata-rata nasional yang sebesar 4,1 persen.
Salah satu faktor pendukungnya adalah jaringan pengisian daya yang mencapai sekitar 28.000 titik. Sekitar 8.500 di antaranya merupakan fasilitas publik, sedangkan sisanya dimiliki pihak swasta.
Kim Deok Ho, pengemudi taksi berusia 73 tahun yang rutin mengantar wisatawan berkeliling Jeju, mengaku telah menggunakan kendaraan listrik selama lebih dari enam tahun.
Dia menyebut mobil listriknya sebagai "peralatan rumah tangga yang bisa berjalan", bukan sekadar mobil. Menurut Kim, biaya perawatannya hampir nol karena dia tidak perlu rutin mengganti oli mesin atau kampas rem seperti pada mobil konvensional.
"Dengan mobil listrik, yang perlu saya lakukan hanya mencolokkannya untuk mengisi daya pada akhir hari," katanya.
Kim menilai fasilitas pengisian daya di Jeju sudah tersedia di berbagai lokasi, mulai dari sekolah, kantor desa, tempat wisata, hingga area parkir. Pengemudi taksi seperti dirinya juga memasang pengisi daya pribadi di rumah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022